#Bellaxxx 1: Musim Dingin Berkabut di Glasgow



Bella berjalan lebih lambat dari orang-orang di sekelilingnya. Ia mengenakan mantel berwarna tanah dengan boot setinggi lutut yang membenamkan celana jeans tebalnya.

Bukanlah pilihan bijak untuk melenggak-lenggok di Jalanan High pada hari-hari musim dingin berkabut seperti ini. Walau Glasgow cukup hangat karena dibentengi Lembah Clyde dan angin teluk. Tapi Bella sangat ingin sekali berjalan, ia ingin kemana saja.

Ia berencana melihat Sungai Clyde, masuk ke toko buku di Buchanan Road atau sekadar menikmati kabut bersama Glaswegians lainnya di George Square. Ia yakin tak sendirian di tengah kabut musim dingin yang menyesakkan.

Masih di High Road yang tergesa-gesa, Bella menyulut rokoknya. Selalu rokok dengan TAR tak lebih dari 4,45 MG dan 0,5 MG Nikotin. Ia merasakan kebersahajaan di situ.

Sesaat kemudian ponselnya berdering, memunculkan nama seorang pria yang membuatnya tak bisa berdiam diri sejak semalam.

Walau sempat urung menjawab, alih-alih mematikan ia justru menerima panggilan itu.

Terdengar suara William yang serak dan jantan di ujung sana.

Bella kemudian hanyut dalam bayangan akan tubuh William yang tinggi berambut cepak pirang, otot-ototnya sesak di balik kemeja berharga ratusan pounds. Matanya yang biru jernih memberi kesan maskulin yang lembut di mukanya yang tak gahar.

Belakangan, Bella asyik memperhatikan William di majalah-majalah fesyen tersohor. William sangat menonjol di antara model-model lain. Dengan matanya yang teduh, sayu, namun sangat tajam. Tubuh jangkung yang berotot namun tak gempal dan sangat menggoda untuk dipeluk.

William mengajaknya untuk menginap di flatnya di London akhir pekan nanti. Undangan William terdengar tulus walau Bella menangkap banyak kilatan lain.

Hingga percakapan telepon itu berkahir, Bella belum memberi jawaban ya atau tidak. Ia hanya mendengus atau bergumam pelan. Tak memberi petunjuk apapun untuk William.

Bella lalu berjalan cukup jauh menuju Bunachan Road dan masuk ke salah satu kafe di sana. Sebelumnya ia sempat membeli majalah yang memampang tubuh William yang nyaris bugil.

William adalah perbedaan besar baginya. Walau sama-sama bekerja di industri hiburan, tetapi bagi Bella, William ada di tempat yang penuh sanjungan, penuh kebanggaan, dan tidak memalukan. Walaupun William bugil di Majalah, semua orang beranggapan itu keren, seni pop yang bernilai jutaan pounds.

Sedangkan Bella ada di tempat di mana ia adalah bintang namun tak membuatnya menuai simpati publik. Alih-alih hanya pendapat mesum yang diterimanya.

Keduanya adalah paradoks.
Dari tempatnya duduk, Bella dapat menangkap gelagat pengunjung kafe kepadanya. Mereka mungkin pernah melihat Bella di sampul-sampul dvd atau internet.

Pria yang duduk di depannya malah mengumbar gerakan intimidatif yang disambut cuek oleh Bella. Ia sudah kebal untuk hal-hal seperti ini. Walau di saat bersamaan, Bella juga merasa nyaris meledak. Ia merasa bintang yang aneh.

Bella kemudian larut dalam artikel-artikel tentang William dan foto-tonya memeluk gadis telanjang kurus yang menjijikkan sekaligus terlihat menawan dan penuh pesona. Mereka terlihat serasi dan berbudaya, padahal tanpa busana.

Bella menduga mungkin saja William membuat iri jutaan pria di luar sana atas kesuksesan karier, riwayat hidup dan keluarga, dan tentu saja tubuhnya yang terpahat sempurna.

Pasti banyak wanita dan pria gay yang ingin tidur dengannya. Apakah Bella harus berbangga karena mendapat undangan menginap di flat William?
Bella tak suka membayangkannya. Ia lebih memilih menyantap makanan besar dan sebotol anggur yang ia pesan.
Dari televisi, ia dapat melihat kesebelasan Manchester United baru saja menang besar 8-2 atas Arsenal di Old Trafford.

Bella merasakan kehangatan atas kemenangan Manchester walau tak begitu menyukai bola. Namun ada kutup-kutup yang membuatnya begitu terkait dengan kegembiran Manchester United, terlebih kota asal klub itu.

Ia kemudian memencet sebuah nomor dan berbicara sebentar dengan seorang perempuan di ujung sana. Perempuan itu menanyakan beberapa hal yang ditutup dengan ucapan terimakasih dari Bella.

Sejurus kemudian Bella menulis pesan singkat ke pada William, walau ia tak begitu yakin. Namun ia merasa perlu melakukan itu.

Perasaannya hampir mirip ketika ia menerima hadiah ulangtahun ke-20 dari ayahnya bertahun-tahun silam. Sebuah tiket, dan paket beasiswa ke Inggris yang ia terima dengan berurai air mata.

Entah apa yang kini ayahnya lakukan di salah satu perkebunan di Asia itu, menantinya atau mengutuknya.

"Will, tawaranmu masih berlaku, kan? Aku juga mau ke Manchester, semoga kamu mau menemaniku. Bellaxxx"

[Lanjut membaca Eps 2]

Comments