Jalan Lurus
@DhoKudo
(Versi Panjang)
Sebenarnya, semua tubuh kita memiliki fungsi yang sama. Tak
memiliki perbedaan yang jauh satu sama lain. Namun pengkhususan pada bagian-bagian tertentu menyebabkan satu
bagian menghianati kesamaan satu sama lainnya. Memberontak dan ingin menonjol
dari yang lain. Hingga manusia pintar pun membaginya agar mudah dipelajari, mana
kepala, mana kelamin, dan mana mulutmu. Sesungguhnya, sel-sel mulutmu murtad.
Ia menghianati hati. Namun ia berdekatan bentuk dan satu keluarga dengan sel
ususmu. Namun, apa yang salah dari murtad? Bukankankah layaknya alam yang
selalu menuju keseimbangan, semisal petir yang sambar-menyambar menyelaraskan
bopeng-bopeng alam, maka sel pun begitu. Ia berbentuk dan berfungsi khusus demi
menjaga kesimbangan biologis manusia. Kodrat, wajar saja jika manusia itu berubah. Dan apa yang salah dari murtad?
“Pergilah, apa kamu tidak mendengar desas-desus yang berkembang?
Bapak tidak ingin semua hal yang kita lakukan dianggap menyalahi,”. Matanya
bergetar, menatap nanar ke depan. Tak melihatku yang serius menjilati setiap
huruf yang keluar dari mulutnya.
“Tapi Pak, apa yang salah?”
“Tak ada yang salah, orang-orang hanya belum bisa menerima. Takut.
Pergilah,”. Ia kemudian memunggungiku. Sekilas kutangkap gurat cemas di
wajahnya yang sehitam minyak kopra.
Desas-desus. Paduan kata berulang yang sungguh selalu menghantarkan
pada kejelekan sifat. Menurut pendapat umum. Selalu dilihat dari pendapat umum,
bukan bagaimana seharusnya terjadi, atau lebih baik mana yang sekarang atau
rupa yang baru. Maka desas-desus selalu berujung pada ketakutan bagi mereka
yang menjadi aktor di dalamnya.
“Picik sekali mereka. Apa hak mereka melarang-larang saya, Pak,”
aku malah semakin tak habis pikir mengapa hal-hal sederhana seperti ini menjadi
pembahasan serius bagi mereka. Aku hanya ingin belajar. Sejauh ini tak lebih.
Tapi mulut mereka sudah berkata sangat jauh ke depan. Jauh sekali. Berlebihan
dan terlalu banyak menduga.
“Kau ingat apa fungsi tanda kurung dalam sebuah operasi matematika?,”
pemuda dengan wajah berwarna kopra itu malah menanyaiku. Tidak tepat saatnya
membahas hal-hal seperti itu. Sekarang adalah bagaimana agar aku bisa tetap
belajar tanpa diusik mereka di luar sana. Sirik!
“Yang di dalam kurung lebih dahulu dikerjakan,Pak, “ aku justru
menimpalinya.
“Prioritas namanya. Pun mereka yang mencibirmu. Kau adalah bagian
dari mereka. Prioritas mereka. Maka, wajar apabila mereka mengkhawatirkanmu.
Tapi satu hal, tanyakan hatimu. Ia tak akan pernah berdusta, kecuali kau sudah
tak memiliki hati atau tak pernah kau rawat ia. Pergilah!” ia tetap tak
menatapku. Aku tak mengerti apa maksudnya. Aku lantas keluar saja dari
ruangannya. Dengan banyak kekesalan dan penyangkalan dalam hati
***.
“Panggil Bayo. Suruh menghadap saya!” Bu Mega menunjuk seorang murid
untuk mengabulkan pintanya. Perempuan gendut itu selalu begitu. Jika ada yang
tak sesuai dengan yang ia inginkan, maka ia selalu memanggil siapapun untuk
menghadapnya. Selalu memerintah, dan sarat akan ungkapan murka. Padahal
jilbabnya berkibar-kibar. “Seharusnya hatimu yang kau jilbabi,” sering
murid-murid berbicara di belakannya. Tentu saja tanpa sepengetahuan Kepala
Sekolah kami itu.
Sejurus kemudian, aku datang. Mengenakan baju koko, kain sarung
bergambar gajah gendut macam dia, kopiah rajut berwarna putih, dan sendal
jepit. Semua putih. Paduan yang sangat suci.
“Apa yang kamu lakukan. Sudah tak ada lagikah malumu. Apa benar
desas-desus yang berkebang itu. Memalukan. Kau melecehkan semua harkat dan
martabat golongan kita di bumi ini,” Ia menunjuk-nunjukkan telunjuknya padaku.
Apa dia bilang, merendahkan harkat dan martabat semua manusia golongan kami di
muka bumi ini? Golongan apa pula? Dan bagaimana pula ceritanya? Apa kubilang, desas-desus
sangat berbahaya. Bahkan mampu memutar haluan suatu negara.
Kau ingat peristiwa 11 Sepetember 2001, saat menara WTC dibuat
macam istana pasir. Dihancurkan. Seluruh dunia turut berduka. Harga saham
anjlok. Desas-desus pula yang menyebabkan harga minyak tiba-tiba meroket tajam.
Sebab Timur Tengah ditengarai menjadi dalang pemboman itu, Alqaeda. Desas-desus
itu pula yang menyebabkan dunia siaga satu. Dimana ada pria berjenggot dan
nama-nama semacam Muhammad, Ibrahim, dan mereka yang menyematkan ibn di namanya harus ekstra sabar saat
bepergian kemanapun. Dicurigai dan diintrogasi ekstra. Jangan-jangan dia
jaringan Alqaeda.
Aku hanya diam tertunduk. Tetap tak mengerti apa salahku. Aku hanya
ingin mempelajari sesuatu yang baru. Kemudian bertanya kepada satu-satunya
orang dalam artian guru yang bisa kutanyai haldemikian di sekolah ini. Tak
salah kan jika bertanya? Tak akan tersesat bukan jika bertanya? Tapi semua
begitu memandang ini secara berlebihan. Aneh!
“Kau akan tersesat,” Bu Mega semakin menyudutkanku. Ia cepat sekali
mengambil kesimpulan. Apakah semua Kepala Sekolah seperti dia? Belum tau secara
detail apa yang terjadi namun sudah bisa menuduh.
“Sudah seberapa jauh kamu bertanya sama dia? Apa kau sudah
diajarinya menyembah-nyembah? Memalukan. Dosa besar,” Matanya nyaris keluar.
Lebar sekali membukanya. Ia kemudian
berdiri mengambil secarik kertas
kemudian menandatanganinya.
“Orang tua mu akan saya panggil.Ini sudah
di luar kendali.Kamu betul-betul dalam masalah besar anak muda,” Ia kemudian
membubuhkan cap berwarna biru. Sebagai syarat administratif. Basa-basi dunia.
Darah dalam tubuhku kurasa bergejolak.
Saatnya aku bicara. Tak peduli surat pemanggilan orang tua sudah di tangan.
Semua ini tentang hak mendapat kansesuatu, mengetahui sesuatu. Ini adalah ilmu
pengetahuan. Pun jika nyatanya mereka lebih benar, apa salah yang kulakukan.
Berpihak pada kebenaran yang lebih benar.
“Satu hal Bu. Satu alasan saja yang masuk
akal mengapa aku salah. Kumohon ibu bisa menjelaskan!”. Tak sanggup lagi aku
menahan onak dalam hati ini. Sama halnya dengan alasanku tadi, jika penjelasan
ibu gendut yang terhormat ini sangat masuk akal, aku turuti dia. Menyerah.Jika
tidak, tentu hal sebaliknya yang kulakukan.
“Kamu dari golongan kita, sejak lahir.
Orang tuamu, kakek nenekmu, buyutmu pun sama. Menurut kepada ajaran turun
temurun. Ajaran samawi yang paling benar. Murni tanpa campur tangan manusia.
Kini kau membelot…”
Aku lantas memotongnya. “Aku tak membelot,
aku hanya bertanya. Bertanya sesuatu yang belum kuketahui. Sesuatu di luar zona
amanku,” bibirku bergetar mengatakan itu. Kutundukkan mataku. Tetap kutaruh
hormat pada beliau yang gendut.
“Bertanya kepada mereka di luar golongan
kita, berarti meragukan apa yang kita anut. Yang bapakmu dan kamu anut
turun-menurun. Ajaran yang benar,” kini suaranya kembali meninggi. Lebih tinggi
lagi.
“Turun menurun, itu bukan iman. Iman itu
dicari. Bukan diwariskan. Pun jika aku dalam situasi pencarian, tak masalah
bukan,” kini kuberanikan menatap matanya.
“Astagfirulloh, apa yang sudah
didoktrin Pak Bonar padamu,” kulihat tangannya mulai mengepal.
“Inilah salahnya, terlalu cepat
menyimpulkan. Belum juga ditanyai dengan jelas. Bapak Ibu Dewan Guru sudah
menuduh yang tidak-tidak. Aku yang bertanya. Pak Bonar hanya menjawab. Tak
lebih,” suaraku pun meninggi. Hampir lupa aku siapa yang tengah kuhadapi.
“Astagfirulloh, lancang benar kamu
Bayo. Dia itu misionaris. Kamu bisa murtad. Bahaya!”
***
Esoknya, orang tuaku datang ke sekolah. Aku
diliburkan dari sekolah itu. Awalnya seminggu. Namun, orang tuaku minta untuk
selamanya. Aku pindah sekolah. Pak Bonar? Dia dicopot sebagai guru Matematika.
Padahal otaknya encer, mengajar juga menyenangkan. Semua guru sepakat
mengeluarkannya dari sekolah. Dengan keluarnya beliau, maka habislah
satu-satunya guru dengan agama berbeda di sekolah itu. Selebihnya aku tak tahu.
Cogito Ergo Sum.
Malam ini, aku duduk tepakur di atas rumput
halaman samping kamarku. Di bawah sebuah plang tua berwarna-warni, hijau.
Kupandangi bintang yang muncul satu-satu.Seolah semua kejadian silam terpampang
lagi di sana. Di putarulang. “Bayo, ayo solat Tarawih. Malam ini giliranmu jadi
badal,” kakak asuhku tiba-tiba menghampiri dan menarik tanganku. Kemudian ia
melihat gambar di bagian dalam tangan kiriku.“Hapus gambar salib itu! Nanti
dilihat orang,” ia berkata sambil berlalu. Aku mengekor jalannya. Meninggalkan
plang bertuliskan nama pesantren, sekolah baruku.
(Versi Pendek)
Sebenarnya, semua
tubuh kita memiliki fungsi yang sama. Tak memiliki perbedaan yang jauh satu sama lain. Namun pengkhususan pada bagian-bagian tertentu menyebabkan satu
bagian menghianati kesamaan satu sama lainnya. Memberontak dan ingin menonjol
dari yang lain. Hingga manusia pintar pun membaginya agar mudah dipelajari, mana
kepala, mana kelamin, dan mana mulutmu. Sesungguhnya, sel-sel mulutmu murtad.
Ia menghianati hati. Namun ia berdekatan bentuk dan satu keluarga dengan sel
ususmu. Namun, apa yang salah dari murtad? Bukankankah layaknya alam yang
selalu menuju keseimbangan, semisal petir yang sambar-menyambar menyelaraskan
bopeng-bopeng alam, maka sel pun begitu. Ia berbentuk dan berfungsi khusus demi
menjaga kesimbangan biologis manusia. Kodrat, wajar saja jika manusia itu berubah. Dan apa yang salah dari murtad?
“Pergilah, apa kamu
tidak mendengar desas-desus yang berkembang? Bapak tidak ingin semua hal yang
kita lakukan dianggap menyalahi,”. Matanya bergetar, menatap nanar ke depan.
Tak melihatku yang serius menjilati setiap huruf yang keluar dari mulutnya.
“Tapi Pak, apa yang
salah?”
“Tak ada yang salah,
orang-orang hanya belum bisa menerima. Takut. Pergilah,”. Ia kemudian
memunggungiku. Sekilas kutangkap gurat cemas di wajahnya yang sehitam minyak
kopra.
“Picik sekali
mereka. Apa hak mereka melarang-larang saya, Pak,” aku malah semakin tak habis
pikir mengapa hal-hal sederhana seperti ini menjadi pembahasan serius bagi
mereka. Aku hanya ingin belajar. Sejauh ini tak lebih. Tapi mulut mereka sudah
berkata sangat jauh ke depan. Jauh sekali. Berlebihan dan terlalu banyak
menduga.
“Kau ingat apa
fungsi tanda kurung dalam sebuah operasi matematika?,” pemuda dengan wajah
berwarna kopra itu malah menanyaiku. Tidak tepat saatnya membahas hal-hal
seperti itu. Sekarang adalah bagaimana agar aku bisa tetap belajar tanpa diusik
mereka di luar sana. Sirik!
“Yang di dalam
kurung lebih dahulu dikerjakan,Pak, “ aku justru menimpalinya.
“Prioritas namanya.
Pun mereka yang mencibirmu. Kau adalah bagian dari mereka. Prioritas mereka.
Maka, wajar apabila mereka mengkhawatirkanmu. Tapi satu hal, tanyakan hatimu.
Ia tak akan pernah berdusta, kecuali kau sudah tak memiliki hati atau tak
pernah kau rawat ia. Pergilah!”
***
“Panggil Bayo. Suruh
menghadap saya!” Bu Mega menunjuk seorang murid untuk mengabulkan pintanya.
Sejurus kemudian,
aku datang. Mengenakan baju koko, kain sarung bergambar gajah gendut macam dia,
kopiah rajut berwarna putih, dan sendal jepit. Semua putih. Paduan yang sangat
suci.
“Apa yang kamu
lakukan. Sudah tak ada lagikah malumu. Apa benar desas-desus yang berkebang
itu. Memalukan. Kau melecehkan semua harkat dan martabat golongan kita di bumi
ini,” Ia menunjuk-nunjukkan telunjuknya padaku. Apa dia bilang, merendahkan
harkat dan martabat semua manusia golongan kami di muka bumi ini? Golongan apa
pula? Dan bagaimana pula ceritanya? Apa kubilang, desas-desus sangat berbahaya.
Bahkan mampu memutar haluan suatu negara.
Kau ingat peristiwa
11 Sepetember 2001, saat menara WTC dibuat macam istana pasir. Dihancurkan.
Seluruh dunia turut berduka. Harga saham anjlok. Desas-desus pula yang
menyebabkan harga minyak tiba-tiba meroket tajam. Sebab Timur Tengah ditengarai
menjadi dalang pemboman itu, Alqaeda. Desas-desus itu turut andil menyebabkan dunia siaga satu. Dimana ada pria berjenggot dan
nama-nama semacam Muhammad, Ibrahim, dan mereka yang menyematkan ibn di namanya harus ekstra sabar saat
bepergian kemanapun. Dicurigai dan diintrogasi ekstra. Jangan-jangan dia
jaringan Alqaeda.
“Kau akan tersesat,”
Bu Mega semakin menyudutkanku. Ia cepat sekali mengambil kesimpulan. Apakah
semua Kepala Sekolah seperti dia? Belum tau secara detail apa yang terjadi
namun sudah bisa menuduh.
“Sudah seberapa jauh
kamu bertanya sama dia? Apa kau sudah diajarinya menyembah-nyembah? Memalukan.
Dosa besar,” Matanya nyaris keluar. Lebar sekali membukanya. Ia kemudian berdiri
mengambil secarik kertas kemudian
menandatanganinya.
“Orang tua mu
akan saya panggil. Ini sudah di luar kendali. Kamu betul-betul dalam masalah
besar anak muda,” Ia kemudian membubuhkan cap biru pada suratku. Sebagai syarat
administratif. Basa-basi dunia.
“Satu hal Bu.
Satu alasan saja yang masuk akal mengapa aku salah. Kumohon ibu bisa
menjelaskan!”. Tak sanggup lagi aku menahan onak dalam hati ini. Kalau
penjelasan ibu gendut yang terhormat ini sangat masuk akal, aku turuti dia.
Menyerah. Jika tidak, tentu hal sebaliknya yang kulakukan.
“Kamu dari
golongan kita, sejak lahir. Orang tuamu, kakek nenekmu, buyutmu pun sama. Menurut
kepada ajaran turun temurun. Ajaran samawi yang paling benar. Murni tanpa
campur tangan manusia. Kini kau membelot…”
Aku lantas
memotongnya. “Aku tak membelot, aku hanya bertanya. Bertanya sesuatu yang belum
kuketahui. Sesuatu di luar zona amanku,” bibirku bergetar mengatakan itu.
Kutundukkan mataku. Tetap kutaruh hormat pada beliau yang gendut.
“Bertanya kepada
mereka di luar golongan kita, berarti meragukan apa yang kita anut. Yang
bapakmu dan kamu anut turun-menurun. Ajaran yang benar,” kini suaranya kembali
meninggi. Lebih tinggi lagi.
“Turun menurun,
itu bukan iman. Iman itu dicari. Bukan diwariskan,” kini kuberanikan menatap
matanya.
“Astagfirulloh,
apa yang sudah didoktrin Pak Bonar padamu,” kulihat tangannya mulai mengepal.
“Inilah salahnya,
terlalu cepat menyimpulkan. Belum juga ditanyai dengan jelas. Bapak Ibu Dewan
Guru sudah menuduh yang tidak-tidak. Aku yang bertanya. Pak Bonar hanya
menjawab. Tak lebih,” suaraku pun meninggi. Hampir lupa aku siapa yang tengah
kuhadapi.
“Astagfirulloh,
lancang benar kamu Bayo. Dia itu misionaris. Kamu bisa murtad. Bahaya!”
***
Esoknya, orang
tuaku datang ke sekolah. Aku diliburkan dari sekolah itu. Awalnya seminggu.
Namun, orang tuaku minta untuk selamanya. Aku pindah sekolah. Pak Bonar? Dia
dicopot sebagai guru Matematika. Padahal otaknya encer, mengajar juga
menyenangkan. Semua guru sepakat mengeluarkannya dari sekolah. Selebihnya aku
tak tahu.
Malam ini, aku
duduk tepakur di atas rumput halaman samping kamarku. Di bawah sebuah plang tua
berwarna hijau. Kupandangi bintang yang muncul satu-satu. Seolah semua kejadian
silam terpampang lagi di sana. Diputarulang. “Bayo, ayo solat Tarawih. Malam
ini giliranmu jadi badal,” kakak asuhku tiba-tiba menghampiri dan
menarik tanganku. Kemudian ia melihat gambar di bagian dalam tangan
kiriku.“Hapus gambar salib itu! Nanti dilihat orang,” ia berkata sambil
berlalu. Aku mengekor jalannya. Meninggalkan plang bertuliskan nama pesantrenku
kini.
Comments