Kutunggu Kamu




Oleh: @DhoKudo
 Rabu, 14 Nopember 2012

aku masih heran
mengapa aku berhenti di hadapanmu
mengagumi lekuk dan bidang ragamu
padahal kamu sama
tidak ada beda

aku masih heran
mengapa bibir ini mendarat di bibirmu
padahal bibir itu tidaklah lebih manis
dari bibir-bibir sebelumnya

aku masih heran
mengapa tangan ini memeluk lekukmu
menelusuri bidangmu
padahal semuanya sama
bahkan tak ada yang spesial

aku masih heran
mengapa darah ini mendidih di sampingmu
menhantarkanku pada erotisme selanjutnya
membakar gairah
hingga pecah di ubun-ubun
tak kuasa menahan desakan kuat nun di sana

aku masih heran
mengapa kamu keluarkan dia
mengapa aku minum dia
mengapa kamu tanam dia
padahal itu adalah mereka
menjerit ataupun tidak
mereka bersarang di lambungku

aku masih heran
dengan segala yang terjadi
tidak ada yang spesial
cokelat berwarna coklat

Ketika hati enggan untuk berbicara, maka mata yang akan wakili ia. Bersua di lipatan hati yang temaram, bersama hangat, kasih, dan bibir.
Malam ini, aku enggan untuk memejamkan mata. Semua pikiranku, anganku, dan nafasku terfokus pada satu sosok. Entahlah mengapa harus selalu ia yang muncul. Padahal masih banyak sesuatu yang lain di bumi besar ini.
Aku melihat dia, lega dan tersenyumlah aku. Tak kulihat dia, kerut di keningku, khawatir menyerangku. Waktu itu,yang pertama sekali kucari setiap masuk asrama, tiap minggu, selalu dan selalu, selama satu tahun terakhir adalah dia.
Kucari sinar dari pancaran mata coklatnya. Mata itu begitu hidup. Sungguh aku ingin menguliti matanya dan kutaruh di dalam toples. Kusimpan atau kujadikan ia sebagai contact lens-ku. Bukan aku sadis, aku hanya ingin menyatu dengannya, bersenyawa dengan mata coklatnya. Aku jatuh cinta padanya.
Kerap kutolak hadir bayangnya, hanya saja berubah itu butuh perjuangan. Karena tidak mudah untuk keluar dari belenggu kebiasaan. Atau mungkin sulit untuk sekedar merangkak. Padahal ada cinta yang siap menanti siapa saja yang berhasil.
Bahkan hingga detik ini, tak pernah lepas hariku dari kilat-kilat bayangnya. Walau memang dia memberiku harap untuk wujudkan apa yang aku juga inginkan. Tapi aku juga manusia, yang punya ragu walau sekuat apapun nafsu untuk menguasai itu muncul.
Kembali aku berusaha untuk memejamkan mata ini, tetapi sangat sulit, dia masih saja muncul. Senyumnya begitu hidup di pikiranku. Padahal telah kubangun benteng kebencianku melebihi cintaku. Tapi tetap tak kuasa membentengi hadirnya dalam tiap tarikan nafasku. Aku masih kecil, tapi perasaan ini teramat kuat menerkamku. Besok, aku akan menjadi mahasiswa di kampus impianku, Universitas Sumatera Utara (USU). Bagiku, lebih dari sekedar impian untuk mewujudkan cita yang tertanam di tubuh USU. Tapi adalah cinta juga mengambil peranan penting dalam menentukan hadirku di sini.
Kulirik ke kanan, Bimbim telah tidur. Ke kiri , Ucok roommate-ku juga telah di telan mimpinya. Ingatanku tertuju pada satu waktu dilatarbelakangi cahaya temaram dari neon raksasa.
 Kubaca lirih materi biologi yang telah kucatat rapi. Besok ujian dan aku harus lulus. Sebenarnya malam itu penuh bintang, hanya saja pancaran neon menghalangi pandanganku ke langit. Ingin sekali aku melihat bintangku. Aku menyebutnya “kumpulan bintang yang tersenyum”.
Terus kubaca materi biologiku. Hingga kahirnya aku dikejutkan oleh pesawat kertas yang tiba-tiba mendarat tepat di depan tempatku lesehan. Deg deg… jantungku seakan berhenti sejenak, saat ku lihat tangan yang memungut pesawat kertas berwarna putih itu. Wajahnya pias, tidak mengundang cacian sedikitpun. Malah pujian yang pantas menyapanya.
“Di, lagi belajar buat persiapan ujian yah?” ia menyapa dengan suara dewinya. Jilbabnya berkibar dikibaskan dinginnya angin malam.
“Ia  neh kak, biologi pula, oh iya, itu pesawat punya kakak? Kok bisa nyampe sini?”
“Adi, ini pesawat spesial untuk orang yang spesial pula” jawabnya.
“pesawat spesial untuk orang yang spesial?.. hmm apa dia bang Yo kakak?” selidikku.
“Menurut kamu? “

“Menurut aku, pesawat itu untuk aku kakak, karena aku berharap akulah oraang yang spesial itu, seperti kakak yang sangat spesial di hidupku” jawabku dalam hati.

“Entahlah kakak, Adi mana tahu. Jadi buat siapa kakak?” cepat kucerca dia dengan pertanyaan yang sama.
“Pesawat kertas ini untuk dia yang di atas sana. Setiap malam kakak selalu berusaha menerbangkan pesawat kertas ini agar sampai ke tangannya. Padahal, aku yakin dia sedang tersenyum dan menatap aku seperti orang bodoh. Dia ada di sana, tidak berani mengungkapkan perasannya. Coba dia bilang, pasti aku langsung terima. Tega dia yah buat kakak menderita begini” jelasnya panjang lebar.
Aku hanya terdiam, sesekali mengangguk.sekedar member respon. Tapi sesungguhnya aku sedang kalut, karena seperti ada yang hilsng di hati ini.

“Siapa dia yang kakak maksud? Sudahkah ada yang menarik hatimu kakak?” kutanya lirih dalam hati.

“Adi, ada kalanya perasaan itu harus diungkapkan, agar dia tahu dan kamunya lega, begitulah kira-kira pola sederhananya” dia terus melanjutkan.
“Kak Suti juga cemas, dengan segala kebodohan dia tidak mengungkapan itu langsung kepada kakak. Hanya desas-desus yang sampai ke telinga kakak. Entahlah, apa kakak yang terlalu berlebihan menanggapi ini atau…”
“Atau kakak yang juga merasakan hal senada kepada dia” aku memotong dan melanjutkan pembicaraan kakak Suti, sang pemilik mata coklat.
“Mungkin juga iya, hanya saja dia terlalu takut untuk melangkah. Padahal sebentar lagi kakak akan tamat SMA” dia melanjutkan.
“Kakak, aku mohon diri, masih banyak materi yang harus aku kuasai agar  besok, ujianku sukses” segera aku meninggalkan dia, di bawah sinar temaram neon raksasa tanpa menunggu izin darinya lagi.
***
Hari ini adalah hari terakhirmu di sekolah ini kakak. Kamu akan pergi melanjutkan usahamu dalam meraih asamu. Menemukan pemilik pesawat kertas itu, dia yang spesial di hatimu. Bukan aku yang menspesialkan dirimu di hatiku. Berat memang kakak untuk menerima kenyataan ini. Tapi sebagai seorang laki-laki, aku bahagia asal kakak juga bahagia. Walau bersama dia, bukan denganku.

Di depan gerbang sekolah

“Adi, kakak belumlah menemukan orang spesial itu, semua itu masih dalam angan kakak. Mampukah kamu menjadi orang yang spesial itu? Jadilah dewasa, beranilah untuk menngkap tadirmu. Kamu kecil, tapi rasa yang kamu tanamkan besar. Kutunggu kamu di kampus USU”.

Comments