#11 Tentang Rasa: AKP ML

Perkenalanku dengan beberapa orang di bawah ini sebetulnya sudah lama. Menahun sudah bergaul dengan mereka. Dari masih menutup diri hingga terbuka soal orientasi seksual mereka. Namun baru beberapa waktu lalu, kupikir aku mengenali mereka satu per satu.
Mereka adalah lelaki yang masing-masing punya pandangan soal cinta dan seksualitas.
Mendengarkan cerita mereka membuatku berpikir tentang betapa tak tertebaknya hati dan rasa. Atau betapa banyak orang yang menikmati kehadiran mereka, walaupun di saat bersamaan juga menistakan mereka. Atau betapa tak adilnya jika seksualitas itu dikotak-kotakkan, jika sebetulnya ia bisa membentuk apa saja. Laksana air yang membejana bila ia di dalam bejana. Atau menganak-sungai bila ia mengalir hingga ke muara.
Orang pertama yang ingin kuperkenalkan, sebutlah namanya Melankolis. Setelah hilang kontak lebih dari setahun, kami bertemu kembali seminggu setelah purnama membulat jelang Syawal.
Ia galau, gundah-gulana. Kekasihnya tak lagi semesra di awal hubungan mereka. Frekuensi pertemuan, kualitas perbincangan, menurun dan terus memburuk. Hingga sampai pada titik enggan untuk melanjutkan hubungan tapi sungkan pula menyudahinya.
Di tengah masa galaunya, berulangkali tawaran perkenalan menghampiri Melankolis. Jika dulu ia bisa  mengabaikan dan menolaknya dengan mudah, kini justru ia begitu menyukai tawaran itu. Tapi ia tak bisa bergerak lebih jauh, karena kesetiaannya mengikat kaki dan kedua tangannya. Janji pada diri sendiri, sebab kekasih sudah ia miliki.
Melankolis dilema, merutuk diri sepanjang waktu.
Di sebelah Melankolis, duduk pula Pialang. Pembawaannya riang, gemulai, namun otot-ototnya merekah sempurna. Ia begitu membanggakan kemolekan tubuhnya. Banyak lelaki yang akhirnya terpincut dan bercinta dengannya.
Tak terhitung sudah berapa banyak lelaki yang memacu berahi dengannya. Dari kampung sini, kampung sebelah, sebelahnya lagi, sebelahnya lagi, sebelahnya lagi. Narapidana; pemadat; suami orang; anak-bapak; pemuka agama.
Pialang sangat berbeda dengan Melankolis. Bagi Pialang, cinta adalah absurdivitas. Chaos tak berkesudahan. Cinta adalah sebuah konsep yang tak bisa ia pegang saat ini. Jika ia menerima cinta, rasa-rasanya butih waktu lama. Butuh banyak petualangan. Namun satu petualangan ke petualangan lain seolah menuntunnya untuk tak berharap pada cinta. Dan justru membebaskannya untuk terus berpetualang.
Ia adalah petualang sejati yang tak ingin kakinya terbelit dan menghambat perjalanannya. Cinta dalam dirinya adalah sebuah anomali yang menggetarkan hati siapapun yang melihatnya.
Kepiawaiannya dalam bertualang juga memberinya banyak kelebihan. Ia bisa tahu semua cerita dari semua sudut pandang. Di sela-sela dekapan lelakinya, biasanya mereka akan menceritakan kehidupannya. Pagutan demi pagutan menguak kejujuran dari setiap lelakinya. Semakin jujur lelakinya, semakin terpuaskan ia. Semakin bisa pula ia memuaskan lelakinya.
Pialang membuka satu preferensi soal rasa.
Orang ketiga yang kutemui - ia juga duduk di depan Melankolis - menyanyikan penggalan lagu diva kenamaan negeri ini. Suara sumbangnya kontras dengan sunyinya malam. 
Namanya Anak Kesayangan. Remaja belasan tahun yang putus sekolah. Baru saja menetas dan masih takut jika orang lain tahu orientasi seksualnya. Namun ia punya mimpi setinggi langit, setinggi mimpi idolanya, diva kenamaan negeri ini.
Anak Kesayangan rupanya sedang dimabuk cinta. Beberapa waktu lalu seorang remaja, usianya lebih muda sedikit dari Anak Kesayangan, baru saja pindah ke dekat rumahnya. Saban hari Anak Kesayangan mengagumi paras tetangga barunya tersebut. Ia mencari cara agar bisa berkenalan.
Cara itu pun ditemukannya di satu pagi.Tetangga barunya hendak pergi ke sekolah, namun tak satu pun angkutan umum lewat. Anak Kesayangan menawarkan bantuan untuk mengantar si Tetangga. Tawaran itu bersambut, juga tawaran lainnya untuk menjalin kasih. Anak Kesayangan tak menyangka jika ia bisa mendapatkan kekasih semudah itu.
Setiap hari, keduanya memadu kasih. Seolah tak ingin melewatkan satu detikpun tanpa bersama. Tak ada yang lebih indah memang jika melihat dua orang yang di mabuk cinta.
Tak habis-habis cerita Anak Kesayangan tentang lelakinya. Mengucap syukur dan membanggakan nasib yang menghantamnya. Walau di ujung cerita ia sedikit mengeluh sebab tak sedikit biaya yang harus ia keluarkan untuk membiayayai cinta mereka. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Melankolis untuk memojokkan Anak Kesayangan.
Bagi Melankolis, cinta tak membuat salah satu di antara keduanya menderita. Cinta itu dua-duanya bahagia atau dua-duanya menderita.
Kemudian Pialang menyela, cinta itu menyedihkan, membuatmu mengeksploitasi satu tubuh untuk seumur hidupmu. Tak cerdas!
Orang terakhir yang kutemui, namanya Lencana. Aku bertemu dengannya di satu kesempatan lain saat purnama berikutnya baru setengah membulat.
Lencana tengah menghirup rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asap tebalnya perlahan-lahan. Asapnya menggulung menyesaki ruangan sempit itu. Setelah rokoknya habis, ia kemudian meminta rokok lagi pada Pialang. Pialang memberinya rokok juga beberapa lembar uang pecahan lima ribuan. Biar makin sayang, kata Pialang.
Rokok dan uang itu diterima Lencana tanpa sungkan. Seutas senyum mengembang di wajahnya. Membentuk lesung pipit yang membuat Pialang rela membayar. Rupanya Pialang terkadang suka memancing juga, memberi uang kepada lelaki favoritnya dianggapnya sebagai satu keharusan. Tanggung jawab sekaligus menaikkan kelas Pialang.
Lencana kemudian akan datang lagi, jika butuh uang atau butuh rokok atau butuh menuntaskan berahi. Lencana akan meninggalkan perempuannya dan berlabuh ke Pialang.
Lencana adalah fenomena. Muda, jantan, berparas rupawan, berotot kekar, bersenyum manis, dan berbau harum, penuh sesak dengan stereotip maskulinitas. Timbul-tenggelam tak berujung. Pialang akan tertarik, walau ia tak akan menetap. Seperti mau Lencana, menempel sementara saja dan tak usah berlama-lama.                              
                                  ***
Dentingan lonceng gereja memekakkan telinga di Minggu pagi. Berbondong-bondong anak-anak pergi ke Sekolah Minggu, disusul muda-mudi, suami-istri beberapa waktu berikutnya. Tua, muda bersatu khidmat dalam doa. 
Dari balkon rumaku persis di muka gereja. Satu dua orang kukenali sebagai lelaki Pilang, atau pernah tidur dengan Pialang, atau masih suka mengunjungi Pialang. Membuatku mual beberapa saat. Menolak eksistensi Pialang, tetapi diam-diam mengencaninya.
Dari balkon rumahku di muka gereja, aku panjatkan doa; untukku; untuk Pialang; untuk Melankolis; untuk Anak Kesayangan; semoga Tuhan melimpahi kebaikan. Untuk Lencana dan untuk semua manusia, semoga Tuhan memberkati!

Comments