#10 Tentang Rasa: Akulah Orang yang Mencintaimu

Kesempatan itu kembali datang. Kali ini tiba-tiba saja. Tanpa perencanaan seperti sebelumnya. Mungkinkah begitu? Sesuatu yang kita inginkan dapat terjadi seketika, begitu saja. Bahkan saat kamu tak mau lagi untuk sekadar membayangkannya?

Aku sendirian di taman. Memeluk sepi yang tiba-tiba membaluti semua persendian ini. Hingga tak lagi bisa menggerakkan tubuh ini sebagaimana mestinya. Selalu berhenti sebab tak kuat menahan sakit yang menyeruak. Kupikir aku bisa menghadapi hal-hal seperti ini sendirian. Seperti banyak hal yang kerap kulakukan sendiri beberapa tahun belakangan.

Aku tak tertarik membagi cerita sedihku kepada siapun, dengan alasan apapun. Apalagi sejak aku tahu dan mengalami sakitnya dihianati, ditusuk dari belakang oleh orang terdekatku, teman, atau sahabat, atau apapun orang-orang menyebutnya.

Rupanya aku salah. Aku tak kuasa menjalaninya sendirian. Selalu ada ruang yang minta diisi tetapi kuacuhkan begitu saja. Pura-pura tak kudengarkan sekeras apapun ia meminta. Selama ini aku kuat, tapi kali ini jurusku tak berlaku. Tidak untuk malam ini.

Maaf, sebetulnya  aku tak selalu mengingatmu di saat-saat seperti ini. Seharusnya kamu juga tahu, bahwa aku selalu memikirkanmu di banyak waktu, di  banyak situasi. Sudah pernah kuutarakan ini dan kamu malah menyarankanku untuk membuang semua hal tentangmu dari dalam kepala dan hatiku.

Maaf aku kembali menghubungimu. Kesempatan yang kumaksud bukanlah yang tiba-tiba datang begitu saja. Bukan yang terjadi begitu saja. Tapi aku melemparkan dadu, berjudi akanmu, dan sepertinya aku beruntung mendapatkan perhatianmu malam ini, walau hanya sedikit. Tentu saja bagiku itu adalah kesempatan yang tiba-tiba datang, tanpa perencanaan, dan terjadi begitu saja.

                                ***

Tidakkah tempat ini terlalu ramai? Bagaimana mungkin aku bisa bercerita di sini. Pikiran itu mengisi benakku saat mencari keberadaanmu. Aku malah bertemu  teman yang tak ingin kutemui  dan kamu belum juga terlihat sejauh ini. Kali ini kuharap kamu tak bercanda mau menemuiku, sebab hal seperti itu selalu terjadi sebelum malam ini. Hanya saja kumohon jangan untuk malam ini.

“Hai.”

Begitu saja dan semua ragu mendadak hilang ditelan bising bincang manusia satu ruangan. Aku tersenyum, kali ini kamu tak bercanda. Kamu betul-betul ada. Aku pamit dari temanku dan mengikutimu ke dalam. Duduk di sebuah meja yang sudah diisi oleh teman-temanmu. Bisakah hanya kita berdua, tidak di tempat bising ini dan tidak bersama teman-temanmu?

Lihat, aku belum bisa mendapatkanmu, masih belum bisa menjadi prioritasmu. Kamu lakukan ini hanya agar aku tak meratap sendiri. Tapi dengan mengajakku  ke mari, bersama teman-temanmu, ini tak ada beda, sayang. Kesedihan ini kembali kuhadapi seorang diri seperti biasanya. Kehadiranmu hanya sebatas jasad. Bukan ruh, bukan jiwa yang siap mendengarkanku.

Akulah orang yang paling menyedihkan saat ini. Melebihi sedihnya dari orang yang menebar cinta palsu dan mendapatkan cinta palsu. Akulah orang yang menebar cinta yang kujamin murni, dan mendapatkan belas kasihan darimu. Aku tak menginginkan itu.

Begitu saja, dan aku hanya diam. Tak membagi cerita sedihku sedikitpun kepadamu. Dan lihat, kamu juga tak menggubrisnya sedikit pun. Kamu masih tak benar-benar ada untukku.

Aku berkata dalam hati, teruntuk kedua bola matamu, teruntuk rambutmu yang lurus-lurus, teruntuk tawamu yang renyah, teruntuk lenganmu yang mengkilat, teruntuk senyummu yang memabukkan, dan teruntuk perbincangan virtual kita: aku ingin kamu melihatku sebab kamu tercermin di diriku, aku tak ingin kehadiranku hanya untuk membuang sepi. Sebab kamu pun bagiku bukanlah pengusir sepi. Aku  melihat diriku terpantul dari dirimu. Mungkin aku bukanlah satu-satunya orang yang mampu memberimu cinta. Tapi dengan percaya diri kukatakan, akulah satu-satunya orang yang tak pernah menyerah untuk jatuh cinta kepadamu, untuk mencintaimu. Selalu begitu.

Comments