Batas

@Dhokudo





Aku yang mengatakan ini, devosi akan berlipat saat kamu menghisap rokok ganja pertamamu.

Mata ini terasa berat bahkan sejak berjam-jam sebelum itu. Ia mengisyaratkan jika tubuh ini butuh rehat setelah aktivitas seharian, namun sebagian diriku yang lain tidak merespon positif. Kamu juga mengaku tak mau tidur dan menghisap dalam-dalam rokok ganja yang baru saja kita beli. Kemudian memberikannya kepadaku entah setelah hisapan ke berapa. Kita bergantian menghisap rokok ganja malam itu.

“Batangnya diolesi susu kental biar enggak bau, nanti tetangga bangun pula,” ucapmu.

Kami sepakat untuk terus terjaga  agar tak melewatkan setiap hal antara kita malam itu. Merokok, minum kopi, menonton acara televisi, mengomentari banyak hal. Sebuah kesempatan yang baru pertama kali terjadi sejak aku mengenalmu belasan tahun lalu.

Mungkin seperti ini yang dinamakan devosi. Ia bisa tiba-tiba saja datang dan membuatku menghambakan diri padanya. Seperti kamu, yang juga tiba-tiba saja hadir kembali dan aku tak kuasa menolak pesonamu.

Aku tak pernah menyangka jika apa yang kita bicarakan bisa jadi sangat menarik untuk dilanjutkan. Kamu memesonaku dengan apa adanya ceritamu. Sehingga aku kesal sendiri mengapa aku sangat terlambat menyadari kepulanganmu saat itu. Sehingga sangat terbatas waktu yang kita miliki untuk kembali mengenal satu sama lain. Walaupun pada kenyataannya yang kita lakukan lebih banyak mengulang seingatnya setiap peristiwa masa lalu. Atau saling bertukar cerita teman-teman SD kita – kamu yang lebih banyak tahu, dan aku lebih banyak kaget dengan cerita-ceritamu – yang sulit sekali untuk dipertemukan.

Tak kurang dari lima hari waktu yang kumiliki untuk menerima luapan informasi tentangmu sebelum kita berpisah untuk sekolah kembali. Malam itu, malam terakhir kita, aku merasakan bahagia dan sedih menyelinap bersamaan. 

***

Aku mengenalnya saat duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu kami hanya belasan murid yang mendaftar. Ada satu sekolah lain yang jaraknya lebih dekat dengan hunian warga sehingga kebanyakan orang tua lebih memilih  mendaftarkan anaknya di situ. Kami yang belasan itu pada akhirnya dekat satu sama lain, bahkan di satu minggu pertama sekolah kami sudah berhasil mementaskan drama yang bertahun-tahun kemudian tetap membekas dan mengherankan kami bagaimana mungkin kami melakukannya. Dengan semua pembagian peran, properti dan skenario (walaupun untuk skenario boleh dibilang kami semua sudah menguasai sebab ceritanya diambil dari cerita rakyat daerah kami). Kami sering memuji-muji kejadiaan itu.

Aku tak mengingat bagaimana kontak pertamaku dengannya – mungkin saat kita mendaftar atau saat hari pertama sekolah – tapi aku ingat aku lah orang yang memberinya peran utama untuk drama dadakan yang dipentaskan saat jam istirahat itu. Sinarnya menyilaukanku,  bahkan sebelum aku menyadari siapa diriku sendiri.

Apa yang kemudian kami lakukan adalah layaknya apa yang dilakukan teman-teman kami lainnya. Sekolah, bermain bersama, mengaji bersama, dan membeli ikan hias untuk dilaga. Kami berdua pernah bermitra untuk membeli puluhan ikan laga yang terlarang di rumahku. Kami menyimpannya di rumahnya. Tapi kemudian aku lupa bagaimana kemitraan kami berakhir begitu saja bahkan semua kebersamaan kami kemudian perlahan-lahan menguap. Selepas sekolah dasar aku tak begitu lagi mengenalnya.

Hanya beberapa kali kami berpapasan. Walau rumah kami berdekatan namun bedanya pergaulan memisahkan kami berdua. Aku melihatnya saat malam ramadan selepas tadarusan di mesjid, ia mabuk dan muntah-muntah. Aku membawanya ke pemandian umum untuk dimandikan, kemudian menungguinya hingga siuman dan mengantarnya pulang. Aku juga pernah mendapatinya saat ia menghisap rokok ganja di teras rumah orang. Susah payah aku mengalahkan kikuk dan membawanya ke tempat aman. Aku tak mau warga mendapatinya saat mabuk cimeng. Begitulah pertemuan kami, dan benar saja ketika kutanya malam itu, ia tak mengingat satupun.

Aku baru berhasil menyuruhnya tidur saat jam menunjukkan pukul empat pagi.  Sebab ia harus bangun dan kuliah. Ini adalah hari pertamanya sebagai mahasiswa. Sebab berpindah-pindah sekolah ia harus mengulang beberapa kali.

Ia menolak saat kubangunkan pukul enam pagi. Kubiarkan ia terlelap beberapa saat lalu kubangunkan lagi, akhirnya ia bangun dan bersiap mandi. Aku juga pamit untuk menyiapkan barangku sebab malam nanti  giliranku yang harus kembali ke negeri orang untuk kuliah juga. Itulah hari terakhirku melihatnya, perpisahan tanpa pelukan dan ciuman. Aku berharap bertemu lagi dengannya tahun depan.


Comments