#Bellaxxx 3: Masa Lalu dan Lelaki yang Tak Tahu Apa-Apa


Bella melihat William duduk di lantai depan stasiun masaknya dengan tangan kanan memegangi pergelangan tangan kirinya. Mulutnya dimoncongkan dengan maksud meniup.
Bela sekonyong-konyong menghampiri William. Rupanya margarin panas di dalam teflon jatuh dan mengenai tangan Will. Bella bergegas ke toilet dan mengambil pasta gigi untuk dioleskan ke tangan Will.
"It's okay, Bella. I'm fine." Namun Bella tak menggubris pernyataan Will dan tetap mengoleskan pasta gigi tersebut. Warna pastanya mengingatkan Will dengan masker wajah yang kerap ia gunakan.
"Aku tidak pernah tahu kalau pasta gigi bisa mengobati luka bakar," ucap Will setelah Bella menutup botol pasta gigi itu.
"Yeah, tetapi di tempatku, ini manjur sekali," jawab Bella, "dan kita harus segera ke dokter setelah ini. Kamu istirahat dulu. Aku saja yang membuatkan sesuatu yang konyol untuk dimakan."
Will bergegas meninggalkan Bella di dapur menuju kamarnya. Tak henti ia merutuki dirinya pelan. Betapa cerobohnya dia sampai-sampai rencana pertunjukan romantisnya gagal. Sebetulnya ia tetap ingin menemani Bella di dapur, tapi perempuan itu terus saja memaksanya untuk menyingkir dan beristirahat. Kentara sekali jika Bella selalu mengerjakan segalanya sendirian. Bahkan tak bisa membedakan tuntutan William antara mana yang harusnya Bella kerjakan sendiri dan mana yang harusnya bisa dikategorikan cara William memanjakannya.
Selesai makan, keduanya berpakaian rapi dan menuju rumah sakit. Luka sekecil apapun tentunya sangat berpengaruh bagi karir William.
Dokter mengatakan tak perlu khawatir karena luka itu nantinya tak akan berbekas dan memberikan salap. Keduanya lantas meninggalkan rumah sakit.
                             ***
Siang ini, London masih digulung salju. Sambil menyetir, Bella sesekali melirik Will yang dari tadi memejamkan matanya. Entah larut dengan lagu yang tengah diputar atau memang tertidur. Bahkan Will terlihat begitu menggoda dalam tidurnya, jika ia memang tidur.
Timbul keraguan di benak Bella untuk menanyakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Dan apakah William diantar saja ke rumahnya. Tetapi, Bella pun tahu jika Will tak punya acara bahkan sampai dua hari ke depan. Bella punya urusan yang harus segera ia lakukan di Manchester.
Dengan niat tak ingin mengganggu Will yang matanya terpejam, ia memantapkan diri untuk melajukan kendaraannya ke Manchester. Bella tak terlalu peduli dengan reaksi William nantinya.
Jalanan di luar kota London menuju barat laut cukup ramai. Namun, Bella bersyukur tidak ada kemacetan atau penutupan jalan karena tumpukan salju.
Memasuki perbatasan Manchester, Will yang sedari tadi nyaris tak bergerak memperbaiki duduknya dan kelihatannya ia sudah bangun. "Aku sepertinya tertidur," Will bekarta, "dan kamu membawa kita ke mana?"
Bella menggigit kedua bibirnya sambil sesekali menoleh ke arah William. Kentara sekali rasa takutnya namun juga ada kesan lucu yang juga muncul.
"We're going to Manchester. Maaf aku enggak tega bangunin kamu. Jadi kupikir enggak masalah membawamu ke sana," jawab Bella.
"Oh, I see. Kelihatannya kamu memang punya urusan penting di sana.
Aku minta maaf. Seharusnya kamu tidak perlu menyetir sejauh ini. Andai saja..." Bella langsung memotong pembicaraan William, "Oh, tentu tidak masalah. Justru aku yang meminta maaf. Kamu jadi repot nemenin aku."
Menjelang sore mereka memasuki Longsight dan Bella menyetir ke arah Stockport Road. Tak lama berselang, ia berhenti di depan sebuah flat empat lantai.
William membuka jendelanya dan menengadah sebentar. "Kita akan masuk ke mari?" Tanya Will.
Namun Bella tak segera menjawab. Ada sejumput keraguan menyelinap ke dalam hatinya. Ia ragu mengajak William masuk namun ia lebih merasa bersalah lagi apabila William ditinggal sendirian di mobil. "Iya, aku akan menjumpai seorang teman lama di sini," Bella menjawab sekenanya.
Keduanya lantas turun dan memasuki flat. Longsight memang tak diguyur salju selebat London, tapi hawa dingin tetap saja menusuk sampai ke tulang.
Sesaat memasuki flat, Bella menuntun William untuk memasuki lift dan kentara sekali wajah Will mengisyaratkan apakah lift bobrok ini berfungsi. "Santai saja, lift ini aman, kok. Tunggu sampai kamu melihat bagaimana flat temanku. Kuharap kamu bisa menahan mimik jijik di wajah tampanmu itu," sekak Bella. Dan William yang diceramahi seperti itu mendadak cemberut dan mengacak-acak rambut Bella dengan gemas.
Lift itu berhenti di lantai tiga. Bella keluar duluan disusul William di belakangnya. Bella memencet bel di depan satu pintu dan tak lama berselang, pintu terbuka menampilkan sosok wanita Asia dengan ekspresi keterkejutan yang mengagetkan William. William berpikir kalau kunjungan Bella ini bukanlah  kunjungan biasa. Ada selubung dingin yang membentengi dua wanita Asia di hadapannya. Dinginnya bahkan mengalahkan hawa dingin Longsight malam itu.
Mereka kemudian masuk, dan William tak mengerti sepotongpun pembicaran dua wanita Asia itu. Tapi ia bisa menangkap kebencian besar di mata teman Bella terhadap Bella dan keengganan bersua yang sangat terasa. Untuk apa Bella jauh-jauh berkunjung dari London, oh tidak, dari Glasgow jika sambutannya seperti ini.
Menit berikutnya bahkan lebih buruk. Kedua wanita Asia itu berpindah ke area lain di dalam flatnya dan meninggalkan William sendirian.
Terdengar teriakan amarah yang sempat membuat William berdiri dan ingin melihat Bella. Namun, niatnya terhenti karena Bella tiba-tiba berteriak meminta William jangan khawatir karena ini urusan mereka berdua. William menurut, mungkin urusan itu harus diselingi teriakan dan pekikan dalam bahasa aneh yang tak ia mengerti.
Lima belas menit kemudian Bella keluar dari ruangan itu dan menarik tangan kanan William untum keluar dari flat temannya itu.
                             ***
Bella hanya diam, menyetir mobilnya ke sebuah motel dan menyarankan mereka menginap di situ. William juga belum mau bertanya banyak walau sebetulnya ia sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Menurutnya ia punya hak untuk tahu, paling tidak soal apa yang terjadi di flat tadi.
Sambil menutupi wajahnya, agar tak ada yang mengenali. William juga sadar diri, ia tak mau jika besok bangun dengan deretan berita menjijikkan soalnya di media. William mengekor Bella yang sudah di bibir motel.
Setelah melakukan pemesanan kamar, keduanya langsung menuju sebuah kamar dan Bella mengehempaskan dirinya ke atas ranjang.
Will memandangi Bella yang telungkup. Ia menyalakan rokoknya dan melihat punggung wanitanya bergetar. Sepertinya Bella menangis.
Will menghampiri ranjang dan naik ke atasnya. Ia membelai rambut Bella dan mencoba menemani wanita itu menangis walau tak ia pahami sebab-musababnya.
William juga tak tahu mengapa ia begitu peduli dengan Bella. Ia sudah mengencani banyak wanita, tetapi kali ini ia seolah dibuat patuh mengikuti cerita yang wanita itu buat. William tak punya kesempatan untuk menentukan. Tapi entah mengapa ia menyukai atau paling tidak tak melalukan perlawanan akan hal itu.
William membuka bajunya dan menimpa Bella di bawahnya. Bella masih menangis dan William kembali mencoba menenangkannya. William menciumi punggung Bella terus ke tengkuk dan rambutnya. Turun lagi ke tengkuk Bella dan mencoba memberikan kehangatan untuk wanitanya. "Aku tak tahu apa yang kamu hadapi. Tetapi aku tak keberatan untuk mendengar ceritamu," bisik William.
Bella masih menangis.
"Terkadang, tak semua yang kita harapkan terjadi, justru terjadi. Jika itu sungguhlah buruk, belum tentu semuanya berakhir, bukan?" William masih mencoba, "Apapun itu aku ingin coba membantumu. Aku ingin coba mengerti kamu. Dan ini benar-benar mengusikku. Maksudku, melihatmu begini sungguh mengoyak hatiku, sayang."
Bella bereaksi. Ia membalikkan badannya dan menatap William yang tepat di atasnya. "Aku tak tahu harus memulai ini dari mana. Aku juga tak yakin kamu harus mengetahui ini. Aku cuma sedang bingung. Semua ini terasa begitu membebaniku."
William kemudian menyingkir ke sisi lain ranjang dan menatap Bella di sampingnya. William menarik tangan Bella, "Aku tak akan memaksamu untuk bercerita. Aku hanya tak ingin kamu sedih," dan William melanjutkan kata-kata ini di hatinya, "Aku ingin kamu tahu kalau aku akan selalu ada untuk mendukungmu." Ia hanya berharap Bella menyadari itu.
"Aku ingin berdamai dengan masalaluku. Bisakah menurutmu?" Tanya Bella.
"Masa lalu sudah lewat, berdamai dengannya bukan dengan memperbaikinya atau merekonstruksi ulang apapun yang kau sesali itu. Berdamai dengan masa lalu adalah dengan menyudahi mengingkarinya. Dan jika langkah yang kamu ambil begitu, kupikir itu bisa," jawab William.
"Aku takut," bisik Bella.
"Aku tahu," jawab William sambil mencium bibir Bella.
"Ada aku," batin William.

Comments