Abu, Rahasia di Atas Rahasia [Eps 1]
Lelaki itu baru saja menidurkan anak semata wayangnya. Malam-malam di penghujung pekan adalah jadwalnya. Setelah memberi kecupan, lelaki itu keluar dari kamar anaknya dan turun ke lantai satu rumahnya.
Langkahnya pelan, pandangannya kosong, seolah ada beban di kepalanya. Kilatan itu sepertinya dilihat oleh Jelita, istrinya, saat lelaki itu melewatinya di ruang keluarga.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Jelita yang sedang sibuk merapikan beberapa buku dan berjilid-jilid jurnal.
Laptop ditutupnya.
"Iya, aku baik-baik saja," jawab lelaki itu.
"Bagus. Apapun urusanmu segera selesaikan! Tolong bawakan buku-buku ini ke ruang kerja. Aku tunggu di kamar, ya." Ucap Jelita.
Lelaki itu hanya mengangguk kecil sambil memunguti buku-buku itu. Sedangkan istrinya terus mengamati suaminya. Dari gerak-geriknya, ia tahu suaminya itu tidak sedang baik-baik saja.
"Loh, istriku masih di sini? Katanya mau nunggu di kamar?" Lelaki itu akhirnya menyadari jika istrinya masih duduk di sofa dan memandanginya. Lelaki itu sadar kalai istrinya merasakan ada yang tak beres. Tapi lelaki itu belum mau bercerita.
Ia menghampiri istrinya.
Kemudian memeluknya.
"Aku ke atas setengah jam lagi." Lelaki itu meyakinkan istrinya.
"Sayang, just take your time."
"Tidak, aku cuma mau beresin beberapa berkas saja. Setelah itu aku langsung ke atas."
"Baik," jawab Jelita, "aku ke atas duluan. Kalau bisa jangan buat aku nunggu sampai setengah jam. Takutnya, aku ketiduran."
"Kamu gak bakal ketiduran. You need this!" Ucap lelaki itu. Matanya mengerling. Alisnya naik turun.
Istrinya itu tertawa.
Lelaki itu amat menyukai istrinya saat tertawa. Kedua mata itu akan menyipit hingga yang terlihat kadang hanya garis tipis. Kerutan di sekitar kedua mata itu juga akan sangat jelas terlihat.
"Gogo Rasoki, aku mencintaimu." Jelita berbisik sambil mengecup lembut bibir lelaki itu.
"Purnama Jelita, aku lebih mencintaimu," balas lelaki itu.
Jelita lalu beranjak ke kamar di lantai dua dan lelaki bernama Gogo itu berjalan pelan ke ruang kerjanya.
Ruang kerja itu sebenarnya dipakai oleh mereka berdua dan lebih mirip perpustakaan. Buku disusun dalam rak-rak yang menjulang sampai ke langit-langit. Terdapat dua buah bean bag di sudut dekat jendela dan sebuah meja tempat Gogo sering menyelesaikan pekerjaanya. Meja itu sebenarnya lebih mirip meja resepsionis dan terlihat janggal di ruangan itu.
Gogo meletakkan buku-buku istrinya sembarang di atas meja. Ia membuka jendela dan kemudian menyalakan rokok. Gogo berharap tiap hembusan asap rokok itu membawa pergi beban di pikirannya.
Ponselnya berkedip. Pada layar terpampang notifikasi pesan singkat dari Doli, adiknya. Doli mengabarkan kalau dia sudah sampai di Padang dan tengah menunggu taksi bandara. Doli turut mengajak kekasihnya, seorang perangkai bunga yang belum pernah Gogo temui secara langsung.
Mungkin hanya kebetulan saja adiknya itu mengencani seorang perangkai bunga atau bisa jadi disengaja, sebab mendiang ibu mereka dulunya perangkai bunga juga. Adiknya itu tak lama merasakan sosok ibu. Doli baru berusia enam tahun saat ibu meninggal. Usia yang masih sangat muda sebagai anak untuk ditinggal mati ibunya.
***
Gogo dan Jelita selesai menuntaskan berahi. Jam di atas meja kamar menunjukkan pukul satu dini hari. Keduanya tak langsung tidur. Jelita rebah di dada Gogo.
Jelita amat menyukai perbincangan sehabis bercinta. Sensasi dari meredanya hormon oksitosin dan prolaktin membuatnya ingin terus bercakap-cakap dengan suaminya itu. Gogo pun demikian. Keduanya menghidu sisa-sisa feromon yang menguar di udara.
Menikah memang menyajikan banyak kenikmatan dibanding saat mereka dulu bertualang. Sebuah tempat untuk berlabuh dan tak melulu singgah. Sesuatu yang amat mereka berdua syukuri.
"Sayang," Gogo memulai pembicaraan, "bisa duduk sebentar? Aku mau mengatakan sesuatu."
Jelita bangkit dan bersandar di bahu tempat tidur. Ia menarik selimut untuk menutupi sedikit tubuhnya.
"Ayahku meninggal." Ucap Gogo dengan singkat.
Sontak saja Jelita kaget. Ia tak berbicara apapun. Benaknya dipenuhi potongan-potongan kenangannya dengan mertua yang baru dua kali ia temui itu. Kenangan yang sedikit itu diputar terus di otaknya dalam detik yang amat singkat.
Jelita pun tersadar dan memeluk Gogo. Ia masih diam.
"Doli sudah berangkat. Pagi nanti ia sampai di rumah ayah," Gogo melanjutkan.
"Kamu, kok, gak langsung bilang?"
"Entahlah, aku berpikir kita tak usah datang."
"No! Selama ini aku berusaha tak mencampuri apapun permasalahan di antara kamu dan ayahmu. Rasa benci yang kau taruh untuknya coba untuk aku pahami. Ini ayahmu, loh, yang sudah meninggal, kita harus..."
"Tapi sayang..." potong Gogo.
"Sebentar," Jelita bangkit dari tempat tidur dan memakai piyama, "aku mengerti kamu benci sama ayahmu. Tapi, dia adalah kakek dari anakmu. Talu berhak melihat kakeknya untuk terakhir kali. Kamu siap-siap, deh. Aku pesan tiket pesawat dulu."
"Dia bukan ayah yang baik," kata Gogo. Kepalanya menunduk.
Jelita meletakkan ponselnya dan menghampiri Gogo. Ia duduk lagi menghadap suaminya itu.
"Dia tetaplah ayahmu," ucap Jelita. Tangannya mengelus pipi suaminya. "Jantanlah sedikit! Jika kamu tidak mampu menghadapi ayahmu semasa hidupnya, masa ayahmu sudah jadi mayatpun kamu tetap tak mampu? Paling tidak kita bisa menghormati dia sebagai mertuaku, kakek dari anakmu dengan hadir ke pemakamannya."
"I don't know."
***
Dua manusia itu berbaring di atas rerumputan yang sedikit basah karena embun. Memandangi bintang dalam diam yang tak canggung. Sesekali Arman membelai rambut Dewi yang keriting lebat.
Sementara itu, Dewi sibuk mengubah posisi rebahnya, antara dada Arman dan rerumputan. Ia ingin berlama-lama rebah di dada itu, tetapi ia takut juga. Bukan takut kalau teman-temannya yang lain memergoki mereka berdua. Ia hanya tak sanggup lama-lama mendengar detak jantung lelaki itu. Suara berdetak itu mengisaratkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum pernah Dewi dengar dan rasakan selama ini. Maka sebentar-sebentar ia rebah di dada Arman. Sebentar-sebentar ia rebah di rerumputan.
"Dik, abang mau melamarmu," ungkap Arman. Mata lelaki itu menghadap langit.
Dewi terlihat bingung. Ia sama sekali tak menduga Arman akan berkata demikian. Apalagi tanpa aksi apa-apa. Bukannya terlalu berharap Arman berlutut di depannya lalu memasangkan cincin. Tetapi langsung mengutarakan niatnya tanpa ba-bi-bu, hadap atas pula dan tak melihat ke arahnya, Dewi tak tahu Arman serius atau tidak.
"Bagaimana?" Tanya Arman lagi. Kali ini ia memutar badannya menghadap Dewi. Satu tangannya ditekuk menopang kepalanya."
"Dewi masih kuliah, bang. Setahun lagi."
"Abang tahu. Tapi, adik mau tidak menikah denganku?" Arman menunggu jawaban.
Dewi terlihat gelisah. Mungkin ini arti detak jantung Arman yang menggebu tadi.
"Dewi mau, bang. Tapi setelah lulus kuliah."
Mereka berdua berpelukan di atas rerumputan. Dari balik pepohonan terdengar sorak-sorakan teman-temannya dan gegap gempita dari kembang api yang dinyalakan. Pertanda tahun baru telah tiba di gunung Pusuk Buhit, Samosir.
Tak sampai dua bulan, Arman dan Dewi menikah. Akad nikah digelar sederhana di sebuah mesjid di pinggiran Medan. Tak ada resepsi, hanya perayaan kecil di sebuah restoran hotel di Sibolangit pada malam harinya. Arman dan Dewi tak ingin kabar pernikahan mereka didengar pihak kampus. Tamu yang hadir hanya teman dekat mereka berdua. Orang tua Dewi menolak hadir. Orang tua Arman tak hadir karena sudah lama meninggal.
[Lanjut membaca eps2]

Comments