Bergabung ke Klub Semadi
@DhoKudo
Bagiku, menyentuhmu merupakan
sebuah perjalanan ke titik paling luar jangkauanku. Ia terasa begitu dalam dan
bermakna. Sebab saat kulitku menyentuh kulitmu, kurasakan panas yang membuatku
betah. Saat itu, hanya aku yang dapat menerima panasmu, aku memandangi
sekeliling, menolak siapapun yang ingin menyentuhmu, menggangguku berlama-lama
menguasaimu di satu-satunya akses yang bisa kutembus.
Prosesi menyentuhmu juga
sakral. Paling tidak ada tiga fase yang tak boleh kulewatkan. Pertama, melihat
kedatanganmu. Aku coba membaca air wajahmu, jadi aku tahu harus bersikap apa
nantinya. Ketika wajahmu terlihat senang aku harus berbuat apa. Atau sebaliknya
saat mukamu murung, maka sentuhanku akan kubuat semakin dalam. Itu bisa mendamaikanmu.
Kedua, saat aku menyambutmu. Dengan leluasa dapat kuciumi bau badan dan aroma
kepalamu – yang sangat kusukai, bau alamimu membuatku mabuk – yang menguar
dengan ganas. Ketiga, tentu saat menyentuhmu. Detik-detik awal perjalananku
akan dimulai. Menuju tempat yang tak ada di dunia kasat mata. Ia indah, namun
berjalan berlawanan. Perpaduan kulit kita menciptakan sensasi luar biasa, kamu
adalah candu untukku. Sebuah Semadi.
Kebersamaan kita, sejatinya,
hanya dapat dilakukan di malam hari. Memang
karena malam adalah sahabatmu. Menurutmu malam mampu mencairkan semua kebekuan.
Memendekkan jarak antara hati dan logika. Malam pula yang mampu mendorong
seseorang berbuat lebih. Malam mampu memberanikan manusia.
Sesibuk apapun, kusempatkan
untuk mendaratkan sentuhanku padamu. Terutama ketika pekerjaanmu menumpuk.
Hari-hari biasapun aku kerap menyisihkan sekian menit untukmu. Kupikir, apapun
aktivitasmu dari pagi sampai malam sudah cukup memberimu lelah. Menyentuhmu,
selain menyegarkanmu, juga memuaskan inginku.
Maka tangan ini akan cekatan
bekerja. Mengelus, meraba, dan menekan tubuhmu. Menularkan energiku sebisa
mungkin. Sesekali mengalir ceritamu yang sering biasa saja. Aku tetap setia
mendengarkannya, termasuk suara dengkuranmu. Bagiku itu adalah nada-nada alam,
penanda malammu.
***
Ruangan itu dibalut warna
coklat. Dindingnya kayu, kursinya kayu, alas kaki pelayannya juga kayu. Di
dindingnya tergantung belasan pigura, kosong. Warna bingkainya hitam. Bagian
kosongnya berwarna tanah, oranye, dan
hijau tua.
Kursi-kursinya bulat. Orang-orang
duduk bersila di atasnya. Tangan-tangan mereka ditekuk di punggung lutut
masing-masing. Semua orang menyumbat telinganya dengan headset. Semua
orang diam. Namun terlihat damai.
“Silakan duduk di sini,
Nona,” seorang pelayan bermata hitam
tenang menuntunku ke satu kursi. Ada ukiran-ukiran mengelilingi badan kursinya.
Aku pernah melihat yang seperti ini, mirip relief di Borobudur. Latar
belakangnya pigura dengan bagian kosong berwarna oranye. Ada potongan relief
juga di sisi bawahnya, wanita-wanita bertelanjang dada.
“Maaf, saya pasangkan headset
Anda, Nona. Saya akan kembali satu jam lagi,” ucapnya sopan, kemudian berlalu.
Seketika musik mengalun,
pelan memenuhi rongga pendengaranku. Lagu ini seperti tak asing. Autumn Falls
& I Love You for a Sentimental Reason milik Nat King Cole. Tadinya kupikir
tembang-tembang Jawa yang katanya punya balutan magis. Menenangkan, sesuatu
yang kubutuhkan.
***
Mari kita mulai. Satu jam ke
depan akan mudah. Yang kuperlukan hanyalah menutup mata, lalu diam dengan
posisi seperti petapa yang kulihat di teve. Apalagi ada lagu yang sempat familier
bagiku.
Lima menit berlalu, biasa
saja. Kelihatannya akan berhasil. Musik berganti, tak ada vokal, hanya musik.
Terdengar seperti tembang Jawa Timuran, mungkin saja Bali. Aku tak bisa
membedakannya.
Kini sudah tiga lagu
berlalu. Bukannya semakin hanyut dalam kekhusukan, aku mulai merasa ada sesuatu
yang aneh. Seperti tertekan dari dalam tapi lebih lembut. Mungkin pemberontakan
tapi terlalu kasar. Bukannya fokus, keningku mulai mengkerut. Kepalaku pusing,
perutku seperti diaduk-aduk. Peluhku muncul satu-satu. Di punggungku, terutama
di wajahku. Ingin kumenyeka. Namun pesan pelayan bermata hitam tenang itu
membayangi, jangan bergerak selama satu jam.
Baiklah, ini kali pertama
bagiku. Wajar kalau aku belum merasa betah. Tak kuat berlama-lama dengan diam
ini. Bisa saja aku bangkit, dan ya, aku memilih bangkit. Suara-suara dalam
kepalaku juga meneriakkan hal yang sama. Keningku semakin mengkerut. Mataku
mulai kubuka perlahan. Tapi...
“Bertahanlah! Kalau Sakit
berarti sakit. Jika menyerah sekarang, mereka akan datang kembali,” sebuah
suara mencegahku. Musik di headset ku berhenti, berganti suaranya, suara
pria. Walau menolak, nyatanya seluruh tubuhku mengikuti instruksinya. Jadilah
aku bertahan hingga sang pelayan datang memegang tanganku. Kini aku bisa bangkit.
“Selamat datang di dunia
baru. Mari ikuti saya. Kami punya kudapan dan teh di sisi selatan ruangan,”
ucap pelayan itu.
***
Tempat itu bernama Laksmi,
diciptakan sebagai sarana bagi orang-orang yang membutuhkan ketenangan ekstra
untuk satu hal: menyelami diri sendiri. Buntut-bututnya juga demi satu hal:
bahagia. Sebelumnya tak pernah terlintas di benakku untuk mengikuti kegiatan
seperti itu. Namun– jujur aku malu mengatakannya –kesendirianku ini sungguh
mengganggu ketenanganku. Sering aku menghabiskan malam-malamku hanya untuk
meraba, mengapa aku masih sendiri. Tante Mir juga sendiri, tapi dia mengaku
bahagia, sedang aku tidak. Bahagia menurutku adalah saat aku betah berlama-lama
pada satu hal, pada satu hati. Umurku jelang 27 tahun dan belum ada satu pria
pun kukencani.
Berungkali ku ikuti Semadi
di Laksmi. Berjam-jam menyila kaki hingga hitam mataharinya, mendengar suara
Nat King Cole lagi, dan meminum berliter-liter teh mereka. Iya, aku mendapatkan
ketenangan, hanya dalam satu hal. Sebut saja pelarian dari rutinitas pekerjaan.
Tapi untuk mengatasi masalahku yang sesungguhnya, belum. Aku masih saja meraba
saat malam, apa yang salah padaku hingga sulit untuk menemukan biangnya.
Malam itu, usai Semadi, aku
sedang menyeruput teh. Tiba-tiba seorang lelaki menemuiku. Ia memperkenalkan
diri sebagai JIO. Aku pikir tak masalah menerima ia di mejaku. Lantas kami pun berbincang.
Tentangnya, alasan dia bergabung di Laksmi, dan mengapa ia mendatangi mejaku. Aku
lebih banyak menyimak.
Katanya, dia sudah melihatku
sejak kali pertama aku bergabung. Terbukti, ia merekaulang waktu itu, dan
tepat. Sebenarnya ini tak mudah kucerna. Seseoranng yang tak kukenal tiba-tiba
mengaku tahu kegiatanku di Laksmi: dia menguntitku.
Pada hari-hari selanjutnya
aku semakin bersemangat ke Laksmi. Dari sekali seminggu, kini tiga kali. Tak sekedar
Semadi, aku juga mencari sosoknya. Menyimak cerita-ceritanya yang biasa saja,
menimpali aneka pendapatnya.
***
“Viora, aku lelah sekali.”
“Sstt,” aku meletakkan
telunjuk jariku di bibirmu, “Berbaringlah, aku akan menyentuhmu.”
“Kau tak pernah Semadi di
Laksmi lagi?
“Aku masih tetap Semadi.”
“Maksudmu, kamu Semadi di
tempat lain?”
“Iya.”
“Kamu meninggalkanku?”
“Tidak.”
“Kepalaku pusing saat Semadi.
Aku butuh kamu”
“Bukankah kamu yang
menyuruhku bertahan waktu itu?”
“Memang, lantas mengapa tak
kunjung datang?”
“Semadi tak harus di Laksmi.
Ada saatnya kamu akan sampai di level itu. Dulu kamu biasa saja. lewat headset
kamu menyemangatiku untuk bertahan.”
“Kubangun Laksmi untuk
menemukan ketenangan, kebahagiaan.”
“Kupikir membuat Dewa Wisnu
cemburu?”
“Apakah Laksmi tak
membantumu untuk itu?”
“Semadi tak harus di Laksmi.
Seperti berdoa tak selalu di Gereja. Kuberitahu rahasiaku, tempat semadi yang
bagus.”
“Dimana?”
“Merasa tersaingi?”
“Tidak juga”
“Semadiku adalah
menyentuhmu. Kudapati rasa bahagia di situ.”
“”Aku tak tahu harus bilang
apa”
“Diamlah! Supaya aku
menyentuhmu.”
Comments