Apakah Tuan Perajuk Ada di Sini, Nona?
Apapun sebetulnya dapat mengubah seseorang. Kejadian-kejadian sederhana yang kadang membuat orang lain mengangkat alis, "kamu aneh, deh."
Sebab kadang hanya diri sendiri yang bisa mengencani satu kejadian.
Hal-hal yang mengubah kehidupan seseorang tak serta-merta bisa mengubah hidup orang lain pula.
Untuk itu jangan terlalu percaya pada pengalaman orang lain. Karena sikutan semesta sifatnya privat. Intim antara aku dan semesta, kamu dan semesta. Walau tak jarang kita dan semesta.
Baru untuk hal-hal yang cenderung derivatif dan struktural, kamu boleh agak percaya pada pengalaman orang lain.
"Apakah Tuan Perajuk ada di sini, Nona?" Hanya itu yang meluncur dari mulutku saat seorang perempuan membuka pintu itu. Ia mengenakan piyama tipis dan longgar di atas lutut. Rambutnya tergerai sebahu. Tak ada riasan make-up, dapat kupastikan ia segera berangkat tidur.
"Apa maksud kamu? Kamu siapa?" Ia balik bertanya.
"Aku temannya Tuan Perajuk. Aku pikir dia ada di sini."
Perempuan itu hanya diam. Raut mukanya menunjukkan ekpresi antara kaget, muak, dan siap-siap menelepon polisi. Lalu seorang lelaki muncul dari belakang sambil memeluknya.
"Siapa sayang?" Ia bertanya pada lelaki itu, yang disambut dengan pergunjingan mereka berdua dan si lelaki langsung menutup pintu.
Lelaki itu tak menghardik untuk membuatku pergi. Si Tuan Perajuk kembali ke pelukan perempuannya yang kupikir akan membicarakan aku di sela kegiatan seks mereka.
***
"Sudah kubilang jangan pernah mencariku di luar rumah. Kamu tidak bisa seenaknya begitu, dong. Ada kesepakan awal di antara kita, bahwa kita melakukan ini, aku melakukan ini sebagai bentuk respek ku ke kamu!"
"Aku hanya memastikan keberadaanmu. Kamu tak membalas pesan-pesanku. Kemana saja kamu? Wajar kan kalau aku mencarimu? Kamu kekasihku!"
"Tapi bukan kekasih yang bisa kugandeng ke mana-mana. Kamu juga harus ingat itu!"
"Tapi bagaimana kalau kekasih yang tak bisa kamu gandeng ke mana-mana ini ingin tahu kabarmu. Ingin dekat selalu denganmu..."
"Jangan kayak anak-anak, deh! Aku pikir kamu sudah dewasa untuk hal seperti ini. Kamu juga dulu yang ngasih tahu aku, kalau kamu siap dengan semua konsekuensi dari aku. Please do not do this anymore!"
"So please give me you! Aku juga butuh perhatianmu. Aku tak bisa melakukannya sendiri. Ini enggak akan berhasil jika yang menunjukkan reaksi hanya aku dan kamu terus-terusan bergeming. So please, will you do the same for me?"
"What thing? Aku harus menggandeng kamu seharian. Meneriakkan ke orang-orang that you're my partner? Huh?"
"Kuy, ini bukan cuma soal itu. Ini soal bagaimana kamu memperlakukan aku dengan pantas!"
"Aku pikir kamu enggak ngerti dengan konsep awal kita, konsep awal yang kamu buat sendiri. You told me, explained me, so then I said yes. Kemana semua itu?"
"Come on, I need you. The real you. Bukan soal eksistensi, tapi rasa kamu. Hati kamu. Jangan cuma aku dong yang berusaha. Do the same thing. We're in a same fucking system. This shit need us, both of us. Either you like or you don't, you have to give your attention, babe!"
"Stop calling me babe, from now on, I think you've lost control and I can't stay with you and your fucking system! Sorry but let me out. You better find another one, who wants to command by you!"
"Kuy! What are you talking about... Kuy... Kuy!!!"
***
Pernahkah kamu mendengar angin menyampaikan pesan dalam desingnya? Terkadang pesan itu hadir dalam satu dua huruf dan kemudian berlalu. Biasanya kita juga sadarnya belakangan. Setelah ada satu kejadian misalnya yang kemudian membuat kita berpikir dan mengaitkan satu dua desing angin di masa lampau.
Aku pernah dengar angin berbisik. Ia mengatakan "oak... oak." Aku juga pernah mendengar hujan berkata "lambat."
Jangan khawatir kalau kamu belum mendengarnya, kamu hanya perlu lebih dalam mendengar dan lebih dalam merasa. Sebab semesta punya cara-cara sendiri untuk menyikut kita.
Ingat, kamu juga jangan terlalu percaya kepadaku. Sebab aku saja masih mencari kemana Tuan Perajuk.
Setiap orang punya jalan hidupnya, teman. Aku hanya membagi cerita, mana tahu ada manfaat bagimu. Sebab katanya kita hidup di satu jaring laba-laba.
Aku hanya tak ingin menghancurkan bagianku dan membuatmu ikut menderita karenanya.
Lantas apa yang kita butuhkan untuk menguatkan jaring tempat kita berpijak sekaligus tak menggelincirkan kita dari situ?
Bagaimana menyadarkan semua orang untuk respek pada jaring masing-masing sebab kamu rusak, rusaklah kita semua?
Bagaimana mencari keberadaan Tuan Perajuk? Apakah aku harus percaya pada lelaki yang sudah mengkhianati temannya?
Will you do the same?, jika benar kita terhubung maka satu jaring telah putus dengan pekhianatan itu. Siapa yang akan kamu bantu, si penghianat atau yang dihianati?
Di mana kah Tuan Perajuk? Yang tahu tidakkah kamu mau memberitahu aku?
Comments