Nenek Mia yang Pengasih

Pagi belum lama menjejak tanah saat Nenek Mia mengajak kami semua untuk sarapan.

Di atas meja sudah tersaji aneka makanan yang menurutku cukup berat untuk dikonsumsi pagi-pagi. Berbagai rebusan sayur, ikan dan daging asap yang digulai, aneka sambal, air putih, buah pisang, teh dan kopi yang uapnya mengepul.

Sebetulnya menerbitkan selera. Namun, aku terbiasa dengan makanan simpel namun berenergi di pagi hari.

Setelah makan Nenek Mia mengeluarkan lagi pisang goreng dengan ketan bertabur kelapa parut.

Lantas aku berpikir, harusnya tadi sarapan ini saja. Tak enak hati menolak, kami makan saja pisang goreng itu dan begah lah perut kami.

Nenek Mia memang kerap menjamu tamunya dengan baik. Masna, puteri semata wayangnya, menceritakan ini kepada kami.

Nenek Mia akan memperbesar keramahannya yang memang sudah ramah, memperbanyak porsi makanan yang memang sudah banyak, dan membuat kami ingin lagi bertandang ke mari.

Pada malam terakhir kami di rumahnya, aku menyempatkan bertanya pada Nenek Mia sebelum ia terlelap.

Hampir seminggu di sini kami tidak pernah berbincang santai. Karena pagi setelah sarapan kami segera ke hutan rakyat dan tiba di rumah ini saat waktu magrib hampir habis.

"Nek, mengapa Nenek selalu menerima tamu?"

"Karena Nenek senang menyenangkan orang lain," sahutnya.

"Itu saja, Nek?"

"Apakah kita perlu alasan lain untuk mengasihi sesama?"

Lantas aku terdiam. Begitu juga dua temanku yang lain. Bergantian kami menyalami dan menciumi tangannya.

Ia harus segera tidur, besok pagi kami pulang ke kota. Tugas kuliah ini sudah rampung. Aku pikir ia akan sangat sibuk.

Comments