Salah Kaprah Soal Pria Homoseksual (Bagian Pertama)
Dalam beberapa tahun terakhir, setelah membuka diri soal seksualitas saya pada lingkungan pergaulan, ada beberapa salah kaprah yang kerap saya dapati. Beberapa di antaranya cukup mengganggu bagi saya karena stereotip yang diterima kerap tidak relevan dengan realitas yang ada. Bahwa pemukulrataan kebiasaan bukanlah sesuatu yang bisa diterima oleh setiap orang. Di bawah ini adalah beberapa salah kaprah yang pernah saya dapati.
Postingan ini tidak bermaksud menyinggung pihak manapun. Penggunaan istilah heteroseksual atau pun homoseksual hanya untuk memudahkan pengertian. Bukan superior atas satu dan yang lain.
1. Pria Homoseksual adalah Bencong.
Ini bisa jadi yang paling sering saya dapati. Waktu nongkrong di tempat umum, misalnya, pria homoseksual dengan pembawaan yang cenderung feminim seperti saya selalu dikatakan bencong. Padahal saya sendiri tidak setuju dengan pelabelan bencong atau banci karena konotasinya lebih ke perundungan dan penurunan martabat. Mereka yang paham biasanya akan memanggil orang-orang transgender dengan sebutan waria. Atau cukup transgender saja. Terkait pria homoseksual, ada beragam sebutan yang boleh kamu gunakan. Misalnya gay, biseksual, atau queer.
2. Pria Homoseksual Suka Semua Pria.
Well, ini cukup menggelikan. Seorang teman heteroseksual pernah berkata kalau dia cukup canggung kalau berteman dengan pria homoseksual karena takut digoda. Dia beranggapan kalau pria homoseksual itu bisa menyukai (dalam konteks seksual) semua pria. Tentu saja ini tidak benar karena rasa suka adalah sesuatu yang relatif. Seorang pria homoseksual hanya menyukai orang-orang yang masuk dalam tipe mereka. Dan, kalau suka sekadar kagum, tentu bisa kepada siapa saja. Sama halnya dengan pria heteroseksual yang melihat wanita yang baginya menarik tentu boleh saja menggap kalau ia menyukai wanita itu. Tapi belum tentu ingin menidurinya, bukan?. Begitu pun dengan pria homoseksual, ketika melihat pria lain yang sesuai tipenya, bisa jadi ia kagum atau kalau punya keberanian lebih, mengutarakan rasa kagumnya. Dan, hei, tidak semua pria kami atau saya sukai. Jangan terlalu pe-de!
3. Sex-Oriented
Tak hanya pria, orang-orang LGBTQ biasanya kerap mendapati stereotip ini. Homoseksual yang dianggap lekat dengan kebebasan dan senang-senang dijadikan alasan pembenaran untuk stereotip ini. Padahal, tak semua orang-orang LGBTQ berteman untuk mencari pemuas kebutuhan seksualnya. Saya punya banyak teman-teman pria gay, queer, dan biseksual yang hanya punya satu pasangan dan setia. Bahkan yang tengah menjalani hubungan jarak jauh pun tidak lantas membuat ia mencari kesenangan dengan pria lain. Memang, ada juga yang suka mencari pemuas kebutuhan seksualnya dengan mencari pasangan seks saja. Tetapi, tentu tidak semua. Ada juga yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesetiaan. Semakin mirip dengan yang heteroseksual bukan.
4. Pria Homoseksual dan Geng Ceweknya
Gay is a girl's bestfriend. Kamu mungkin sering mendengar itu. Memang biasanya pria-pria homoseksual punya teman wanita yang banyak. Tetapi, itu bukan menjadi jaminan kalau setiap gay punya geng beranggotakan perempuan. Saya dari SD sampai SMA punya geng yang anggotanya cowok semua atau ada sebagian cewek. Justru baru waktu kuliah saya punya geng yang semua anggotanya, selain saya tentunya, itu cewek. Tapi, ada juga teman saya di Medan yang punya geng beranggotakan pria. Jadi, bisa dipikir-pikir lagi kalau mau nanya apakah pria homoseksual selalu punya geng cewek.
5. Gay-Radar
Saya juga pernah ditanya, apakah saya bisa mendeteksi kalau pria yang duduk di meja depan adalah homoseksual. Atau seorang teman perempuan pernah bertanya apakah aku tahu orientasi seksual sebenarnya dari cowoknya. Let me tell you this: I don't have that gay-dar thing and I can't predict someone's sexual orientation based on how they look or how they act. Beberapa orang mungkin percaya. Tapi saya tidak.
6. Homoseksual Menular
Saya dari SMA tinggal di asrama, waktu kuliah sering menginap di tempat teman-teman pria yang heteroseksual. Sampai sekarang mereka masih heteroseksual, kok. Maksud saya adalah, come on, bergaul dengan homoseksual tak akan membuatmu menjadi homoseksual pula.
7. Gay Men Are Not Into Sports
Kalau fakta bahwa pebasket Jason Collins atau peraih lima medali emas olimpiade untuk cabang renang, Ian Thrope, belum membuatmu yakin kalau pria homoseksual juga into sports, datang ke tempat saya. Saya bisa tunjukkan pria homoseksual yang bisa main sepak bola, volli, dan renang, hingga buat rumah sekaligus. Kita manusia juga, sama seperti yang heteroseksual. Tentu ada yang bisa dan ada pula yang tidak bakat di olahraga
(Baca: Salah Kaprah Soal Pria Homoseksual Bagian Kedua)

Comments