Surya Malam Hari
![]() |
| Source: infinity-imagined.tumblr.com |
Aku tak pernah tahu kapan akan jatuh cinta lagi setelah terakhir kali merasakannya bertahun lalu. Aku hanya bersyukur pernah merasakannya, pun harus kandas.
Lalu aku bertemu denganmu di satu siang setahun lalu. Aku langsung menyukaimu pada pandangan pertama dan aku yakin itu juga cinta. Tak pernah aku salah soal perasaan yang satu ini. Getarannya jelas dan amat terasa. Sesuatu yang jarang kurasakan dan hanya muncul dua kali seumur hidupku.
Dan kamu adalah yang ketiga.
Perasaan itu meruntuhkan dinding tebal yang menutupi hatiku bertahun-tahun. Hatiku kembali berdegup, degupan yang sarat akan rasa dan juga pengharapan selaras doa.
Kamu mungkin tak tahu mengapa aku bisa jatuh cinta padamu. Senyumanmu itu, kamu tahu, ialah fajar yang memulangi gelap dan ialah senja yang menyajikan malam tanpa tempat untuk resah. Ialah senyum yang akan kubayar berapapun dan kutebus dengan kebebasanku bila perlu.
Tetapi, aku tahu kamu tak bisa dibeli dan cintamu justru membebaskan. Kamu tertawa geli saat kuceritakan begitu, dan bilang kalau cintamu bukan mengekang. Dengan senyumanmu dua hasta di depanku, aku bagai melihat rumah. Tempatku berpulang tanpa langkah berat dan kerutan di dahi.
Lalu kamu sempat menghilang. Di senja terakhir, kamu justru amat menawan. Angin bertiup pelan mengisi sekat dan ruang. Lalu malam datang namun masih menyisakan hangatmu yang mudah kuraba.
Namun, matahari itu, suryaku tak tampak di ufuk timur keesokan harinya. Bahkan tak mengintipiku. Kamu lenyap dan menyisakan gelap di sepanjang tarikan nafasku. Mengharuskanku menyalakan api atau mati membeku karena dingin. Aku memang mencintaimu, tapi aku tak mau mati sebelum kutatahu mengapa kamu tak muncul di cakrawala.
Lama kunanti, ratusan titik api kusulut, sekelebat sinarmu menyeruak. Hangatmu tak sama dengan api, panasmu bukan panasnya api. Aku masih peka akan itu dan kutahu kamu mengintipiku dari balik gelap.
Saat bertemu, perlukah kutanya mengapa kamu tak pernah datang? Atau ke mana saja kamu selama ini? Aku ingin tahu, tapi bukan penuh desakan. Hadirmu kubutuhkan, seperti hutan mendamba hujan.
Dan kamu akhirnya datang. Di satu malam yang dingin dan membosankan. Menyungging senyum dan kini dengan lesung pipi yang dulu abai dari perhatianku. Detik itu aku tahu, aku tak perlu tahu mengapa kamu tak datang dan ke mana pergimu. Senyuman itu menceritakan semuanya. Dan aku bersyukur masih boleh mengaguminya.

Comments