Apa Itu Trans Week?
![]() |
| Sumber: Glaad |
November adalah bulannya transgender. Melalui Transgender Day Of Rememberence (TDoR) seluruh komunitas bersatu untuk memberikan penguatan kepada transgender, kelompok LGBTQ yang paling rentan mengalami diskriminasi dan kekerasan.
Salah satu yang popular dari TDoR adalag Trans Week atau Transgender Awareness Week. Trans Week sendiri adalah momentum tahunan untuk memberikan edukasi soal transgender dan isu-isu yang melingkupinya. Trans Week biasanya diperingati pada minggu kedua November yang juga dikenal sebagai Bulan Transgender atau Trans Month.
Ada banyak kegiatan yang dilakukan pada bulan ini mulai dari minggu pertama. Di negara-negara dengan toleransi positif terhadap pergerakan LGBTQ umumnya komunitas akan berkumpul untuk perayaan dan seminar. Di Indonesia sendiri, komunitas juga turut merayakannya.
Di Medan, komunitas Cangkang Queer Medan turut ikut serta merayakannya. Melalui laman Instagramnya, @cangkang_queer, perayaan akan dilakukan dengan pemberian bunga mawar di jalanan kota Medan pada Minggu, 19 November besok.
TDoR sendiri lahir sebagai aksi perlawanan atas maraknya kekerasan yang dialami oleh transgender di seluruh dunia. Kekerasan ini tergolong kejahatan atas dasar benci atau hate crime. Dunia mengenang mereka yang menjadi korban kejahatan ini setiap 20 November.
Seberapa penting peringatan ini bagi komunitas? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka data-data berikut dirasa perlu menjadi pertimbangan. Berdasarkan data yang dirilis Arus Pelangi pada tahun 2013, sebanyak 89,3% LGBTQ di Indonesia mendapatkan kekerasan. 49% di antaranya dan merupakan yang paling tinggi dialami oleh transgender pria ke wanita atau waria.
Praktik kekerasan ini justru dilakukan oleh keluarga dekat. Data yang dirilis Arus Pelangi memperlihatkan, 76,4% kekerasan dilakukan oleh keluarga dan 26,9% oleh teman.
Bentuk peringatan seperti ini akan memberi gambaran tentang kelompok transgender khususnya, atau LGBTQ secara umum. Hal ini dimaksud agar masyarakat, terutama dalam lingkaran keluarga paham akan realitas ini dan diharapkan kelak angka kekerasan terhadap transgender dan kelompok gender ketiga bisa ditekan.
Kurangnya informasi soal seksualitas dan gender disinyalir jadi salah satu penyebab maraknya tindak kekerasan terhadap LGBTQ. Akibatnya, banyak kalangan LGBTQ dan keluarganya tidak tahu harus berbuat apa kala mengetahui keadaan ini.
Praktik kekerasan ini tentu sangat berdampak pada komunitas LGBTQ. 17,7% LGBTQ pernah melakukan usaha bunuh diri, dan 16,4% pernah mencobanya lebih dari satu kali. 65,2% LGBTQ meminta bantuan justru ke teman terdekat saat mengalami kekerasan. Dan hanya 18,7% yang meminta bantuan ke keluarga. Hal ini menjadi ujungnya, karena pelaku kekerasan sendiri paling besar disumbang oleh keluarga. Dan 29,8% LGBTQ tidak memilih untuk mencari bantuan.
Data terbaru dirilis oleh Wahid Foundation tahun lalu. LGBTQ adalah kelompok paling dibenci di Indonesia dengan persentase 26,1%. LGBTQ menjadi pemuncak dari 10 kelompok yang paling dibenci disusuk Komunis dengan 16,7%, Yahudi, dan Syiah.
ILO, organisasi buruh internasional dan Universitas Gajah Mada juga merilis data kalau LGBTQ di Indonesia susah mendapatkan pekerjaan. Diskriminasi ini terutama dirasakan oleh transgender. Bentuk diskriminasi sangat bervariasi dan bahkan sudah mulai dirasakan sejak proses awal pelamaran kerja. Biasanya syarat yang diajukan oleh perusahaan adalah harus pria atau wanita saja. Tentu bagi transgender ini menjadi masalah. Maka, transgender di Indonesia biasanya hanya bekerja pada sektor yang sangat terbatas.
Maka, momentum TDoR dirasa penting untuk mengingatkan kembali akan perlunya memberi kesempatan yang sama terhadap transgender atau semua kelompok masyarakat sebagai manusia dan warga negara.
Dengan demikian, diskriminasi dan kejahatan atas dasar kebencian tidak lagi terjadi atau paling tidak terus berkurang setiap tahunnya.

Comments