#9 Tentang Rasa: Devosi Universal dan Doa Rosario

Aku bukanlah pemerhati bahasa yang mampu menilik makna tiap kata per kata. Hanya saja aku senang membaca artikel bahasa yang tak sengaja kulihat di majalah, misalnya. Rutin mencari tahu belumlah sampai sejauh itu.

Pertemuanku dengan kata devosi sudahlah sejak belia. Dalam beberapa kali menyaksikan Pastor melakukan sakramen doa kudus untuk kedua Opung ku. Atau saat Ibu mendaraskan Doa Rosario. Belakangan, aku juga berdoa Rosario.

Dalam Katolik, anutanku, Devosi adalah sebuah pengungkapan iman yang lebih emosional. Lebih luwes. Bahasaku lebih privat. Antara aku dan Yesus.

Dengan Devosi aktivitas beribadah jauh lebih intim. Dibanding Liturgi yang kaku.

Walau aku menyadari, gereja sudah mewanti-wanti sejak abad-15 bahwa Devosi bukanlah Liturgi.

Dalam devosi aku menyadari bahwa pengorbanan itu ada. Pengorbanan Maria misalnya. Sekarang aku mulai khusuk mendaraskan salam Maria dalam Rosarioku. Mencoba memaknai mengapa Tuhan memilih Maria untuk melahirkan Yesus. Bagaimana perasaan Maria yang terusir karena mengandung Yesus tanpa suami.

Rosarioku mendamaikanku. Melembutkan tanpa mengurangi nalar kritis dalam berdoa. Lima belas janji Maria kutagih di dalamnya. Walau kata Ibu bukan itu tujuannya. Toh berdoa soal dialog, mau kau memulainya dengan rongrongan atau syukur, doa tetaplah doa.

Temanku yang beragama Budha pernah bilang jika berdoa adalah tentang penyerahan diri. Bukan semata meminta, tapi menyatu dengan semesta. Merasakan deburan semesta pula untuk menemukan damai. Ia menemukan devosi dalam doa.

Sementara Taufik, ia Muslim. Bukan itu poinnya. Taufik mengembangkan arti devosi sendiri. Baginya devosi tak semata soal religiusitas.

Ada makna universal yang ia sari dari devosi. Pengorbanan yang lebih agung.

Baginya devosi adalah spontanitas yang luhur. Perasaan ingin memuaskan yang dikasihi. Membelai rambut gadismu, menyiapkan sarapan untuk anakmu, bekerja untuk keluargamu.
Pengorbanan-pengorbanan yang sedikit terpeleset dari pakem heroik. Lebih sederhana, tapi bagi Taufik lebih agung pula.

Taufik menyeret devosi ke ranah hubungan emosi antar manusia. Yang justru kupikir tak ada beda dengan semangat devosi dalam Rosarioku. Cinta kasih.

Bukankah tujuan agama juga itu? Walau sejarah lebih sering mempertontonkan arogansi pemeluknya sehingga agama bukan lagi dipandang sebagai jawaban untuk perdamaian dunia. Sebuah cinta kasih.

Aku juga sempat geram, begitu juga dengan teman Budha ku, dan teman Muslimku, Taufik, melihat bagaimana agama memainkan peranan yang cukup besar di negeri ini.

Agama mayoritas mengebiri yang minoritas. Sehingga kami sempat tak percaya pada institusi agama. Kami berdasar kepada nilai-nilai kemanusiaan yang sebenarnya ada di agama tapi kabur oleh arogansi pemeluknya.

Apa agama tidak bisa menyatukan manusia?

Taufik bercerita, dalam Islam ada cerita menggetarkan soal Nabi Muhammad yang penuh toleransi. Ia bisa menyatukan beragam suku saat memindahkan Batu Hitam kembali ke Ka'bah.

Jadi apa yang sulit dalam toleransi? Sulit jika yang memimpin bukan Islam?
Inggris bukan dipimpin Islam, tapi pertumbuhan umat Islam dicatat tercepat dalam sejarahnya.

Menurutku devosi versi Taufik juga bisa dikembangkan untuk hal semacam ini. Kita mengelus perdamaian, senang melihatnya. Apalagi yang lebih menyenangkan dari damai?

Aku, teman Budhaku, dan teman Muslimku masih percaya pada institusi agama yang sempat membuat kami mual. Sebab iman kepada Tuhan adalah keintiman yang hakiki. Bukan sekadar lambang atau rutinitas tak bernyawa. Ada devosi di mana-mana.

Ada devosi di doa-doa kami.

Yakinlah, walau institusi agama hari ini masih membuatmu mual, kembali lah ke titik nol. Terkadang kosong akan lebih membuatmu waras. Rasakan bagaimana Tuhan, dengan cara apapun kau menyebutnya, memberimu wujud devosi.

Versiku, versi teman Budhaku, atau versi Taufik yang universal.

Menurutku, devosi, secara universal, bukan soal kerelaan semata, ada keterikatan dan lafas-lafas doa di dalamnya.

Comments