#4 Tentang Rasa: Romansa Jelang Tidur



@DhoKudo


Aku mengerti kok apa-apa yang kalian katakan dari tadi. Otakku ini bisa menganalisis, mereka, dan memetakan apa yang harus dilakukan untuk mencapai apa-apa yang kita mau. Tentu saja, semua ini bukan khayalanku semata. Ia murni dari pemikiran yang matang, kupikir tidaklah langkah sembrono.

Gelap sudah lama merajut langit. Malam ini tak banyak gemintang menggantung. Hanya hawa dingin yang melesak masuk lewat bulatan-bulatan ventilasi di atas jendela kamar. Aku sengaja membuatnya di sisi itu karena tak terlalu menyukai arogansi sinar matahari pagi.

Sebuah buku, segelas air putih, sekotak tisu, sebatang ponsel yang dimatikan, dan paparan sinar biru dari lampu adalah tiket yang tak boleh tertinggal saban jelang tidur. Semuanya menjadi sesuatu yang memicu rasa nyaman acap melakukannya. Perasaan itulah yang kemudian menghantarkanku pada erotisme tidur.

Momen jelang tidur, setelah semua tiket didapatkan, adalah romansa. Pengantar jelang difraksi dalam  menghimpun aneka musabab yang memayungi rencana. Memintal satu per satu kejadian dari pagi hingga malam menggantung.

Simpul tiap kejadian muncul, setiap simpul pula kuingat lagi. Sudah betulkah yang kulakukan hari ini? Atau seharusnya aku bisa melakukannya dengan lebih baik lagi. Apa saja keslahan yang kulakukan hari ini?

Yakinlah aku tidak akan memikirkan hal-hal seperti itu.

Andaikan orang lain dapat melihat apa isi pikiranku saban jelang tidur, kurasa orang lain tersebut akan mengganggapku aneh. Atau justru biasa saja. Sebab yang kulakukan rupanya ialah hal-hal yang juga dilakukan orang lain. Tidak aku ketahui sebab aku juga tidak bisa tahu pikiran orang lain.

Walau semua hal di jagat raya ini – katanya – terhubung.

Maka, romansa jelang tidurku adalah sebuah perjalanan. Ia mampu menginjak negeri mana saja, tahu-tahu ia sudah di Bali, di belantara Amazon, atau kadang di salah satu rumah di pegunungan Alpen. Ia bisa di mana saja.

Ia juga bisa bersama dengan siapa saja. Bisa jadi dengan Leo – teman sekelasnya – dengan Gilang, Misya, Mada, bahkan Christiano Ronaldo.

Imajinasinya bisa jadi menakjubkan.

Mereka juga bisa ngapain saja. Suatu malam ia dengan Leo bisa jadi makan es buah di Amazon sambil keduanya berdandan ala Tarzan. Atau ia kadang dibangunkan Christiano Ronaldo – setelah semalaman Christiano ‘menendang-nendang’-nya –  yang hendak menendang bola.

Khayalannya bisa apa saja.

Jika ia berhasil menjinakkannya, Nathan bisa langsung tidur.

Jika tidak,

Nathan harus merogoh tisu dari kotaknya untuk menyeka selangkangan yang basah.

Baru kemudian ia tidur.

Aku mengerti kok apa-apa yang kalian katakan dari tadi. Otakku ini bisa menganalisis, mereka dan memetakan apa yang harus dilakukan untuk mencapai apa-apa yang kita mau. Tentu saja, semua ini bukan khayalanku semata. Ia murni dari pemikiran yang matang, kupikir tidaklah langkah sembrono. Walau yang berpenis – katanya – sering sembrono.


Comments