#6 Tentang Rasa: Prasangka dan Hukum Murphy

Apa yang termasuk mengerikan di dunia ini? Seorang teman pernah menjawab ialah lidah dan prasangka-prasangka yang ditebarkan.

Lidah menjawab fitrah manusia dari yang pertama. Ia bisa jadi perwujudan dari perkataan dalam diri. Bisa pula menyetir, menyortir, dan membunyikan perkataan dari dalam diri. 

Sebuah keniscayaan yang ada seiring manusia menjalani hidup. Sebuah jejak yang katanya berpola. 

Maka oleh lidah, perkataan dalam diri bisa jadi mewujud petaka. Lidah bisa saja memancing pendapat atau menyusun pazel-pazel tertentu berdasarkan penuturan-penturan retoris.

Yang sering terjadi adalah lidah itu kerap berhenti pada titik sejenis. Ia menemukan koloninya, merasa benar dan sudah. Membentuk kabut prasangka yang menyenangkan koloninya dan menyesakkan siapapun target mereka.

Pasangka memang wajar dimiliki tiap insan. Prasangka sebetulnya tak perlu lidah untuk memicu. Lidah hanyalah perkakas untuk menyampaikan prasangka.

Sejatinya lidah mengeja makna prasangka. Dan di sinilah koloni itu sering tergelincir, merasa semesta memihak mereka.

Kabut itu kian menyesakkan. Ia mematikan yang masih ingin hidup. Mau tak mau, gulma bagi koloni harus disingkirkan!

Gulma, entahlah mereka menyebutnya begitu, tak selamanya gulma. Koloni itu seperti cemara, mematikan segala tumbuhan dekat pokoknya.

Dan apa yang Hukum Murphy bilang: bahwa segala sesuatu yang kita lakukan, hasilnya pasti salah.

Sang Gulma mati, tanpa pernah dikonfirmasi!





Comments