Cinta dan Selebaran Antah-berantah
Aku sudah bersiap sejak sore. Walau masih ada waktu berjam-jam lagi, entah mengapa aku merasa harus bersiap untuk tampil prima.
Lembayung baru saja hilang berganti gelap pertanda malam. Bulan sabit melengkung tipis di atas sana. Bintang hanya muncul satu-satu. Walau begitu, malam tidaklah suram sebab manusia menyalakan lampu yang berpendar hebat.
Aku bersyukur tinggal di kampung, tak perlu banyak usaha untuk sekadar menikmati langit malam. Tinggal keluar rumah, duduk di teras atau berbaring sembarang di halaman, lalu mendongak saja ke langit. Jika cuaca cerah, malam bisa menunjukkan pesonanya di atas sana. Kalau di kota, lampu terlalu banyak dinyakalan. Jadi, susah melihat bintang.
Malam ini, melihat bintang pun tak bisa membuat hatiku tenang. Masih jam delapan, ada dua jam lagi tersisa seperti yang tertulis di kertas yang kupegang ini. Semakin dekat tenggatnya aku kembali berpikir; apa aku harus datang? Aku takut kalau ini ulah orang iseng.
Aku masuk ke dalam rumah dan menyalakan televisi. Sejak kembali ke kampung, aku jadi senang menonton acara-acara di televisi. Karena muak dengan acara lokal, aku rela membayar ratusan ribu per bulan demi dapat menonton acara seru dari kanal-kanal luar.
Aku larut dengan aneka fauna di televisi ketika menyadari sudah jam sembilan lebih. Sekali lagi aku meyakinkan diri untuk datang atau tidak. Lalu, bisikan dari dalam seolah menyuruh pergi sebab sudah sedekat ini. Aku pun bergegas dengan mengendarai motor.
***
Dua puluh menit kemudian aku sudah sampai di tempat yang tertera di selebaran. Tak ada yang spesial dari tempat ini. Hanya kedai minum di ruko bertingkat yang biasa. Sedetik aku kemudian aku kembali ragu. Kubaca selebaran itu sekali lagi dan melihat arahan untuk naik ke lantai paling atas. Aku naik, dan sesampainya di atas, tetap tidak ada yang spesial. Hanya deretan kursi dan meja plastik dengan beberapa orang yang bercakap-cakap. Aku menepuk jidatku sendiri dan mengutuki diri, mengapa aku bisa mempercayai selebaran ini begitu saja. Bodoh sekali.
***
Aku menemukan selebaran sialan ini saat tengah menikmati sore di alun-alun kota. Setelah puas mengambil gambar, aku duduk di sebuah bangku yang terbuat dari bongkahan batu. Di situlah aku menemukan selebaran ini. Kertas itu berisi undangan untuk menghadiri sebuah pertemuan di tempat tertentu, besok. Yang bikin penasaran adalah, selebaran ini menjanjikan pertemuan dengan orang yang bisa jadi sama sekali tidak dikenal. Yang bisa hadir hanyalah orang yang bawa selebaran itu.
Pertemuan itu menjanjikan kesempatan untuk menjadi diri sendiri. Aku sangat tertarik dengan itu. Zaman sekarang, bukannya tak mungkin jadi diri sendiri. Tapi, rasanya memang sulit sebab idealis dianaktirikan.
Aku sempat berpikir, apa ini strategi pemasaran sebuah perusahaan? Rasanya bukan. Sebab, tak ada perusahaan keren di sini. Atau apa strategi pemasaran kedai minum yang menjadi lokasi pertemuan? Rasanya juga bukan. Sebab, kedai minum itu sudah berdiri lama. Hampir semua orang di sini tahu kedai minum itu. Sambil geleng-geleng kepala, aku tetap memasukkan selebaran itu ke saku celana dan beranjak pulang. "Bertemu orang baru? Hih! Di kota sekecil ini, hampir semua orang saling kenal."
***
"Sandimu?" Suara seseorang yang terdengar asing sekaligus ganjil menghentikan langkahku yang hendak turun dari lantai atas kedai minum ini.
"Maaf. Maksudnya?" Aku benar-benar bingung.
"Di undangan kamu ada tertulis sandi untuk kamu."
Aku menjawab sekenanya setelah membaca tulisan yang dimaksud.
"Sandi diterima. Selamat datang di pertemuan ini. Aku Mona. Mari di duduk di sebelah sana."
Aku mengikuti orang itu. Aku tak terlalu yakin kalau dia adalah perempuan. Dari penampilannyan mungkin saja. Tapi, tidak setelah aku melihat jakun di lehernya itu.
Aku dipersilakan duduk di satu kursi kosong. Rupanya, di situ sudah ada beberapa orang. Seorang lelaki muda berkaca mata, seorang lelaki muda lain yang kupikir terlalu muda dan terlihat seperti anak SMA, seorang pria yang cukup dewasa, dan perempuan berhijab. Sejauh ini apa yang dijanjikan selebaran ini benar dan aku juga tidak mengenali mereka semua.
Tak lama kemudian, orang yang mengaku bernama Mona tadi berbicara setelah mempersilakan seorang perempuan lain duduk, kali ini seperti ibu-ibu.
"Dari awal, saya sudah yakin bakal ada orang yang datang setelah menemukan selebaran yang saya tebar acak ini. Saya tak menargetkan berapa banyak. Ada saja yang hadir, saya sudah senang. Jumlah tak menjanjikan apapun selain semarak visual. Saya ucapkan terima kasih. Nama saya Mona. Tujuan saya mengundang kalian bukan untuk memulai pertemanan. Saya hanya ingin berinteraksi. Ini adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Saya baru di kota ini dan tak ada interaksi sehat yang saya dapati. Saya hanya ingin bertemu dan berinteraksi sebentar dengan siapapun yang semesta hadirkan lewat selebaran yang kusebar. Kalau kalian keberatan, kalian bisa meninggalkan tempat ini. Namun, alangkah baiknya berkenalan dulu dan kalau mau bertukar cerita mengapa kalian mau datang." Mona lalu mengakhiri pembicaraanya dan mempersilakan ibu-ibu yang datang terakhir untuk memperkenalkan diri dan bercerita.
Setelah sempat terhenti karena masing-masing dari kami menulis pesanan, ibu itu lalu berbicara,
"Nama ibu Salmah. Ibu menemukan undangan ini waktu pulang mengajar ketika hendak naik becak. Entah mengapa, ibu senang sekali setelah membaca penggalan puisi di undangan itu. Maaf Dek Mona kalau sekiranya itu bukan puisi. Bunyinya begini: Manusia berjalan searah atau tidak searah, bertujuan atau tidak bertujuan, pasti punya rasa pasti punya cerita, dan cerita tiap manusia itu unik, kita terlampau cepat menilai ini cerita baik dan itu cerita buruk, tanpa memberi kesempatan bagi cerita itu untuk sekadar tersampaikan, aku punya ceritaku sendiri, karena aku juga manusia.
Ada penghargaan besar di kalimat-kalimat itu kepada manusia dengan segala kisah dan ceritanya. Karena itu, ibu ingin datang. Sebagai seorang ibu yang sudah menghantarkan semua anaknya sekolah dan menikah, terkadang hati ibu hampa. Dan undangan ini memberi warna baru. Suami juga mengizinkan untuk hadir dan menunggu di bawah. Jadi, ibu pikir tak ada salahnya. Hitung-hitung ibu nongkrong di tempat anak muda. Seru juga, ha ha ha."
"Namaku Ardi." Giliran lelaki muda berkaca mata itu untuk berkenalan. "Aku nemu undangan ini waktu hendak ke ATM beberapa hari lalu. Aku lahir dan besar di sini. Tapi sudah tidak punya teman sejak ayahku dipenjara karena korupsi. Semua teman menjauhiku. Bertahun-tahun aku sendirian, keluar dari rumah hanya untuk kebutuhan tertentu. Di pertemuan ini aku berharap punya teman. Aku sudah menjadi diriku sendiri dengan mengatakan ceritaku tadi. Aku memang malu punga ayah koruptor. Tapi, itu dia. Aku tidak melakukan apapun dan aku kesepian. Aku tidak tahu apa kalian pernah merasa sepi. Kesepian itu tidaklah enak."
"Saya Nadia. Satu-satunya yang membuat saya mau datang adalah karena waktu kumpulnya malam. Saya tahu betul, perempuan di kota ini sangat susah untuk keluar di malam hari. Dilarang keluarga atau takut dicap gampangan. Saya pikir tak ada salah kalau perempuan juga keluar malam. Saya tak sendirian. Beberapa teman juga berpikiran sama. Teman saya bahkan lebih sial. Dia pernah ditangkap satpol-pp hanya karena nongkrong tengah malam. Padahal itu di kedai minum biasa di tengah kota bersama teman-teman prianya. Setelah berdebat panjang, teman saya akhirnya dilepas. Saya senang ada kesempatan seperti ini."
"Nama saya Agus. Mungkin saya yang paling tua di antara laki-laki di sini. Saya polisi dan bertugas di satuan lalu lintas. Undangan itu saya temukan waktu patroli. Saya juga betul-betul penasaran bagaimana bentuk pertemuan ini. Bertemu orang yang benar-benar asing. Ada untungnya saya hadir. Saya jadi tahu cerita kalian. Menjalani rutinitas hidup sering membuat kita lupa untuk hidup. Ironi yang gelap. Saya sudah berkeluarga dan punya dua anak kembar dan masih kecil. Sebelum mereka lahir, hidupku bersama istri cukup harmonis. Walaupun baru menjelang sepuluh tahun usia pernikahan baru kami diberi momongan. Bekerja di kepolisian awalnya demi gengsi, punya pacar dan kemudian lekas menikah juga sempat demi gengsi. Untungnya aku memang mencintai istriku. Jadi, walau sesekali bertengkar, kami tetap bisa keluar dari ujian itu dengan bergandeng tangan. Setelah kelahiran dua anak kembar kami, saya baru benar-benar memahami bahwa manusia itu unik. Bahkan kembar saja sifatnya tak sama.
"Aku Doli. Aku masih sekolah di salah satu pesantren di kota sebelah. Aku pulang karena adikku tengah dirawat di rumah sakit. Di kantin rumah sakitlah aku menemukan selebaran itu. Aku memberanikan diri untuk datang karena aku benar-benar butuh bicara. Ini sangat mengganjal di hatiku. Ini cerita tentang adikku. Seorang pelajar SMP yang terbujur lemah di rumah sakit, hampir meregang nyawa karena tak tahan selalu dirundung. Ia nyaris tewas karena mencoba bunuh diri dengan meminum racun serangga."
Terlihat semua orang yang hadir saling tatap. Kabar tentang anak SMP yang bunuh diri memang tengah santer berhembus.
Doli melanjutkan ceritanya, "kami sekeluarga sedih dan kaget. Bagaimana bisa anak sekecil itu mampu memutuskan untuk bunuh diri. Sebagai kakak, aku ingin tahu alasannya. Tetapi, adikku belum mau bicara. Hingga akhirnya ibuku bilang, adikku sepertinya merasa tertekan karena selalu diejek bencong. Adikku memang tak jago main bola dan tak cakap di hampir semua olahraga. Kecuali renang dan lari. Tapi, di sini tidak bisa main bola, ya, bencong. Bergaul dengan perempuan, ya, bencong. Tiap hari dirundung begitu, adikku malu. Ia mengadu kepada orang tuaku, namun ayahku juga balik mengejeknya. Hal begitu tak perlu diadukan kata ayahku. Adikku yang kecil itu dirampas uangnya, dipanggil bencong tiap hari, dan dilecehkan terus oleh teman-temannya. Awalnya aku juga tak sudi adikku bencong. Jadi, aku kerap menjaga jarak darinya. Setelah kejadian ini, mataku terbuka. Mata kedua orang tuaku terbuka. Bagaimanapun kami sangat mencintai adikku. Sekarang itu yang selalu kami tunjukkan. Ia mungkin masih terlalu kecil untuk tahu orientasi seksualnya seperti apa. Aku juga tidak paham hal begitu. Masih ada waktu bagi dia untuk mengetahuinya nanti. Tuhan masih memberinya waktu. Dan jika memang orientasi seksualnya berbeda atau ekspresi gendernya berbeda, aku akan menjaganya, mendukungnya. Dia tetap adikku." Lelaki muda itu menangis. Ibu Salmah yang berada di sampingnya memeluk lelaki itu dengan penuh kasih sayang. Ibu Salmah juga menangis. Kini giliranku untuk berbicara.
"Namu Adi. Aku menemukan undangan ini kemarin sore di alun-alun kota. Aku sempat ragu untuk datang. Berkali-kali. Bahkan, tadi waktu aku sudah sampai di kedai ini, pun, aku masih sempat ragu. Dari awal, aku datang hanya untuk mengetahui pertemuan seperti apa ini. Aku hanya mau mendengarkan cerita kalian saja. Dan itu cukup. Aku harap dengan aku mendengarkan saja, aku sudah bisa membantu kalian. Aku minta maaf, Mona. Jujur aku kaget waktu kau menyambutku tadi. Jujur karena kamu waria. Aku juga sempat khawatir ini jebakan kamu. Tapi kekhawatiran itu sirna setelah aku bertemu kalian dan menyimak cerita kalian. Aku juga turut prihatin atas apa yang menimpa adikmu, Doli. Rupanya, perundungan senyata itu. Kamu membuka mataku. Kisah adikmu membuka mataku.
***
Aku Mona. Seorang waria berumur tiga puluh tahunan. Aku baru kembali ke kota ini setelah lama menetap di Jakarta. Kupikir aku cukup yang paling butuh didengarkan di sini. Sebab, aku tak mendapat satu kesempatan, pun, untuk berinteraksi sehat atau mengutarakan kegelisahanku sejak kepulanganku ke sini. Aku sadar waria tak begitu diterima. Aku juga sadar sebetulnya waria juga cukup diterima. Sebatas pekerja salon, bahan guyonan, atau penghibur di kala dibutuhkan. Menjadi waria seolah boleh asal mampu membuat tertawa. Kalian tak siap jika ada saudara kalian yang jadi waria seperti aku. Aku berani jamin itu. Kupikir aku yang paling butuh atensi. Ternyata aku keliru. Setiap orang punya masalah masing-masing. Ingin juga didengarkan. Cerita kalian justru menyindirku tentang apa yang sudah aku perbuat untuk sesama. Aku tak menuntut kalian untuk sejalan denganku. Aku hanya ingin dihargai sebagai seorang manusia. Karena aku akan melakukan hal yang sama dan aku akan mati-matian memperjuangkan hakmu untuk berbicara walau yang kau bicarakan bukan yang ingin aku dengar. Aku berterima kasih kepada kalian karena sudah menghargai sesama sebagai entitas, sebagai manusia.
***
Waktu sudah menujukkan pukul dua dini hari lebih saat aku membonceng Nadia pulang ke rumahnya.
"Tadi sandi kamu apa, bang?" Nadia bertanya dari belakang. Aku terus saja mengendarai sepeda motorku menerabas dinginnya malam.
"Cinta. Memang sandi kamu apa?"
"Oh, cinta. Berarti sandi kita semua sama."
"Jadi, berarti sandi semua orang cinta."

Comments