#8 Tentang Rasa: Dukun dan Doa Pada yang Mati

Suara ketukan di pintu pagi itu nyaris membangunkan seisi rumah. Suara orang mengaji dari pengeras suara di mesjid terdengar menguasai pagi.
Suara sepelan apapun saat subuh memang terdengar gaduh.

Ibu yang membukakan pintu dan aku  jengkel karena hari Mingguku dimulai cepat sekali.

Yang mengetuk pintu adalah Si Utuk-utuk, sepupu ibuku yang masih lajang. Kedatangannya sepagi itu tak pelak membuat Ibu heran.

Ibu mengajak ia masuk ke dalam rumah, namun ia menolak. Alasannya ia ingin cepat-cepat pulang ke rumahnya saja. Ia hanya memberi kunci kemudian hendak berlalu.

Ibu mencegatnya dan mendesak alasan adiknya itu. Utuk-utuk hanya bicara singkat dan tak jelas duduk perkaranya. Ia bilang saban malam ia tak bisa tidur dan selalu mendengar suara-suara orang memanggil dari kejauhan.

Ia bilang, kubilang terlalu cepat menyimpulkan, asal suara itu arahnya dari pokok beringin. Pekuburan dekat rumah Nenek.

Om Utuk-utuk memang dimintai tolong oleh Ibu untuk menjaga rumah nenek pascameninggal. Seluruh sanak-saudara, jauh-dekat sudah pamit.

Malam itu adalah malam pertamanya. Dan ia menyerah, bahkan sebelum matahari benar-benar muncul.

Sebetulnya Ibu punya satu adik laki-laki yang tinggal persis di samping rumah nenek. Namun karena adiknya itu berkeluarga, tak enak rasanya menyuruh ia untuk menjaga rumah nenek.

Setelah kejadian itu Ibu menelepon dua saudaranya yang tinggal sekota. Mereka sepakat, adik lelaki Ibu pindah saja dulu ke rumah nenek. Toh, bagus juga sebab rumah itu, walaupun semi-permanen, tapi luas.

Satu ruang tamu kecil, ruang keluarga lebar, ruang tengah panjang, dua kamar, dan dapur yang sangat luas.
Semuanya terhubung oleh pintu sejajar. Aku suka sekali berlari dari ujung ke ujung jika berkunjung ke rumah nenek.

Saat Nenek meninggal dunia aku masih duduk di kelas 2 SMP. Jarak kematiannya hanya terpaut tiga minggu dari putra keduanya, Tulangku di Medan. Putra pertamanya sudah meninggal beberapa tahun silam. Ia juga turut menempuh perjalanan dua belas jam untuk memakamkan anaknya itu.

Siapa yang tahu ia akan meninggal?

Belakangan aku mendapatkan cerita dari anak sulung Tulang, sepupuku kalau sebelum ayahnya meninggal, almarhum bercerita ia didatangi tiga orang berbaju putih dalam mimpi.

Dari ketiganya hanya satu yang ia kenal,walau tak yakin itu adalah mendiang ayahnya. Dua yang lain ia tak tahu.

Ia lalu menelepon Nenek dan singkat saja jawaban Ibunya. "Mungkin sudah dekat waktu kita, Ibu juga didatangi mereka. Dua yang lainnya adalah saudara ayahmu."

Seminggu setelah itu, Tulangku meningga. Dokter bilang karena gula.

Aku lantas bertanya, mungkinkah yang datang itu adalah roh kakek dan dua saudaranya. Maksudku mungkinkah orang yang sudah mati bisa kembali, walau ia dalam wujud spirit?

Aku tak menutup diri memang akan hal-hal gaib, walau tak sepenuhnya yakin.

Seorang saudara jauh juga tiba-tiba muncul dan mengatakan kalau umur lelaki dari keluarga Nenekku tidak lah panjang.

Dalam artian ini, anak lelakinya, cucu lelakinya, akan selalu lebih dulu wafat.

Artinya aku sebagai cucu lelaki Nenek, anak sulung Ibu kelak mati duluan.

Kupikir saudara jauh itu lancang sekali. Parkara masa depan bukan lah sesuatu yang enak untuk dikunyah.

Apalagi soal kematian.

Semua orang memang akan mati, tapi kupikir ada etika tak serta-merta berkata begitu.

Tapi kalau dirunut memang ada tren seperti itu. Anak sulung Nenek adalah lelaki dan ia meninggal, kemudian anak lelaki sulung mendiang itu pun meninggal. Anak kedua nenek adalah lelaki dan ia Meninggal, dan anak sulung mendiang itu lelaki dan sudah meninggal pula.

Anggota keluarga yang lain hidup.

Mau tak mau ini membebani pikiranku. Walau tak percaya, tapi rasanya ada yang menggelitik pikiranku ke arah itu.

Bicara gaib memang bukan hal yang bisa mudah diterima. Perkataan paranormal butuh konfirmasi di sana-sini. Sebab informasi yang diterima hanya dari apa yang ia katakan, dari apa yang katanya ia lihat, dengar, dan rasakan.

Keluargaku memang tak lantang bilang percaya takhayul. Tapi jika misalnya aku sakit, selain obat dari dokter, ada juga "obat kampung" dari orang saleh.

Aku tak pernah sungguh-sungguh percaya akan hal itu.

Tapi satu kejadian cukup  mengherankanku.

Saat SMA aku tinggal di asrama. Mau tak mau aku selalu ketinggalan informasi keluarga.

Saat pulang ke rumah, aku mendapat kabar jika keluarga besar kami baru saja diteror ilmu hitam. Ayah-Ibu saya diguna supaya cerai, Uwak saya diguna supaya lekas mati dan anak perempuannya jauh jodoh.

Bagaimana mungkin di zaman ini hal-hal seperti itu ada? Kubilang itu semua mengada-ada, perkataan orang saleh, atau siapa tahu dia dukun, tak bisa langsung dipercaya.

Ada lubang yang butuh konfirmasi besar-besaran di situ. Aku setuju dengan pikiran Ayu Utami dalam Simple miracles-nya.

Sebut saja Sang Dukun benar, ia dibantu jin dan sebagainya. Namun apa informasi yang disampaikan jin itu sahih? Toh manusia saja gampang berdusta. Konon Jin!

Bagaimana kita menguji keabsahan informasi dari jin?

Bantahan datang dari anggota keluarga yang lain. Dukun itu, aduh keluargaku bilang ia orang saleh, bilang seseorang menaruh dendam dan mengubur sesuatu di sekelilling rumah.

Besoknya, keluarga besarku menemukan tulang berbungkus kain putih (mereka cepat bilang itu kain kafan).

Kubilang bisa saja itu memang ditaruh sama Dukun untuk reputasinya.

Bantahan datang lagi, bagaimana dengan siluman monyet (untuk yang satu ini aku juga tak habis pikir) yang dilihat adik dan keponakanku di rumah Uwak.

Ceritanya, suatu hari adik dan keponakanku yang masih balita ini berteriak-teriak. Mereka kompak melihat monyet besar bergelantungan di plafon dapur Uwak. Anehnya tak satupun orang dewasa melihat itu.

Kejadian itu berulang, kemudian Uwakku sakit. Ia susah jalan. Semuanya manggut pada pola-pola yang dibilang orang saleh.

Aku pun diam. Malamnya kami baca surat Yasin berulang empat puluh kali.

Perkara gaib, seperti kubilang tadi bukanlah hal yang tetang-benderang. Tak bisa pula dibilang kuat data, walau pengaruhnya sungguhlah terasa di masyarakat.

Tapi selalu ada titik lemah yang perlu dipertanyakan, termasuk eksistensinya.
Tan Malaka pun bilang, sisa-sisa animisme masih terasa di negeri ini. Hindu pula! (Tak ada maksud menghina)

Tapi kejadian di masyarakat bukan pula omong kosong. Ibu ku sendiri mengalami, saat kecil ia senang bermain bersama temannya di bawah pohon beringin dekat rumahnya. (Asal suara-suara yang di dengar Om Utuk-utuk tadi).

Mereka sembunyi di bilik tengah pokok pohon, berayun-ayun di akar gantungnya. Di bawah mereka kuburan semua.

Suatu hari rambut Ibuku rontok banyak. Ia nyaris botak. Orang saleh mengatakan Ibuku mengencingi anak Jin. Orang saleh itu menyembuhkannya dengan ayam berbulu hitam.

Atau saat jenazah yang sudah dikubur puluhan tahun masih utuh (hanya saja mengering), berbau semerbak, dan kafannya terlihat baru. Kejadian ini juga betul adanya, makamnya di belakang SD ku.

Maksudku kejadian seperti itu ada, tapi tetap menyisakan pertanyaan tentang eksistensi mereka.

Apa kepentingan mereka, atau perkara roh orang mati di Islam akan kembali hidup di kubur dan menerima ganjaran amal.

Atau Katolik percaya mereka masih terhubung dengan leluhurnya, makanya mereka berdoa. Islam pun mengabulkan doa anak saleh untuk mendiang orang tuanya.

Makanya hampir semua agama menyediakan doa untuk mereka yang telah mati.

Atau sebetulnya yang dialami adalah permainan psikologi. Aku belum tahu istilahnya apa untuk ini. Akan aku cari tahu dulu, lantas kuceritakan suatu saat apa yang membuatku ragu akan pengetahuan orang saleh akan dunia gaib.

Teruntuk dukun, dan eksistensi dunia gaib yang kau paksakan kami untuk percayai. Jika yang lebih belum berarti cukup, maka perkataanmu pun belum berarti benar. Persis seperti apa yang Ayu Utami tulis.

Itu saja yang masih kupegang. Ada lubang di setiap kesaksian dukun, yang biasanya sok dan merasa paling benar, yang butuh konfirmasi besar-besaran.

Besar-besaran!

Comments