Menyaba Bimbang
Sudah dua jam sejak hari baru di tahun
yang baru. Mengakhiri tahun lalu dan mengawali tahun ini bersamamu tak bisa
kukatakan buruk. Pilihanmu bagus dengan mengajakku ke sini. Aku suka kesunyian.
Aku juga suka bersamamu. Walau konsekuensinya, bila kita ingin berdua, jangan
sampai mencolok. Artinya kita merayakan malam pergantian tahun tanpa
teman-teman yang lain. Sayang, dengan pertanyaanmu barusan, kupikir kamu sidikit merusak
awal ini.
Kikuk, begitulah yang kurasakan. Entah
apa kamu juga merasa hal yang sama, tentunya selain kamu juga menuntut untuk
memperjelas semua hal yang kita lewati. Aku mengedarkan pandanganku jauh ke
depan. Segaris horison memanjang di batas samudera. Warnanya terkesan biru.
Kupatrikan sejenak pandanganku di situ. Mencari-cari pegangan,
berlindung dari desakan pertanyaanmu.
Aku tidak suka suasana begini. Saat-saat
aku yang mengambil alih pembicaraan darimu. Saat-saat aku yang menentukan alur
cerita ini, saat-saat aku harus menjawab. Melakukan semua hal bersamamu adalah
terapi bagiku, menyenangkanmu adalah keharusan juga untukku. Dari sekarang aku
katakan, jangan kamu perjelas semua itu!
“Jadi bagaimana?” kamu terus mendesakku.
Beri aku waktu– walau aku tak tahu untuk
apa –lagi. Jelas-jelas aku gamang dengan semua ini. maksudku, aku menghargai
kejujuranmu dan kemampuanmu mengungkapkannya. Dari dulu, makanya aku bertahan.
Paling tidak memberimu waktu untuk paham sendiri tentang aku. Supaya yang
seperti ini tidak perlu dilakonkan. Kelihatannya itu tak berhasil.
***
Aku masih ingat malam itu. Malam yang
juga sama seperti saat ini. Apa kamu tahu? Tak mudah bagiku melihatmu hancur.
Keberanianmu melakukannya padaku memberiku kekuatan untuk bertahan. Walau
terkadang aku pikir mungkin kamu terlalu sembrono dengan berlaku begitu, tapi
tak banyak orang yang bisa jujur. Mengungkapkan perasaannya, dengan menjadi
diri sendiri.
Aku melihat kilatan itu di matamu.
Kilatan yang mematikanku. Yang mendorongku untuk tetap menerima pintamu. Dan
melakukannya sekali lagi. Tapi waktu itu kamu kelewat berani. Kamu menuntunku
untuk melakukan sesuatu yang tak bisa kulakukan, menjadikanmu satu-satunya di
hidupku. Oh, yang satu itu tidak bisa kulakukan. Sempat terpikir untuk tak akan
melakukannya lagi. Nyatanya, aku seperti disihir, tak mampu menolakmu.
Aku memang menyambut baik setiap
perhatianmu. Menyenangkanmu dengan terus bersamamu. Walau sempat menolak, ada
saja yang mendorongku untuk mendobrak batasan antara akal dan nurani. Aku
bertekad sejak malam itu, memberikan perhatian lebih padamu. Dan benar-benar
kulakukan bukan? Selalu mengajakmu makan malam, mengajakmu bermain futsal, membantu
tugas-tugasmu yang nyaris menyentuh deadline, atau merawatmu saat sakit.
Yang paling aku suka, menyempatkan mencuri pandang padamu, berharap saling
melempar senyum ketika pandangan kita bertemu.
***
Lain waktu, aku juga merasa kalau apa
yang aku lakukan justru berlebihan. Apa kamu mengerti maksudku? Perlakuanku itu
tak akan membuatmu terjaga. Cepat atau lambat, kita harus mengakhiri semua ini.
sebab aku tak kunjung siap untuk membuka diri.
Aku mulai risih pada sikapmu yang selalu
meminta pendapatku dalam banyak hal. Memilih sepatu mana yang cocok, tempat
makan mana lagi untuk malam ini, atau baiknya menulis tentang apa, mau pakai
pengaman rasa apa. Sayang, sikapmu berlebihan. Bersamamu juga bukan untuk
selalu mengarahkanmu, atau selalu melibatkan pendapatku.
***
“Jadi bagaimana?” lagi kamu mendesakku.
Kali ini kamu menyandarkan kepalamu di bahuku. Desing angin kian kencang
menerpa tubuh kita. Sedang deru ombak sedari tadi memecah sunyinya malam. Mengalahkan
suara apapun di sini.
“Kamu tahu?” Kulingkarkan sebelah
tanganku untuk meraihmu. Membenamkanmu dalam dekapanku. “Hari-hariku berubah
banyak sejak bersamamu. Aku tak bisa lagi dengan leluasa melangkah. Aku takut kalau-kalau
aku melewatkanmu. Tak bisa lagi bermain api dengan wanita cantik untuk menjaga
perasaanmu. Selalu menjadikanmu prioritas. Dalam hal apapun. Meletakkan
kepentinganmu di atas kepentinganku,” kubisikkan perkataanku ke telinganya
pelan. Sesekali kukecup ubun-ubun kepalanya.
Suara ombak masih menderu-deru.
“Semua itu kulakukan untukmu. Memberikan
perhatian lebih untuk membuatmu merasakan kehadiranku tak sekedar angin lalu.
Menikmatimu kemudian pergi seperti babi. Aku ingin membuatmu merasakan kalau hadirku
mempunyai arti bagimu,”
“Kamu memang arti yang besar bagiku,” kau membalas lembut.
“Aku tahu. Tapi bukan begitu maksudku,”
dan aku belum menemukan itu di dirimu, inilah yang aku rasakan dalam hubungan
ini.
“Lantas, setelah semua yang kita lalui
bersama. Apa belum cukup menjadi bukti?”
“Bukti kalau kita saling memberi
perhatian lebih satu sama lain, cukup. Lagi pula, cinta dan perhatian lebih,
sulit untuk dibedakan,” aku menutup mataku. Mencoba menyerap suara-suara ombak.
Mencari-cari tonggak untukku berpengang.
Kamu melepaskan dekapanku. Sekilas aku
melihat linangan air matamu jatuh terburai. Jangan kamu menangis. Kamu tahu,
kita sedang di lembah terdalam hubungan ini. Yang dibutuhkan hanyalah kekuatan kita
berdua untuk mendakinya. Menyelesaikannya. Hingga kita mampu keluar di satu
sisi yang sama atau sisi berlawanan. Kuatlah!
Aku bangkit. Melangkahkan dua kikiku ke
bibir pantai. Melihatmu begitu aku tak kuat. Padahal aku sudah muak dengan
hubungan kita ini. Yang merasakan indahnya hanya kamu. Sedang aku mati-matian
mengunyah pahitnya. Bertentangan dengan mauku, bertentangan dengan kondrati.
Persetan dengan perasaanmu.
“Kamu pernah bertanya apakah aku merasa bahagia?" aku membalikkan badan, pandanganku menyapumu tajam, "Kamu
pernah tanya apakah aku mudah menjalani ini? Semua ini mungkin mudah bagimu,
tapi tidak untukku. Terlalu banyak yang harus dikorbankan,” semua itu
kulontarkan kepadamu. Mengurai semua pendaman onak ini.
Kamu mencoba menjawabku, “Kamu bisa meninggalkanku. Aku minta maaf
bila memang aku tak bisa menerjemahkan semua maumu. Siapa aku bila memintamu
menjadi apa yang kumau. Mengajakmu masuk dalam lingkaran ini...”
Matamu, aku melihat kilatan itu lagi.
Sesuatu yang dulu mendorongku. Aku merasakan tubuhku memanas. Panas itu
menggerakkanku ke arahmu. Mendekapmu lagi.
“...Aku hanya mencintaimu,” kudengar kamu
berbisik di telingaku.
Apakah kita masih di lembah terdalam ini?
Kueratkan dekapanku, sebab aku tak tahu apakah kita sudah keluar dan tetap
berdiri di sisi yang sama atau sebaliknya, berbeda.

Comments