Kalau Saja Aku Tahu Jalan Pulang Itu.
![]() |
| Source: https://id.pinterest.com/search/pins/?q=blue%20illustration&rs=typed&term_meta[]=blue%7Ctyped&term_meta[]=illustration%7Ctyped |
Bohong jika kau bisa
langsung menyadari cinta pada pandangan pertama. Dapat dipastikan kau baru
menyadarinya belakangan setelah momen itu berlalu. Apakah kau meninggalkan
kesan yang bagus atau tidak untuk kemudian menjajaki kehangatan selanjutnya.
Jika akhirnya kamu menyadari bahwa kesan yang kau tinggalkan baik, maka kau
bisa jadi lega dan berharap jalanmu mudah untuk memulai perjalanan cintamu.
Seperti itu pula pertemuanku dengan Al. Dan aku baru menyadari belakangan kalau
aku mungkin menyukainya sejak kali pertama mata kami bersitatap.
***
Aku berjalan sempoyongan ke arah jalan di depan
bar. Pandanganku bergoyang hebat dan tidak fokus. Entah mengapa aku begitu
terhanyut suasana dan minum banyak sekali. Aku berjalan terus di atas trotoar
dan melihat sebuah tempat duduk dan langsung merebahkan diri di atasnya. Tak
peduli dengan orang lain, aku terus saja berbaring dan berusaha mengumpulkan
kesadaranku. Namun, alih-alih sadar, semuanya memekat. Gelap.
Kemudian yang terjadi
adalah aku mendapati diriku di dalam sebuah mobil dengan selimut menutupi badan
dan pintu di dekat kemudi yang terbuka. Aku belum sepenuhnya sadar dan
mengumpulkan tenaga untuk menyadari realitas. Di kejauhan suara ombak menggema
bersahutan. Aku bangkit dan membuka pintu mobil di dekatku. Di luar udara pagi
begitu menusuk. Seorang lelaki muda tengah duduk di batang kelapa yang melengkung anggun di atas pasir dan
melihat ke arahku. Lalu ia bangkit. Ia tersenyum dan entah mengapa aku tidak
merasa terancam.
“Sudah bangun, ya,” Ia
duluan menyapa.
“Iya,”
“Kamu tidak kaget?
Maksudku kamu kan tidak mengenalku?” Ia
melanjutkan perkatannya dan jarak kami kian dekat. Sekilas aku khawatir, namun
entah mengapa aku juga seperti dapat
merasakan bahwa tak akan ada hal aneh yang akan terjadi.
“Bar?” Ia melanjutkan
melihat aku hanya diam saja. Barulah kilatan peristiwa menghantam kepalaku dan
menyadari apa yang kulakukan malam tadi. Aku berada di dalam sebuah bar dan
minum terlalu banyak. Dan apa yang terjadi stelah itu aku tidak tahu pasti.
“Astaga, apakah kamu
melihatku mabuk dan kemudian menolongku? Aku cuma kesimpulan seperti itu dan
jika memang begitu aku minta maaf.“ Aku mulai merasa segan.
“Harapanku juga begitu.
Namun, kamu berbuat lebih jauh.” Ia menjawab dan aku tidak mengrti maksudnya
sama sekali. “Selain itu, kamu juga muntah dan mengenai bajuku. Karena aku tidak
tahu kamu siapa dan aku juga enggak melihat kamu membawa kartu identitasmu jadi
aku berinisiatif membawamu ke mari. Yah, aku juga sebetulnya menyukai tempat
ini. aku seperti merasa pulang jika ke mari dan enggan untuk kembali. Jadi sekalian saja"
“Sungguh aku minta maaf.
Aku tak tahu kalau kejadiannya begitu. Aku juga minta maaf kalau aku terlalu
diam begini.” Jawabku.
“Tak masalah. Yah,
walaupun sedikit kaget sebetulnya melihatmu tidak kaget tadi. Tapi itu hal yang
lumrah kalau kamu mabuk tadi malam. Aku Al, kamu?” Lelaki yang baru saja menyebutkan namanya itu
menyodorkan tangannya. Bodohnya aku, selain telat mengucapkan terimakasih aku
juga lupa memperkenalkan diri terlebih dahulu.
“Iu, dan aku lagi liburan
di sini.” Jawabku.
Pertemuan tak terduga itu
dan perkenalan diri di pagi hari ini akhirnya membawaku pada satu ketertarikan
yang tidak bisa kutolak. Lebih dari itu, aku merasakan diriku seolah tak bisa
lepas darinya. Aku resah membayangkan pada akhirnya kami akan berpisah. Toh,
kami berdua hanya kebetulan saling bertemu dan ia juga kebetulan membantuku
yang tak sadarkan diri.
Tetapi nasib baik
sepertinya memihak padaku. Al menawarkan bantuan untuk mengantarkanku ke hotel
yang awalnya kutolak – walau tak bermaksud meenolak seutuhnya – karena aku
sudah cukup merepotkannya. Namun ia bersikeras karena ia mengaakan sangat
menyukai pertemuan kami ini. Entah apa maksud ia sangat menyukai pertemuan ini.
Kalau aku yang suka mungkin masih wajar, karena dengan pertemuan ini
setidaknya aku selamat dari kejahatan jalanan,
misalnya, atau aku tak berakhir lebih buruk lagi.
Al bercerita banyak
tentang dirinya – yeah, walaupun semuanya general dan aku pikir itu juga formalitas saja – di perjalanan menuju hotel. Rupanya tadi malam ia sedang berada
di bangku pinggir jalan yang kutiduri. Dan kepalaku rebah di pahanya. Ceritanya
itu sungguh membuatku malu.
“Jadi kamu orang sini?”
“Iya, aku memang tidak
tinggal di daerah pesisir. Tapi sedikit ke arah gunung,“ jawabnya, “Sampai kapan
kamu di pulau ini?”
“Minggu aku pulang. Jadi
dua hari lagi,” Aku menjawab pertanyaannya.
“Kalau begitu kita harus
bertemu lagi. Catat nomor teleponmu di sini!” Al menyodorkan ponselnya dan aku
tak keberatan dengan itu. Sejak awal, aku memang sudah sangat menyukai orang
ini. Dan keberuntungan lagi-lagi berpihak padaku. “Segera aku akan menguhubungi
kamu,” kata Al sesaat setelah kami tiba di depan hotel.
“Sekali lagi terimakasih
banyak. Nanti aku traktir kamu, deh. Take care,” ucapku.
“You, take care
yuourself. Nanti hangover lagi, haha. Bye!”
Aku hanya melambai sambil
menyunggingkan senyum.
***
Dan Al belum juga
menghubungiku. Padahal sudah lebih dari dua puluh empat jam sejak kami berpisah
di depan hotel. Bodohnya aku yang tak menyimpan nomornya juga. Entah mengapa aku begitu mengharapkan
pertemuan selanjutnya benar-benar terjadi. Al benar-benar datang dan aku paling
tdak bisa menunjukkan rasa terimakasihku, atau paling tidak aku bisa melihat
wajahnya lagi. Matanya, senyumannya, mendengar suara seraknya. Aku rupanya menyerap
semua tentangnya di pertemuan pemarin. Aku baru menyadarinya belakangan. Tak
pernah aku mengingat orang yang baru pertama kali kukenal sedetil itu.
Entahlah.
***
Aku sudah menghabiskan
bergelas-gelas tequila dan aku masih sadar betul. Masih menunggu kabar dari Al.
sudah pukul satu dini hari dan sepertinya aku harus sadar diri. Tak aka nada
pertemuan selanjutnya, selarut ini.
Pengunjung masih ramai
saat aku bergegas meninggalkan bar yang kali ini memang tepat di bibir pantai.
Angin pantai malam ini dingin sekali. Aku harus berjalan sekitar tiga ratus
meter untuk sampai di hotel. Istirahat adalah satu-satunya pilihan rasional
yang tersisa. Besok pagi kapal akan membawaku pulang meninggalkan pulau ini.
Aku melihat sekitar,
menatap sekeliling sekali lagi untuk terakhir kalinya.
“Are you looking for me?”
Tiba-tiba aku mendengar suara serak itu.
“Al, kamu ngapain di
sini?” Aku yang kaget hanya bisa berkata demikian.
“Kan kamu mau traktir
aku, kok pulang, sih?” Al geli melihatku hanya melongo. “Aku sudah di bar dari
tadi, melihatmu dari kegelapan.”
“How could you. Besok aku
suah pulang dan kamu hanya melihat aku saja?” Kekesalan tiba-tiba menyelimutiku.
Dan aku juga tidak tahu mengapa aku harus kesal.
Al mendekat dan dengan
cepat. Sangat cepat menarikku ke dalam pelukannya. Aku terdiam. Tubuhku kaku.
Lelaki antah-berantah ini mendekapku dengan hangat dan aku menyukainya. Sungguh
menyukainya.
“Aku tahu kamu besok akan
pulang. Dan aku tahu tak banyak yang bisa kita harapkan pun seandainya aku bisa
mengenalmu lebih cepat. Tapi, Iu, aku menyukaimu. Aku tidak tahu pasti apa yang
aku rasakan ini, tetapi aku memang selalu ingin melihatmu dan bersamamu seperti
ini adalah bonus yang tak berani kubayangkan. Walau aku tidak mengenalmu.”
Aku hanya diam dan
membalas pelukannya. Aku tak butuh alasan logis mengapa aku tertarik padannya.
Dan alasa logis mengapa ia juga tertarik kepadaku. Aku benar-benar menikmati
momen ini.
***
Keesokan pagi aku
terjaga. Aku mendapati diriku di pasir pantai dan kukenali sebagai pantai
tempat Al membawaku di saat aku mabuk malam itu. Tapi tak kudapati Al, juga
mobilnya. Aku hanya sendiri. Pantai di hadapanku seperti sajian televisi hitam
putih dengan suara ombak yang lembut memukul.
Aku berkeliling mencari
keberadaan Al, namun tak ada orang yang kutemui. Juga tak ada jejak selain
jejak kakiku. “Aneh, seharusnya ada jejak mobil Al,” batinku.
Aku berjalan menjauhi
pantai. Tidak bisa mencerna apa yang tengah terjadi. Luapan kekesalan,
kebingungan, dan kekhawatiran berderu
seperti ombak.
Setelah berjalan cukup
jauh, akhirnya aku sampai di pinggir jalan raya dengan rumah-rumah penduduk
berjejer jarang-jarang di kedua sisinya. Aku melihat dua orang
perempuan muda tengah mengambil air tawar dari tabung air berwarna biru.
Kelihatannya seperti tabung air milik masayarakat setempat. Aku mengucapkan
selamat pagi ketika benar-benar melewati mereka. Mereka membalas senyumku dan
seseorang bertanya dengan ramah. “Pagi-pagi benini dari mana, kak?”
“Pantai di sebelah sana,”
aku menunjuk kea rah kedatangaku tadi, “aku bersama teman tapi sepertinya dia
pulang duluan. Dia sudah tidak ada sewaktu aku bangun.”
“Pantai? Ini di tengah
hutan mana ada pantai kak. Pantai terdekat jaraknya dua jam naik kendaraan,”
jawab perempuan itu. Aku tetap bersikukuh kalau aku memang berjalan dari
pantai.
“Tapi memang pantai
sangat jauh dari sini, Kak. Walaupun begitu mari ikuti kami ke kampung. Kakak bisa
bertanya kepada orang lain kalau tidak percaya.”
***
Kini peristiwa itu sudah
berlalu lebih dari setahun. Dan misteri tentang kamu, Al, belum juga
terpecahkan. Kalau kamu memang tidak nyata tapi mengapa semuanya terasa sangat
nyata. Dan aku masih ingat dengan jelas semua yang terjadi di malam hari
sebelum paginya kamu menghiang. Hangat tubuhmu masih membekas hingga kini. Suaramu
yang serak masih bergaung di kepalaku. Dan mengapa pula aku yang berjalan meninggalkan
pantai berakhir di hutan yang jaraknya puluhan kilometer dari pantai. Dan aku
sangat yakin kalau kamu itu nyata. Tapi aku juga tidak seutuhnya yakin. Kamu sebenarnya
siapa?
Hari ini, tepat setahun
setelah pertemuan kita dan aku kembali ke depan bar tempat pertama kali kau
melihatku dalam keadaan mabuk. Di tempat ini, kuresapi semua memori tentangmu
yang kuingat. Dan kalau saja aku tahu jalan ke pantai yang menjadi tempat
pertama dan terakhir kali aku melihatmu, tempat yang sama kamu meninggalkan
aku, aku akan kembali ke sana untuk mengenangmu.
Kalau saja aku tahu keberadaanmu. kalau saja aku tahu jalan
pulang itu.
Al.

Comments