Hio Yang Tak Lagi Menyala
@DhoKudo
Sore itu Lifen menutup tokonya
lebih cepat. Tak lupa ia menyalakan lampu di tempat pembakaran hio. Malam nanti
dia dan Mamanya, Peizhi akan sembahyang. Setelah imlek, Malam Cu Si di hari ke 8
dan 9 adalah malam yang mereka tunggu, sebab malam itu mereka bisa berjumpa
dengan mereka yang hanya ingin atau bisa dijumpai saat itu. Bagi Lifen, ia
menanti kehadiran Nian. Raksasa yang diusir dalam legenda.
Peizhi tak pernah mau melakukan
sembahyang King Thi Kong di rumahnya. Ia bersikeras menemui Yanyu di flat kumuh
mereka. Jadilah 16 tahun belakangan kami Cu Si-an di depan pintu kamar Yanyu
yang tak sedap baunya. Peizhi dan Yanyu adalah sahabat yang berlebihan.
Mengendarai mobil, keduanya
membelah kota yang kian sesak. Di beberapa gedung yang mereka lewati masih
tampak kaca-kaca pecah dan tak terurus. Bekas kejadian 1998 yang samar-samar
masih menggerogoti Lifen. Kala itu adalah terakhir kali ia melihat ayahnya yang
merah menyala dalam toko mereka sebelumnya. Lifen menyaksikan itu dari celah dalam
selokan, tempat ia bersembunyi dengan Peizhi.
Lifen menginjak rem secara
mendadak karena lampu merah, membuat Peizhi terkejut dan mengumpat pelan.
Peizhi lalu memunguti aneka makanan dan buah tangan yang jatuh. Semuanya memang
dijejalkan Peizhi di tengah hingga bagian belakang mobil. Lifen sampai
terheran-heran. Makin tahun makin banyak saja oleh-olehnya untuk Yanyu.
Lifen diam saja direpeti Mamanya.
Ia mengedarkan pandangannya menembus kaca mobil dan melihat baliho besar-besar
dari calon legislatif entah partai mana. Tulisannya mengucapkan selamat Imlek.
Tahun baru Cina. Gōngxǐ fācái.
“Kiong hi huat cai,” gumam
Lifen.
***
Saat merahnya lampu lalu lintas
menyala selama dua menit, Barat dan beberapa rekannya berhamburan ke badan
jalan. Ia memilih mobil dengan roda tinggi dan besar: mobilnya orang kaya.
Setelah mengetuk kaca salah satu mobil, Barat pun melantunkan lagu. Suaranya
tak bisa dibilang jelek. Ada rasa khas yang menguar dari pita saranya. Seperti
bunyi kresek saat mengunyah bakwan. Perempuan pengendara mobil itu membuka
kacanya. Ia ingin lebih mendengar suara parau itu.
Kuku-kuku Barat memetiki senar
gitarnya. Ia merasa terlalu lama
menyanyi di hadapan perempuan yang tak dapat dilihatnya itu. Biasanya sebentar
saja: kalau tak dikasih duit, ya diusir. Ini tidak, perempuan itu memang mebuka
sedikit kaca mobilnya, tapi tak ada respon lebih yang Barat tangkap.
Pada sebelas detik terakhir
barulah perempuan itu mengulurkan tanggan berisi uang pecahan Rp 100 ribu. Sontak saja Barat kaget.
Bukan hanya karena nominalnya, tapi juga perempuan yang memberi. Tak sering ia
dapat upah sebanyak itu.
Mobil pun melaju.
“Betah kali kau sama mobil itu.
Dapat berapa Lae?”
“Cepek, Cina pula yang ngasih Lae.
Heran ha-ha-ha.” Barat tak henti-hentinya takjub.
***
“Buka kacanya,” suruh Peizhi.
“Enggak mau, ah. Nanti kita
dirampok.”
“Aku ingin dengar suara anak muda
itu,”
“Mama...”
“Ini, kasih dia duit.”
“Mamaa... Ini terlalu banyak.”
“Lifen, ini tahun baru.
Banyak-banyaklah memberi.”
Walau tak suka Lifen tetap
menuruti perintah Mamanya. Tak menyangkal, ia masih belum bisa menerima
keberagaman sejak peristiwa 16 tahun lalu. Hatinya terus saja terbakar, semerah
menyala ayahnya di toko mereka sebelumnya. Lifen kecil menatap dari celah
selokan.
***
“Pa, lihat itu gambar Papa
besar.”
“Ha-ha-ha, bagus juga ucapan
selamat dari Papa dipasang di sini Ma.”
“Iya Pa, Balihonya besar,
ucapannya besar, fotonya besar, dari pembesar. Mama yakin Papa pasti
menang.”
“Pa, Dedek kasih duit ke
pengamennya, ya?”
“Jangan Dek. Jangan buka kaca di
lampu merah. Mereka orang-orang jahat.”
“Iya dek. Dengar Papamu!”
“Baik, Pa.”
“Sekarang banyak modus kejahatan,
Ma. Jangan sembarang iba.”
“Iya Pa, Mama juga yakin mereka
tak akan ikut memilih. Papa tak perlu cari muka ke mereka.”
“Pa, lampunya ijoo!”
***
Yanyu tengah berdoa di depan
Lingwei, meja abu nenek moyang beliau saat
kami memasuki flatnya. Yanyu memang tak biasa mengunci pintu, Mama juga seringnya
langsung masuk saja.
Tengah malam, kami bertiga
melakukan sembahyang dengan hio yang mengepul-ngepul. Memunajatkan doa kepada
Tuhan semesta alam di depan pintu flat Yanyu.
Saat pembakaran hio tengah malam
adalah bagian favorit Lifen. Penerangan redup biasanya menyelimuti teras flat
kumuh ini. Ada belasan lantai dengan pola lingkaran, membentuk lapangan terbuka
hingga ke langit di bagian tengah flat. Bara hio memesona mata Lifen. Jumlahnya
banyak, ratusan hio membentuk panorama.
“Imlek kali ini kamu pakai baju
merah, Lifen?” seusai sembahyang Yanyu menanyaiku.
“Tidak, Yanyu. Aku tak suka
merah.”
“Bisa celaka kamu, Nian bisa
datang dan menghabisimu. Legenda itu benar adanya.”
“Aku juga sudah bilang sama dia,
Yanyu,” Mama ikut menimpali dengan satu toples kue bulan di tangannya.
“Nenek moyang kita di Daratan
Cina sana, hmm... aku ingin sekali melihatnya, merayakan Imlek dengan semarak merah
agar Nian tidak memangsa manusia. Gadis sepertimu harus hati-hati.” Yanyu
kembali berujar.
“Nanti kamu kualat, Linfe. Roh
Nian menyebarkan keburukan,” suara Mama.
“Wahyu kok enggak kelihatan,
Yanyu? Pintu flatnya tidak terbuka.” Linfe mencoba mengalihkan pembicaraan
menuju alasan terbesarnya kemari.
“Oh, tetanggaku itu akan kembali
setelah Cap Go Meh.”
***
“Apa kau siap?”
“Entahlah, perutku mual.”
“Kelihatannya tidak baik.”
“Yeah, aku belum menyukai merah
dan orang-orangmu.”
“Tapi kamu akan menikah denganku.
Di luar orang-orangmu. Bagian dari orang-orang yang belum kau sukai.”
“lantas, apa aku harus melupakan
kejadian itu?”
“Tidak harus. Biarkan keadilan
yang menjawab.”
“Aku hampir tak percaya keadilan
di negeri ini.”
“Sudahlah, Ustad sudah datang. Sebentar lagi kamu akan... berubah.”
“Aku gugup.”
“Kenapa, sayang?”
“Wahyu, aku tak pakai merah. Kuharap kamu bukan Nian.”
“Nian itu legenda, Linfen.”
***
Dari kejauhan, Peizhi merutuki Linfe. ia tetap menyalahkan putrinya yang tak mengerti makna Nian sesungguhnya. Ia tak cuma raksasa. Ia tak cuma legenda. Ia ada, hadir dan berevolusi.
"Nian itu bukan legenda," Peizhi menyalakan lampu tempat pembakaran hionya.
Medan, Imlek 2014

Comments