#12 Tentang Rasa: Semua Orang Memanggilnya Drama
Namanya begitu umum, terkesan biasa saja. Penampilannya juga tidak mencolok. Tak pernah sekalipun dia berani mengekspresikan dirinya dalam realitas. Ia selalu tersangkut di bait-bait yang ia rangkai, di mimpi-mimpi yang ia buat, di skenario-skenario yang ia cipta dan tenggelam jauh di kebohongan yang ia permak.
Lantas, itukah alasan mengapa semua orang memanggilnya Drama?
Aku coba menafsirkannya dari fase di mana persilangan takdir pernah menempatkanku di dalam dramanya.
Ia dulu memesona, tabiatnya menjanjikan kemashuran. Kemampuannya begitu silau. Celanya hanya di penampilannya yang menyedihkan dan sesuatu yang kusadari kemudian: egonya.
Sungguh tak enak berbicara dengannya. Tak akan pernah bisa tuntas. Bukan soal kata-kata atau bagaimana dia menyampaikannya. Tapi kesan dan citra yang kemudian muncul mampu membelalakkan matamu. Ia tak sesederhana itu. Ada kegelapan yang coba disembunyikan. Kau tak bisa merangkai mimpi dengannya.
Setidaknya aku tak bisa. Ucapannya mengandung pikat dan ragu yang kentara mendesak konfirmasi.
Telingaku pun sakit menangkap aliran informasi dan menyuplainya ke otak yang juga bekerja seratus kali lebih keras sekadar untuk memindai, benarkah itu?
Atau karena alasan inikah orang memanggilnya Drama?
Kuungkapkan mimpiku padanya dan dibalas dengan buncahan mimpinya yang menyesakkan. Tak memberiku kesempatan untuk bernapas. Bahkan jika itu hanya kalian berdua. Ia tak pernah ingin kalah. Pun sejak dalam pikiran. Dominasinya tak terduga dari penampilannya nya yang tak berselera.
Ia paradoks. Ia adalah penikmat relativitas tiada henti. Aku berani berkata demikian sebab apa yang disampaikannya kepadaku adalah versi lain dari dirinya yang pernah kulihat nyatanya, kudengar dengungnya, dan kucium belangnya. Ia membuat banyak skenario untuk tujuan apapun yang ingin dicapainya.
Perlakuan yang ia buat berbeda terhadap semua orang. Alih-alih rumit, semuanya sederhana dan rapuh. Hanya butuh keberanian untuk menyilang konfirmasi.
Sebab aku tak butuh kesadaran penuh dan intelegensi tinggi untuk kali pertama menyadari dramanya. Ya, dia memang pantas dipanggil Drama.
Drama adalah pakem dari samsara. Drama adalah pembohong ulung menurut sebagian orang, perencana tak teliti menurut sebagian yang lain, dan pengarang cerita terburuk yang pernah kutahu. Drama adalah penulis satire untuk dirinya sendiri.
Kebersamaan kami pun segera kuakhiri karena tiada manfaat yang bisa kudapati. Padahal setiap orang yang kutemui selalu memberiku pelajaran. Darinya justru aku tak selera. Sebab polesan kepalsuan yang ia tonjolkan sungguh membuat mual.
Tapi cukupkah alasan itu untuk membuatku memanggilnya Drama?
Aku pernah menyaksikannya bereaksi pada beberapa hal yang bertolak-belakang dan pada belangnya yang terpapar. Kudapati satu hal tentang dirinya: Ia tak percaya diri dan tak menyukai dirinya sendiri. Tak ada kebahagiaan di situ.
Dia ingin kudus. Ingin dihormati, dimuliakan, dipentingkan, dan tak boleh dinodai. Padahal apa salah menjadi profan selama mau menjadi diri sendiri.
Untuk menjadi kudus tadi ia lakukan apapun dengan skenarionya. Tak peduli belang terlihat atau tidak. Jika orang kepalang tahu, ia playing victim.
Mereka yang masih terjebak medan magnetnya, samsaranya, akan iba menyokongnya. Kekuatannya ada pada boneka-bonekanya.
Dia memang Drama!
Aku tak peduli alasan orang lain memanggilnya Drama karena apa, sebab alasan yang kukunyah sudah cukup untuk mengamini label itu.
Dialah kesedihan yang tiada berujung selama ia menebar kepalsuan. Sebab kepalsuan pula yang ia tuai.
Manusia memang lahannya drama tumbuh, gimmick penting di saat yang tepat. Tapi dramanya Drama yang merusak adalah wabah. Dan Drama itu sendiri yang punya penawarnya.
Comments