Aku Jatuh Cinta di Kedai Kopi


Mungkin kedai kopi bukanlah tempat impian untuk jatuh cinta. Deru cecapan kopi, dahi yang mengernyit karena pahit dan kepulan asap rokok bukanlah komposisi umum dari romantis. Tetapi takdir siapa yang tahu. Aku jatuh cinta justru di kedai kopi. Segala hal tentang dia adalah romantis. Tempat ini pun berubah manis. Apalah arti sekitar jika kau sedang jatuh cinta. Dan malam ini, untuk pertama kali dia memintaku keluar bersamanya.

Aku datang terlebih dahulu ke tempat janjian. Kebetulan di kedai kopi langgananku. Asta, barista yang kini sudah lumayan akrab beberapa kali menggoda aku karena belum juga memesan. Ia penasaran aku akan bertemu dengan siapa. Aku akhirnya memesan espresso companna, hanya agar Asta tak usil.

Di luar bulan menggantung separo. Tak lama berselang seorang perempuan datang menghampiriku.

"Kamu Gilang, kan? Udag nunggu lama?"

"Astrid, ya? Lumayan"

"Boleh duduk?"
"Silakan"

"Companna," ucap Astrid seperti asal sebut saja dan menyunggingkan senyum. Ia menatapku yang kikuk dengan heran kemudian tertawa. "Santai aja, lagi. Kamu kayak lihat hantu. Atau kamu mungkin enggak berharap dengan kehadiranku, ya?"

"Bukan begitu, hanya saja aku terlampau kaget. Ini adalah kali pertama kita duduk bersama," aku berusaha menghilangkan kaget dan kikukku dengan menelan espresso hingga habis.

"Tapi, aku merasa kita dekat dan punya banyak kesamaan. Jadi, aku tidak lagi canggung padamu."

"Maksudmu?"

"Lang, kita sama-sama jatuh cinta!"

***

Cinta di sepanjang pengalamanku adalah absurdivitas kompleks. Cinta mampu menguatkan dan melemahkan sekaligus. Jatuh cinta adalah anugerah. Dan sama-sama saling jatuh cinta adalah limpahan anugerah berkali-kali. Adakah yang lebih indah dari mendapatkan kekasih yang juga tergila-gila padamu?
Karena amat sedih jika mencintai namun tak berbalas. Mungkin butuh sekian waktu untuk akhirnya bisa lepas dan merelakan cintu itu padam. Tapi lebih mungkin lagi jika cinta itu takkan pernah padam. Ibarat biji yang berdormansi, tinggal menunggu kucuran air sebelum akhirnya ia tumbuh dan berkembang.

Aku yakin Astrid memang benar-benar jatuh cinta. Aku bisa melihat itu semua terpancar dari matanya, dari cara ia berbicara, dan dari kenyataan akhirnya ia menemuiku malam ini.

"Apa yang membuatmu jatuh cinta?" Hanya ini yang keluar dari mulutku setelah ia mengatakan kami berdua sama-sama jatuh cinta.

"Jatuh cinta tak butuh alasan yang muluk-muluk. Jika tepat, ia akan muncul lalu melekat. Hanya satu alasan mengapa manusia bisa jatuh cinta. Tak ada manusia yang bisa menahan buncahan rasa itu, pun dalam ukuran atom. Seukuran apapub ia akan terlihat, sepandai apapun menutupinya cinta akan keluar."

"Anggaplah begitu. Walau aku tidak terlalu setuju dengan beberapa hal yang kau bilang. Tapi, aku ingin jatuh cinta pelan-pelan."

"Aku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Dan kamu juga kupikir jatuh cinta sejatuh-jatuhnya."

"Jadi apa sebenarnya yang membuatmu jatuh cinta?"

"Sama sepertimu. Aku sudah tahu apa yang membuatmu jatuh cinta."

"Tapi jatuh cinta itu intim."

"Dan aku melihat lalu merasakan itu."

"Jadi kita jatuh cinta karena masing-masing merasakan hal yang sama?"

"Walau dalam banyak hal kamu lebih filosofis, tapi cinta kita sama besar."

"Kamu membuat jatuh cinta terdengar seperti kompetisi."

"Gilang, untuk bersatu dalam cinta memang berkompetisi. Hidup ini kompetisi. Tak usah menyangkal. Untuk itulah aku hadir malam ini. Aku ingin pada akhirnya kita berdua saling tahu posisi. Lang, tak ada yang membuatku lebih bahagia selain melihat dia bahagia."

"Astrid..."

"Lang, cintamu murni. Cintaku juga murni. Cinta manusia itu murni kepada siapapun kepada apapun ia mengarah. Aku tidak ingin kamu merasa kecil dengan apa yang kamu rasakan kepadanya."

"Jangan mengasihani aku!"

"Aku tidak sedang mengasihanimu. Aku hanya ingin melakukan apa yang menurutku perlu. Kita mencintai orang yang sama. Kita juga sama-sama tengah di jalan memenangkan cintanya. Di atas kertas peluangku untuk bersatu dengannya lebih besar. Ini caraku untuk menghormatimu. Menghormati orang yang juga mencintai laki-laki yang kucintai. Aku tahu kalian bertemu malam ini. Aku sudah menunggu lama untuk kesempatan seperti ini. Jika pada akhirnya dia memilihmu, aku siap. Dan jika dia memilihku, aku ingin...,"

"Aku juga siap," kupotong cepat. Astrid menatap mataku lekat-lekat. Ia seperti mencari kebenaran dari apa yang baru saja kukatakan. "Aku sadar di atas kertas peluangku untuk bersatu dengannya kecil. Makanya  aku sudah siap untuk kemungkinan apapun, jika itu yang ingin kau dengar."

Pandangan Astrid sedikit turun. Ia melihat jam di tangannya. Lalu ia menatapku dan berkata dengan keraguan yang sangat bisa diraba, "Aku mengerti. Baiklah aku akan pergi. Aku minta maaf soal kehadiranku yang mendadak ini. Ude sebentar lagi akan datang. Aku tadi sengaja minta dia mengantarkan barang agar kita punya waktu bertemu. Aku pamit. Terima kasih."
Astrid kemudian berjalan ke luar kedai. Tubuhnya hilang di balik pintunya.
Aku tidak tahu apakah aku harus senang karena dia menganggapku saingan yang sepadan atau harus marah karena pada akhirnya aku merasa ini seperti kompetisi ditambah proyek iba padaku.

Cinta bukan tentang rebut-rebutan posisi penggandeng tangan. Cinta soal memahami rasa dan mengelolanya. Aku juga tak sudi dikasihani. Cintaku pada Ude kujamin murni. Dan kupikit Tuhan tak main-main kalau mencipta cinta.

"Hai Lang...," tiba-tiba suara yang sangat kukenal terdengar. "Aku minta maaf, kamu jadi nunggu lama. Tadi aku ada urusan mendadak bentar. Baru kali ini ngajak keluar sudah langsung telat. Bagaimana nanti, ya?"

***

Kau tahu mengapa aku siap dengan segala hal dalam hubungan ini? Karena aku sudah belajar melepas, bahkan sebelum aku belajar mencintaimu.

Comments