#12 Tentang Rasa: Mengapa Cinta Terasa Indah Walau Nyatanya Menyakitkan?
Aku belajar satu hal hari ini: tidak ada yang salah dalam mencintai. Terkadang pemikiran soal benarkah tindak-tanduk dalam bercinta kerap muncul di benakku. Sepanjang pengalamanku, adalah aku yang selalu tergila-gila pada seseorang. Walau tak sering, tetapi selalu aku yang terlebih dahulu jatuh cinta, dan orang yang kucintai untungnya mau untuk belajar mencintaiku.
Jika kau pernah jatuh cinta, kau pasti paham maksudku ini. Kau rela melakukan apapun, hampir segalanya untuk bisa bersama orang yang kau cintai. Jarak jauh kau tempuh, cuaca yang tak bersahabat bukan hambatan, kau mencuri-curi waktu dari kebersamaanmu dengan teman dan orang tua untuk bisa bertemu dia, atau tidurmu tak nyenyak sebab dalam mimpi pun bayangannya hadir, atau seberapa frustasinya kau saat ia tak segera membalas pesanmu.
Namun, begitulah cinta. Apa-apa yang kutulis di atas untuk sebagian orang bisa jadi bukanlah hambatan besar. Mungkin ada yang hambatannya beda agama, atau merasa tidak percaya diri untuk mengungkapkan rasa. Apapun penghambatnya, cinta yang kau rasakan tetaplah indah. Walau sebetulnya ia amatlah menyakitkan.
Jadi, mengapa cinta bisa indah padahal ia menyulitkan, menyakitkan? Beberapa tahun lalu aku mengenal kata devosi. Sebuah kata yang akhirnya mewakili defenisi mengapa cinta itu begitu indah padahal nyatanya ia menyakitkan.
Devosi adalah sindrom atau keadaan di mana cinta mewujud ikhlas. Dalam devosi, cinta tak butuh polesan ini dan itu. Cinta itu kini menerima apa adanya, melakukan segalanya sebisa mungkin. Lantas, apakah devosi itu pertanda cinta buta? Kupikir tidak!
Cinta buta adalah saat perasaanmu tak bisa dimasuki logika. Sedang devosi menurutku justru penuh logika. Justru karena mengenal cinta itu sendiri, perasaan yang tengah berkecamuk di dalam diri, seseorang bisa muncul dengan cinta yang ikhlas. Pada orang yang cintanya sampai di titik devosi, ia tak perlu khawatir membuat resah orang yang ia cintai, ia tak perlu khawatir dengan perasaannya sendiri. Karena ia tahu apa yang ia lakukan. Ia dikode semesta. Mereka berinteraksi.
Lalu, dalam devosi mungkinkah ada sakit hati dan kekecewaan? Mungkin saja, sayang. Sebab sakit hati, kecewa, cinta, bahagia dan seterusnya adalah apa-apa yang kau temukan di laci rasa. Mereka bersinggungan. Seperti saat kau hendak merogoh kaus kaki bermotif beruang dari dalam laci tanpa melihatnya, kau bisa salah ambil dan yang kau rogoh justru yang bermotif singa laut. Devosi adalah rem untuk itu, atau sabuk pengaman dalam bercinta. Kau bisa tahu kapan segala hal dalam hubungan kalian berjalan baik atau tidak berjalan baik dan mempersiapkan diri untuk merasa kecewa.
Sayang, cinta memang penuh derita dan kekecewaan, tapi itu hanya sekelumit dari hal-hal luar biasa yang kau dapatkan dalam bercinta. Rasakanlah sendiri. Kuharap kau juga jatuh cinta. Agar kalimat penutupku ini bisa benar-benar menyemangatimu. Selamat Bercinta!
Sayang, cinta memang penuh derita dan kekecewaan, tapi itu hanya sekelumit dari hal-hal luar biasa yang kau dapatkan dalam bercinta. Rasakanlah sendiri. Kuharap kau juga jatuh cinta. Agar kalimat penutupku ini bisa benar-benar menyemangatimu. Selamat Bercinta!

Comments