Takut


 Ridho Nopriansyah

Tak mudah memang mengungkapkan rasa. Sebab tak kunjung tahu apa yang menjadi akhirnya. Bagi kebanyakan orang, tak mudah karena takut ditolak. Sebuah akhir yang sulit untuk diterima, oleh hati yang kian merah.


Bandung, 
Mei 2012

“Enggak enak ya jadi perempuan. Soalnya enggak bisa duluan ngungkapin perasaan,” Maya berkata pelan. Hampir tidak bisa dengar. seolah hanya ada dia sendiri di situ. Kedua tangannya menopang dagunya. Sesekali rambutnya jatuh satu-satu menutupi mata.

“Kuno, cewek bisa saja kok ngomong duluan. Enggak mesti nunggu ditembak,” sedang Viktor menimpali perkataan Maya sekenanya saja. Matanya celingukan ke kiri, ke kanan.

“Tapi enggak enak juga. Kesannya agresif  banget”.

“Awak bilang sama kau,” Maya menoleh ke arah Viktor. Ia tak sabar menanti kata apa yang keluar dari mulut sahabatnya itu. “Kalo cewek terus diam. Yang ada cowoknya ditembak cewek lain. Habis,” Viktor menyayat lehernya dengan tangan. Lidahnya keluar. Dan Maya seperti biasa, tersenyum.

“Iya, tapi enggak etis juga kalo cewek duluan,” Maya masih tak sepemahaman.
Kini Viktor serius. “Ibaratnya kalo bercinta pakai gaya misionaris,  enggak mesti ceweknya saja yang di bawah. Si cewek bisa dia atas kok. Memegang kendali permainan,” Viktor tersenyum mesum, lengannya menyikut lembut lengan Maya. Sedang yang disikut malah berdiri. “Apaan sih Vik, otakmu itu bokep saja. Pulang yuk!”

“Kemana? Ke kosku saja ya,” tanya Viktor  dengan senyum mesum

“Apaan sih, gue lapor sama bapakmu di Tapanuli sana ya,” ancam Maya. Ia berlari sambil tertawa pelan. “Kalau gue nyampe duluan, lu harus traktir gue,” teriak Maya.

***
Menahun, Maya menahan perasaanya. Sedari awal, pada perjumpaanya kali ke dua dengan laki-laki itu, ia sudah tahu ada yang berbeda. Sesuatu yang menyesak di dadanya. Sering tak sadar ia senyum bahkan menangis sendiri tiap kali melihat laki-laki itu. Namanya juga perempuan, ia merasa terlalu aneh jika harus mengungkapkan apa yang dirasakannya terlebih  dahulu. Pun dia suka. Lebih memilih untuk memendam ketimbang harus menyuarakan.

Tak ayal, Maya sering memilin hati. Sebab tak ada tanda lelakinya mengerti. Walau sekuat tenaga ia kirim beragam pertanda. Dari warna, gerik, hingga tatapan mata. Lelaki itu tak kunjung meliriknya. Sementara Maya tak serta-merta mampu menguapkan rasa. Tak mudah ia menghilangkan gejolak di hatinya tiap melihat lelaki itu.


Bandung,
Desember 2012

“Vik, Natal besok kamu pulang ke Tapanuli?” tanya Maya sembari memberikan sekaleng minuman kola.

“Iya May, ini Natal terakhirku sebagai mahasiswa. Tahun depan harus sudah wisuda dong. Kamu balik ke Yogya juga kan?”

“Belum tahu nih. Apa harus balik, atau enggak”.

Viktor menangkap guratan aneh di wsajah Maya. Tipis sekali, hingga hanya butuh waktu singkat bagi Maya untuk menghilangkan guratan itu dari wsajahnya.

“Kalau aku ikut kamu boleh enggak?” Maya mencoba mengalihkan pandangan Viktor. “Sekalian jalan-jalan sih. Aku kepengen banget lihat Danau Toba”.

Giliran Maya yang menangkap kabut tipis di wsajah Viktor. Mata Viktor menunduk, seolah tak ingin dibaca oleh sahabat di sampingnya.

“Haha, rumahku enggak dekat Danau Toba. Tapi kamu bisa lihat Danau Toba juga sih. Aku tanya ayah dulu ya. Aku mau saja kok ngsajakin kamu”. Sedetik, ada perasaan lega yang yang tiba di hati Maya. Sekuncup rasa yang sulit ia gambarkan sebelumya, kian merekah. Walau ia sudah tahu jawabnya, namun belum juga ia mampu mengutarakan.

Maya memang sangat tertutup soal hati. Pun Viktor, sahabatnya tak tahu menahu jika diatanya siapa pacar Maya atau Maya sedang naksir siapa. Petang, saat di pelataran kampusnya tujuh bulan lalu adalah kali pertama Maya berbicara tentang sesuatu yang berkaitan dengan hal ihwal cinta. Walau tak mengaku bahwa yang ia tanya adalah dia. Merujuk pada sederetan pertanyaan Maya yang ia jawab sekenanya saja, Viktor tahu bahwa sahabatnya sedang jatuh cinta. Cukup sampai di situ. Viktor tak ingin bertanya lebih. Bukan tak ingin, tapi takut bertanya lebih.


Bandung, 
Tiga Hari jelang Natal 2012

“Halo...”

“Iya...”

“Ini  aku Viktor, May”

“Ada apa Vik?”

“Besok kamu ikut aku ke Tapanuli kan?”

“Orangtuamu ngasih izin?”

“Restu malah. Uda ya. Besok aku jemput kamu,”. Terdengar bunyi telepon terputus di ujung sana.
Maya masih memegang gagang telepon itu. Ada buncahan perasaan yang menghantamnya. Kali ini begitu kuat. Hingga ia tak sanggup untuk menahannya. Ia menekan gagang telepon itu kuat-kuat ke wsajahnya. Seolah menyadari kebodohannya. Satu tangannya memegang punggung sofa. Ia seperti akan ambruk. Ambruk oleh perasaan. Ambruk oleh restu.


Tarutung, 
Satu Hari Jelang Natal 2012

Kota ini dingin. Lebih dingin dari Bandung sekalipun. Rumahnya kecil-kecil dan tak padat. Bentuk rumahnya sudah mengikuti gaya moderen. Banyak sekali warung tuak di sana. Pun gereja, sangat mudah di temui di Kota ini.

“Nanti malam kalau kamu ditinggal sendirian di rumah ini, bisa?” Viktor memulai pembicaraan sore itu.

“Misa malam Natal ya. Bisalah, santai saja,” Maya malah tersenyum dengan sikap kaku Viktor.

“Iya, sekeluarga ikut misa malam Natal di Gereja St. Maria,” kemudian Viktor menghirup pelan kopi yang tengah ia pegang. “Besok aku bawa kamu jalan ke Salib Kasih ya” pinta Viktor.

“Aku kan maunya ke Danau Toba. Bukan ke Salib Kasih,” jawab Maya.

“Kalau ke Danau Toba gampang. Sebelum balik ke Bandung, kita nginap di Parapat nanti,” kemudian Viktor membonceng Maya ke sebuah Musala untuk menunaikan solat Magrib.


Tarutung, 
Malam Natal 2012

“Inang, apa tidak ikut misa,” Maya terhenyak mendapati Ibunda Viktor tengah menghias pohon natal di ruang tamu.

“Hei, Maya. Inang sedang menunggu kerabat dari Berastagi. Tengah malam nanti baru sampai. Kamu bisa bantu Inang menghias pohon natal ini,” pinta Inang sambil menyodorkan kardus berisi pernik Natal ke arah Maya.

“Baik Inang,” jawab Maya.

Keduanya kemudian terlibat perbincangan seru. Mereka cepat akrab. Ibunda Viktor adalah seorang wanita karir. Ia salah satu aggota Dewan di Tapanuli Utara. Maya bisa menangkap aroma bijak dari setiap perkataan Inang.

Pukul 00.30 WIB. Tamu Inang dari Berastagi belum juga tiba. Maya pamit tidur terlebih dahulu.
  

Tarutung, 
Natal 2012

Pukul 15 lebih, saat Viktor dan Maya menginjakkan kaki di Salib Kasih. Dari puncak Siatas Barita, Maya mengagumi Kota Tarutung di lembang Silindung. Ia kuat-kuat menghirup bau cemara yang tumbuh banyak di Salib Kasih. Kemudian Viktor yang baru keluar dari satu Bilik Doa menghampirinya.

“Tarutung cantik ya,”

“Cantik. Enggak ada tolak ukurnya. Mungkin bersih, bisa jadi. Dua hari di sini adalah Salib terbanyak dalam hidupku,” Maya melipat kedua tangan ke dadanya. Angin memang senang sekali bercengkrama di puncak bukit.

“Pakai jaket ini. Nanti masuk angin pula,” sekonyong-konyong Viktor memasangkan Jaket kulitnya ke badan Maya. “Kamu memang enggak pernah cerita ke aku siapa pacarmu. Aku kepengen tahu saja. empat tahun sebagai sahabatmu, tapi pengetahuanku akan kamu tak lebih dari teman,” Viktor mencoba mengungkit isi hati Maya.

Sebetulnya Maya kaget ditanya begitu. namun buru-buru ia menyimpan kekikukannya dalam-dalam. Seperti biasa ia hanya tersenyum kemudian sekali lagi menatap Kota Tarutung. Mencoba fokus dan mengelak dari pertanyaan Viktor.

“Kok kamu senyum saja sih. Aku saja yang cerita. Saat ini aku jatuh cinta sama satu cewek. Menurutku dia baik, tolak ukurnya dia susah untuk sependapat denganku. Kami berdua sering melontarkan argumentasi masing-masing. Lamat-lamat, simpul sepakat kami dapatkan. Aku juga tahu dia sedang jatuh cinta, tolak ukurnya ia pernah mengakuinya secara tersirat. Simpulku sendiri yang menyimpulkannya. Tapi aku tak tahu ia jatuh cinta pada siapa. Tak berani kutanya apa itu untukku atau tidak...,” sampai di sana Viktor terdiam. Ia menoleh ke belakang, ke Salib Kasih.
Sementara Maya, ia seperti merasa terpojokkan. Oleh kata-kata Viktor. Oleh beragam terkaan dalam benaknya. Apa benar? Jangan-jangan? Apa itu... aku?

“Aku tak bertanya apa itu aku...” Viktor melanjutkannya. “Sebab tak sedikitpun mampu aku melihat hatinya. Bukan tak mau berjuang, tapi orang tuaku tengah menjodohkanku dengan seseorang...”

“Dengan siapa?” tiba-tiba Maya bertanya. Kemudian ia mengarahkan pandangannya ke depan. Ke arah Kota Tarutung. Ia melihat kubah masjid satu-satu di antara buih Salib gereja.

“Grace, putri teman ayah dari Berastagi. Ia kuliah di Medan. Tadi pagi kalian sudah kenalan bukan?
Ada perasaan seperti tertohok di ulu hati Maya. Ia hanya diam tak menunjukkan rona bahagia, pun tersiksa. Perasaannya berkecamuk. Fokusnya akan pemandangan kota pun berangsur kabur. Ada genangan air di matanya. Belum tumpah, namun segera.

“Kamu nangis?” Viktor memutar pundak Maya.

“iya, aku terharu. Sahabatku ini rupanya sudah dijodohkan. Kelak setelah lulus pasti kalian akan menikah bukan?” dengan berlinang air mata Maya mencoba bereaksi wajar atas cerita Viktor. Sementara ada godam yang tengah memukul perasaanya. “Selamat ya Vik. Hmm, dingin kita balik ke Tarutung yuk,” tanpa menunggu persetujuan Viktor, Maya langsung melewatinya dan berjalan ke arah jalan setapak menuruni bukit. Viktor juga tak berani mendekati atau mendahului Maya, ia berjalan sekian meter di belakangnya.
  

Tarutung,
Malam Tahun Baru 2013

Malam itu susana rumah sangat semarak. Selepas salat Magrib di Musala, rumah Viktor sudah semarak. Inang memasak aneka masakan mulai dari gulai, tumis, dan Babi Panggang Karo (BPK) dengan resep dari calon mertua Viktor. Untuk Maya yang Muslim, Inang tak lupa membelikan makanan halal di sebuah restoran sore tadi. Sejenak suasana hati Maya gembira. Walau sendiri ia merasa tak aneh di lingkungan mayoritas Kristen. Malam kian beranjak larut. Jelang tahun baru semua orang berkumpul di ruang tamu. Sejak siang sofa sudah disingkirkan ke gudang. Dengan 30 orang, tak muat meja dan sofa menampung sebanyak itu. Di atas tikar Maya dan keluarga Kristen itu duduk melingkar. Anak-anak kecil sibuk memegangi terompet. Seolah tak sabar meniupnya.
Maya duduk di dekat Viktor. Sedang Viktor di kiri Grace. Dame, abang tertua Viktor tiba-tiba berdiri dan menghitung mundur
10
9
8
7
6
5
4
Kemudian kami semua ikut membantu Dame,
3
2
1
Maya hampir saja meneriakkan ucapan selamat tahun baru, namun segera tersendat di tenggorakan. Semua orang berdoa, lamat-lamat terdengar doa Inang di samping kiri saya meminta keberkahan hidup. Maya melirik Viktor yang senyum mendapati kaget di wajahnya. Maya membalas senyum itu. Lalu Dame mengucapkan selamat tahun baru, yang diikuti anggota keluarga lain. Sedang anak-anak merasa lebih penting meniup terompetnya kencang-kencang. Semua orang berpelukan. Semua orang makan. Banyak makanan dan banyak tuak. Suasana rumah semakin riuh.

“Viktor, selamat tahun baru ya,” Maya mengahampiri Viktor yang baru saja ditinggal Grace. Sejak tadi, tangan Gace tak pernah lepas menggamit lengan Viktor.

“Ya, selamat tahun baru juga May,” jawab Viktor antusias. Namun Viktor juga mendapati sedikit aroma canggung.

“Kita kapan balik ke Bandung?” tanya Maya.

“Kamu mau pulang? Kamu enggak kerasan di sini. Jumat, 4 Januari kita ke Medan, lalu terbang ke Bandung” jawab Viktor.

“Besok saja ya. Aku ada urusan mendadak. Kalau kamu enggak bisa bareng. Aku bisa sendiri kok,” Maya tersenyum sambil menggamit lengan Viktor. “Sahabatmu ini harus buru-buru ke Bandung. Lagian liburan di Tarutung ini sudah sangat memuaskan kok,”

“Ya sudah besok kita pulang. Bagaimana dengan Danau  Toba?” tanya Viktor datar. Ia tak ingin berdebat panjang kali ini. Ia berusaha menghindari kebiasaan yang juga menghantam hatinya. Beradu argumen dengan perempuan di depannya. Sahabatnya. Tak lebih, ia tahu itu.

“Aku sudah lihat kok waktu kemari. Besok juga kita lewati kan. Sejauh ini cukup. Lain waktu saja, mungkin saat kamu menikah nanti,”Maya berkata sekenanya dan datar juga. Ada serabut perasaan sakit yang mengahantamnya.

“Yasudah kalau begitu,” jawab Viktor, datar lagi.
Kali ini Maya melepaskan gamitannya dari lengan Viktor. Ia berjalan ke depan Viktor. Lamat-lamat ia menatap mata sahabatnya itu.

“Selamat Natal ya, maaf aku baru bilang sekarang. Aku tidur duluan. Selamat malam,” Maya lalu meninggalkan Viktor dan ruang tamu yang masih ramai. Katanya sebentar lagi akan ada misa malam.
 ***



Hati itu mempunyai katup. Satu manusia hanya punya satu katup. Dan ia mempunyai pola. Identik dengan katup lain pada manusia lain. Bersatu dalam takdir, jodoh. Setiap manusia memiliki jodohnya masing-masing. Jika tidak di hari ini, mungkin besok. Jika tidak di dunia ini, mungkin di tempat lain.
 

Comments

Anonymous said…
Hai Maya