Abu [Eps 2]


"Papa sudah telepon orang kantor?" Tanya Jelita saat di taksi dalam perjalanan ke bandara. Gogo memangku anak mereka, Talu, di sampingnya.

"Sudah, Ma," jawab Gogo.

"Kalau begitu tinggal soal presentasiku."

"Itu lusa, kan?"

"Iya."

"Kita bisa langsung pulang setelah pemakaman."

"Enggak bisa, Pa. Kita enggak mungkin pulang cepat. Mama lagi menghubungi Prof. Marah agar mau mengubah jadwalnya. Oiya, Doli sampai di Panyabungan pukul berapa?"

"Pesawatnya landing pukul sebelas tadi malam. Dari Padang ke Panyabungan mereka naik mobil. Psling cepat makan waktu sepuluh jam. Dia kemungkinan sampai pukul sembilan pagi nanti."

"Kita enggak bisa naik mobil dari Padang. Bakal makan waktu lama."

"Dari Padang kita bisa lanjut terbang ke bandara Aek Godang. Sekitar empat jam dari Panyabungan."

"Iya. Pa," lanjut Jelita, "Mama selalu merasakan ini setiap tahu kabar ada keluarga yang meninggal. Terutama setelah kepergian ibuku." Ada kesedihan menggantung di matanya. Kesedihan yang tak ingin dilihat Gogo terpancar dari istrinya.

"Merasakan apa, Ma?"

"Hidup ini. Ya jalan ceritanya. Ya siklusnya. Seorang manusia lahir, kemudian dewasa, menikah, kalau wanita ya melahirkan, kemudian sibuk membesarkan anak-anaknya. Sampai-sampai ia lupa pada dirinya. Lalu, anak-anak itu besar, punya mau sendiri, tak bisa lagi dikontrol olehnya. Aku tak terbayang kalau nanti melalui ini."

"Kan ada Papa. Kita bakal hidup lama."
Jelita mengelus rambut Talu. Lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Gogo.

"Apa kita orang tua yang baik, Pa?"

"I don't know. Tetapi, kita berdua melakukan yang terbaik untuk Talu. Terutama kamu, Ma."

"Talu is the best thing that happen to us."


"I know. We are in this together.
Kita akan hidup lama, menyediakan hidup yang baik untuk Talu, tua bersama-sama, sampai mati memisahkan."

"Amin."


               ***


"Jadi, kamu tinggal di kaki Sorik Marapi?" Tanya Arman kepada Jamal, teman sekamarnya.

"Iya, nanti kalau libur aku ajak kamu ke rumah, deh."

"Emang benar, kalau gunung itu masih aktif?"

"Aktif? Maksudnya?"

"Itu, loh. Gunungnya masih keluar asap."

"Kadang asapnya ada, sih. Kata ayahku dia mau ajak naik ke puncak waktu libur sekolah nanti."

"Aku ikut, ya!"

"Boleh."

"Ayahmu sudah pernah naik sebelumnya?"

"Sudah. Dari waktu dia lebih muda dari kita. Kata ayah, dulu juga ada suara gemuruh dari dalam gunung. Gara-gara ada bule cewek yang naik. Memang, sih yang denger itu generasinya kakek. Ayah cuma kebagian ceritanya saja."

"Itu pertanda kalau gunung itu masih aktif. Baguslah."

"Aku heran kenapa cewek ga boleh naik ke puncak. Apa iya, kalau cewek naik ke puncak gunungnya meletus?"

"Tapi kau bilang gara-gara bule cewek yang tadi, Sorik Marapi buat suara gaduh."

"Itu dia. Makanya cewek enggak boleh naik lagi."

"Bagus, lah. Paling tidak enggak banyak orang ke sana. Makin besar peluang gunung itu untuk tetap asri."

"Berarti gunung itu masih aktif, kan?"

"Berarti masih, lah. Malah bagus."

"Dari tadi kau selalu bilang bagus. Gunungnya aktif, bagus. Nanti meletus mati kami semua."

Tak berapa lama muncul beberapa teman seangkatan Arman dan Jamal memberi kabar kalau mereka diminta untuk berkumpul di depan gedung sekretariat dewan pelajar. Para santri biasa menyingkatnya menjadi depel. Semacam osis untuk pesantren. Mereka pun bergegas menuju sekretariat depel. Arman tak menyukai anak-anak depel. Para kakak kelas itu merasa raja dan harus dipatuhi segala maunya. Dari urusan pelajaran sampai hal-hal kecil di pondokan.

Waktu itu, Arman masih kelas tiga pesantren. Setara dengan bangku SMP. Dari semua kakak kelas yang ia kenal, Arman menaruh rasa benci yang khusus pada Dongan. Dalam bahasa Mandaling, nama Dongan berarti teman. Dan kakak kelasnya yang bernama Dongan itu tak ada pantas-pantasnya dijadikan teman.

Dongan acap kali menyuruh Arman mencuci bajunya, membelikan rokok, minta dimasakin mi instan. Memang, tak pernah Arman dimintai uang dan hanya disuruh-suruh. Tetapi, itu saja Arman sudah amat terganggu.

Mereka dibariskan di halaman sekretariat. Ada sekitar enam puluh santri di situ. Arman tak terlalu memusingkan apa yang terjadi. Mungkin ada kakak kelas yang kesal dengan kelakuan adik kelasnya, jadi mereka dikumpulkan untuk dimarahi. Biasanya begitu. Dan Arman merasa tak ada buat kesalahan.

Fokusnya tertuju pada buku geologi yang baru selesai ia baca tadi malam. Arman kecil sangat terpukau dengan gunung api, juga kekuatan besar yang dikandungnya. Awalnya, Arman merasa ngeri dengan dampak destruktif dari letusan gunung api. Tetapi, dari buku itu ia tahu, cara itu rupanya membantu bumi untuk mencapai keseimbangan. Itulah cara alam untuk berbicara. Cinta Arman tumbuh untuk gunung api yang destruktif.

Hal itu berputar-putar di kepalanya. Larut dan lupa pada realitas. Dari barisan pengurus depel di depan, Dongan melihat Arman yang melamun. Sebuah senyum yang mengerikan tersimpul di bibirnya.

Sesaat setelah barisan dibubarkan, Dongan berjalan mendekati Arman. Langkahnya tegas. Kain sarung yang dikenakannya berkibar-kibar. Postur Dongan memang termasuk tinggi dan tegap. Menambah kesan seram pada kakak kelas yang paling dibencinya itu. Arman tahu, ia akan mendapat masalah baru hari ini. Apapun yang berhubungan dengan Dongan adalah masalah.

"Nanti, setelah isya temui aku. Kamu sudah harus hafal semua yang diperintahkan ketua depel tadi," ucap Dongan kemudian berlalu. Dua kakak kelas yang lain mengikutinya. Persis pesuruh. Arman tak tahu apa maksud Dongan. Ia sama sekali tak menyimak pidato ketua depel. Arman berlari ke pondokannya dan mencari Jamal.

"Tadi depel ngomong apa?"

"Kau, kan, hadir, masa enggak dengar?" Jawab Jamal sekenanya. Tangannya sibuk memilah mana baju yang harus dicuci dan mana yang bisa dipakai sekali lagi.

"Aku tadi melamun."

Jamal menghentikan kegiatan pilah-pilihnya. "Kita disuruh menghafal masing-masing seratus hadis Bukhari dan Muslim."

"Banyak kali."

"Makanya, omonganku jangan dipotong dulu. Hafalan disetor mulai pekan depan. Sekali setor masing-masing sepuluh hadis dari kedua periwayat. Gampang, kok."

"Mati aku."

"Innalillahi"

"Aku diminta bang Dongan menyetorkan hafalan itu. Semuanya pula malam ini."

"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun."


Dengan lesu, Arman berjalan menuju pondokan Dongan. Pondok yang mirip gubuk itu terletak paling ujung dari deretan pondok-pondok yang lain di gang itu. Mulutnya komat-kamit merapal kata-kata rasul yang terlalu banyak untuk dihafal dalam waktu tiga jam. Beberapa meter dari pondok Dongan, Arman melihat kakak kelasnya itu sedang merokok di muka pintu. Dongan belum menyadari kehadirannya.

Dari titik itu, Arman merasakan level kejengkelan dan kebenciannya naik drastis. Bagaimana mungkin menghafal ratusan kata-kata rasul dalam waktu tiga jam. Dalam bahasa Arab pula! Sedang anak-anak lain diberi waktu seminggu, itu pun hanya dua puluh hadis dalam sekali setor.

Arman menghentikan hafalannya. Berjalan mantap ke arah Dongan. Tak peduli apa yang akan terjadi. Tak peduli sekalipun Dongan meradang karena ia tak hafal. Bahkan satu hadis pun tak bisa Arman kuasai sejak tadi sore. Satu-satunya yang ingin Arman lakukan adalah protes.

"Assalamualaikum, bang."
Dongan melihat sebentar ke arah Arman, lalu mempersilakannya masuk dengan tangannya. Arman turut. Ia tak peduli Dongan tak menjawab salamnya.

"Silakan mulai!"

Arman menggelang dan ia menyesali itu. Mengapa pula ia harus menggeleng? Mengapa pula ia tak langsung bilang kalau ia tak hafal karena waktu yang diberikan teramat singkat.

Dongan buka suara. "Kau tahu, aku selalu memperhatikanmu karena kau menyebalkan. Kau hidup di duniamu sendiri dan tak peduli pada lingkungan di luar kepalamu. Kau itu egois."
Arman tetap diam. Ia sesungguhnya tak menyangka akan diceramahi demikian.

"Tadi, kamu melamun waktu ketua depel berpidato. Kau menganggap kehidupan di pesantren ini omong kosong, ha?"

Arman masih diam. Kini ia lebih akrab dengan respon Dongan. Memarahi begini adalah tipikalnya.

"Kau itu hidup di pesantren dan enggak bisa egois."

"Mengapa tidak bisa melakukan segalanya sendirian?" Kali ini Arman berani menjawab.

"Tentu saja bisa, asal kau tahu triknya. Berbaurlah! Sejauh yang aku lihat, kau hanya punya satu teman, si Jamal itu. Tiga tahun sama dia terus. Kalian tidak ikut sepakbola, grup diskusi, atau grup tilawah, nasyid."

"Aku ikut grup mengaji dan tadabbur."
Dongan mendengus, "semua orang juga ikut kelas itu. Dan semua orang juga ikut ekstrakulikuler lain. Dan mereka yang tidak ikut itu adalah orang-orang yang tak akan berhasil di pesantren ini. Lupakan pelajaran yang bisa kau dapatkan kalau ikut ekstrakulikuler, kau bisa punya teman lain di situ."

"Abang mengapa selalu menyuruhku untuk melakukan banyak hal untukmu. Jujur saja itu menyusahkan."

Dongan kembali mendengus dan menyuruh Arman untuk pergi. Arman keluar dari pondok Dongan dan kembali merasa kalau kakak kelasnya itu hanya mempermainkannya saja. Merundungnya untuk kesekian kalinya. Dalam benaknya, apa hak Dongan menilai pilihannya.

Baru berjalan beberapa langkah, Dongan memanggilnya lagi. Arman menoleh.

"Kau harus tetap setor hadisnya padaku. Setiap hari dua hadis Bukhari dan dua hadis Muslim. Setiap hari mulai besok!" Lalu Dongan menutup pintunya dengan keras.


[Lanjut membaca eps 3]

Comments