Abu [Eps 3]



Baru pukul tujuh pagi dan rumah itu sudah disesaki pelayat. Dari tetangga, kerabat, hingga teman-teman mendiang sudah mulai berdatangan. Bahkan ada yang sengaja datang setelah tahu kabar kematian lelaki itu dan menginap dari tengah malam. Ishak, yang bekerja untuk keluarga mendiang sejak belasan tahun lalu, menjadi orang yang paling sibuk. Ia terus menemani hingga detik terakhir hidup tuannya, menelepon anak tuannya untuk memberi kabar duka, mengabari tetangga yang jarak rumahnya cukup berjauhan, dengan sigap mendata mesjid mana yang akan mengumumkan kematian tuannya, ia juga sibuk menjadi organisator untuk konsumsi para pelayat.

Dari pesan singkat yang diterimanya, anak bungsu tuannya akan sampai sekitar dua jam lagi. Itu artinya masih tanggung jawabnya untuk mengatur segala urusan. Ia juga baru mengurus perkara kuburan. Ia mengabari perwakilan pemuda kampung untuk menyiapkan liang lahat di tanah kosong tepat di belakang rumah tuannya ini.

Setelah selesai membayar bahan makanan untuk dimasak oleh tetangga bagi para tetamu, Ishak teringat dengan surat berisi pesan terakhir tuannya. Seingatnya, surat itu masih di kamar tuannya dan ia lupa menaruhnya di mana karena panik dengan kematian tuannya itu. Juga karena harus mengurus segala hal sendirian sejak istri tuannya meninggal belasan tahun lalu. Kedua anak tuannya bekerja di luar kota, praktis hanya dia dan tuannya yang mendiami rumah itu.

Tuannya itu tidak pernah mengeluh sakit sampai akhir hayatnya. Tetapi, dua hari terakhir, ia merasa tuannya itu seperti akan tahu meninggal dunia. Tuannya itu hanya terjatuh di dapur seminggu yang lalu, ketika hendak mengambil air minum setelah pulang mengecek stok biji kopi di gudang dekat rumah. Tuannya itu seorang pengusaha dan pengepul biji kopi tersohor di Mandailing, bahkan di Sumatera Utara. Sejak hari itu, tuannya hanya berbaring dan duduk bersandar di atas tempat tidur.

Sekitar pukul tujuh kemarin malam, Ishak dipanggil. Tuannya itu merasakan dadanya sesak. Ishak menyarankan untuk menghubungi dokter namun dilarang. Termasuk untuk mengabari anak-anak tuannya. Tuannya hanya meminta diambilkan air putih hangat dan beberapa carik kertas dan pulpen. Ishak menurut saja.

Ishak kembali ke kamar dengan membawa semua permintaan tuannya. Ia mendudukkan tuannya bersandar di punggung tempat tidur. Lalu membantunya minum. Tuannya meminta kertas dan pulpen tadi dan menyuruh Ishak untuk menunggu di luar kamar. Ishak pun turut.

Ishak sesungguhnya cemas, ia merasa akan terjadi sesuatu. Dia juga kasihan terhadap tuannya. Sesungguhnya lelaki tua itu kesepian sejak ditinggal mati istrinya enam belas tahun lalu. Tuannya itu juga punya hubungan yang tidak bagus dengan anak-anaknnya. Terutama anak sulungnya. Ishak sendiri hampir lupa kapan terakhir kali anak sulung tuannya itu pulang. Lima tahun lalu mungkin, atau bisa jadi lebih lama dari itu.

Pada anak keduanya, si bungsu, tuannya itu lebih dekat. Tetapi, sejak kuliah anak bungsu itu juga hanya pulang setahun sekali. Si bungsu sudah setahun lebih diwisuda dan lebaran kemarin tidak pulang karena sibuk merintis bisnis kedai kopinya di Denpasar.
"Bisnis baru itu seperti bayi, harus dijaga 24 jam," kenang Ishak mengingat ucapan tuannya sesaat setelah ditelepon anak bungsunya itu dua hari jelang lebaran lalu.


Jika tidak mengecek ke kolong tempat tidur, bisa jadi Ishak akan lama mencari surat wasiat tuannya itu. Ia duduk di atas ranjang tuannya dan memandangi surat yang dilipat tersebut. Ia ingin membacanya, namun urung dan menyimpan surat itu ke dalam laci.

Ishak mengingat kembali detik-detik terakhir hidup tuannya tadi malam. Setelah ia disuruh masuk kembali ke dalam kamar, ia sempat memandangi tubuh tuannya di atas ranjang. Tubuh itu sebenarnya masih terlihat bugar. Usia lima puluh lima tahun bukanlah umur yang renta. Yang membuat Ishak prihatin adalah tuannya itu terlihat amat kesepian.

Selama ini, hal itu tidak terpikirkan oleh Ishak karena tuannya itu amat aktif bekerja. Melihat kebun kopinya jauh ke pegunungan dekat perbatasan Sumatera Barat sana atau mengecek kualitas biji kopi rakyat ke beberapa wilayah di Mandailing, juga ke luar kota untuk memasarkan biji-biji kopi itu. Sepi itu lenyap ditelan kesibukan tuannya.

Namun tadi malam, sepi itu jelas menggantung di kedua mata tuannya. Meneteslah air mata Ishak dan dibalas dengan senyuman dan ajakan untuk turut duduk di samping tuannya di tempat tidur.

"Jangan menangis! Kamu menbuatku terlihat semakin menyedihkan." Ucap tuannya.
Ishak mengangguk, tetapi air matanya terus berjatuhan.

"Aku mencoba mensyukuri hidupku ini. Walaupun baru belakangan ini kulakukan. Tiap hari aku mencoba untuk mengatakan bahwa hidupku baik-baik saja. Tapi, tidak! Hidupku tidak baik-baik saja. Aku tidak baik-baik saja!" Tuannya itu berkata terbata-bata karena isak tangis. Ya, tuannya itu sekarang turut menangis. Air mata pertama yang Ishak lihat sejak kematian istri tuannya enam belas tahun lalu.

"Aku hidup dalam takut. Tidak pernah benar-benar berani untuk keluar dari ketakutanku. Istriku, Dewi, tahu itu. Oh, andai saja dia ada di sini sekarang. Dia akan memelukku. Pelukannya selalu bisa menenangkan badai. Dewi bukanlah penyelasanku. Ia adalah hal terbaik yang terjadi padaku. Juga kedua anakku: Gogo dan Doli. Mereka juga hal terbaik yang terjadi padaku. Aku mungkin bukan suami yang baik bagi Dewi dan bukan ayah yang baik bagi Gogo dan Doli, tetapi semua ini kulakukan untuk mereka. Untuk orang-orang yang sangat kucintai."

Ishak memeluk tuannya. Ia merasakan kejujuran pada kata-kata tuannya itu. Ikatan yang terjadi pada Ishak dan tuannya memang ajaib. Tak sekadar antara asisten dan tuannya. Ishak bukan sekadar pemuda sebatang kara yang dipungut dan dipekerjakan tuannya enam belas tahun lalu di Jakarta. Keduanya sudah seperti saudara.

"Satu-satunya penyelasanku adalah aku tidak pernah berani menghadapi ketakutanku. Kau tahu, keberanian adalah rasa takut yang diterima. Sedangkan aku tak pernah menerima kenyataan bahwa aku takut. Aku justru berpura-pura berani dan itu merusak segalanya kini." Ucap tuannya.

Tuannya itu lalu meminta Ishak untuk membaringkannya kembali.
"Aku merasa waktu untukku tak banyak lagi. Saat aku tiada nanti, tolong berikan wasiat ini kepada anak-anakku."
Ishak menerima surat itu dengan dada yang berguncang. Ia tak kuasa melihat tuannya dalam keadaan begitu. Detik itu, tuannya terlihat amat kecil dan ringkih. Hilang sudah kesan kuasa, tegas dan bugar yang selama ini ditampilkannya.
"Terima kasih sudah merawatku juga keluarga ini. Tolong maafkan kesalahanku."
Ishak kembali menganngguk dan sebisa mungkin membalas senyuman tuannya yang tiba-tiba dan terasa ironis. Ishak pamit untuk menyiapkan segelas kopi. Tuannya itu meminta Ishak untuk menyeduh kopi Mandailing yang tadi sore diantarkan karyawan gudang.

Setelah selesai menyeduh kopi, Ishak kembali ke kamar dan mendapati tuannya itu sudah meninggal dunia. Ishak menangis. Ia amat berduka.

***

Mobil yang ditumpangi Doli dan kekasihnya, Mia, sudah memasuki kawasan Panyabungan. Kota kecil tempat Doli dibesarkan tanpa ibunya. Sebentar lagi mereka akan tiba di rumah ayah Doli. Lelaki itu tampak makin murung. Dibanding abangnya, ia memang lebih dekat dengan ayahnya. Walau tak benar-benar dekat karena ayahnya lebih memilih untuk sibuk bekerja dan masa kecilnya lebih sering dihabiskan dengan abang atau asisten rumah tangga mereka, Ishak.

Dari ayahnya pula ia mengenal kopi. Ayahnya adalah orang yang bertanggung jawab atas kecintaannya pada minuman pahit itu. Kedekatannya pada kopi itu membuatnya berani membuka kedai kopinya sendiri. Tetapi, Doli belum pernah menyeduh kopi hasil seleksi ayahnya di kedai kopinya. Dan kenyataan itu membuatnya makin bersedih pula.

Bagi Doli, ayahnya adalah sosok yang pendiam dan bukan tipikal yang gemar mengekspresikan perasaaan. Apa yang dilakukan ayahnya lebih banyak pada menyuruh atau melarang ini dan itu. Doli kecil terkadang merasakan bahwa ayahnya lebih sayang pada anak-anak karyawan gudang yang kebetulan dibawa bekerja dan dititip di rumahnya atau pada teman bermain Doli.

Pada mereka, ayahnya lebih terbuka dan mau bercanda. Doli kecil sebetulnya suka-suka saja dengan perubahan sikap ayahnya itu ketika teman-temannya datang, apalagi ayahnya akan memberi uang untuk dibelikan es potong. Terkadang, ayahnya juga mau ikut duduk dan bercerita tentang hantu di puncak Sorik Marapi atau bernyanyi sambil memetik gitar tuanya. Saat-saat seperti itu membuat Doli bahagia. Ia seolah melihat sisi lain ayahnya yang tidak selalu murung atau menyeramkan. Dan setelah besar, Doli tahu kalau sisi itu adalah ayah yang ia impikan. Ayahnya yang lebih ekspresif dan afektif.

Jika hanya Doli, Gogo, dan Ishak, maka ayahnya akan lebih sering di ruang kerjanya. Ayahnya hanya datang untuk menemaninya menyelesaikan tugas sekolah, menyuruh tidur dan sesekali membacakan dongeng, atau membangunkannya di pagi hari dan menunggui Doli untuk menghabiskan sarapan.

Satu hal yang Doli kecil suka ialah saat ayahnya mengajak mereka belanja mainan atau baju baru dan itu cukup sering. Juga saat ayahnya mau mengajaknya ke kebun kopi saat Doli kelas tiga SD. Doli hafal betul wajah ayahnya saat berurusan dengan kopi. Muka itu akan berkerut dan berubah masam kalau ada yang tak sesuai maunya. Tapi akan sangat cerah kalau ayahnya senang. Muka senang itu akan membuat kunjungan Doli ke kebun kopi itu menyenangkan karena ia akan bebas memilih aneka camilan di warung kampung dekat kebun kopi. Doli juga bakal berani meminta teh lemon pakai es. Coba saja kalau suasana hati ayahnya buruk saat kunjungan ke kebun kopi itu, Doli tak akan berani minta teh lemon dan ia hanya akan menyeruput kopi pahit dan teh tawar panas yang selalu dipesan terlebih dahulu oleh ayahnya. Petani-petani kopi yang ada di warung itu juga tak akan dapat jatah rokok gratis.

Kini, ayahnya itu sudah meninggal. Doli sedih mengingat semua kenangan yang ada. Ayahnya yang murung sejak ditinggal mati ibu, abangnya yang sering membuat ayahnya marah, ayahnya yang sibuk bekerja, atau saat abangnya memutuskan keluar dari rumah. Oh, juga saat ayahnya membelikan seekor anjing yang kerap bertengkar dengan kucing kampung di area rumah. Apa kabarnya anjing itu? Semua kenangan itu muncul kembali. Berdesakan.


Doli baru saja selesai rapat bersama teman-temannya saat menerima kabar kematian ayahnya. Ia mengabari kekasihnya, Mia, dan mengatakan akan pulang kampung untuk sementara waktu. Mia menawarkan diri untuk turut serta menemani. Doli kemudian menghubungi abangnya, Gogo, dan dijawab dingin. Pertengkaran di antara Gogo dan ayahnya amat terasa. Doli percaya hubungan keluarga itu penting dan amat erat. Tetapi, hubungan yang erat di antara keluarga itu juga bisa menghasilkan kebencian yang teramat dalam.

Jika disuruh memilih, sesungguhnya Doli tak dapat memihak ayah atau abangnya. Tetapi soal kenyamanan, Doli lebih nyaman bersama Gogo. Karena dengan abangnya, Doli lebih bisa ekspresif.
Dari dulu, pertengkaran mereka tak pernah lama. Amarah Doli akan selalu reda setelah dibelikan es potong atau dibelikan stiker tato saat Gogo pulang sekolah.

Waktu kecil, Doli sering jengkel karena selalu disuruh Gogo untuk mandi terlebih dahulu. Gogo masih menyempatkan untuk tidur lebih lama lagi saat Doli mandi. Doli terkadang mencipratkan air ke seragam SMA Gogo kalau sudah terlalu kesal.

Doli kecil ingin cepat-cepat selesai mandi. Namun, ada saja yang Doli lakukan di kamar mandi. Entah itu bermain air dan menganggap gayung adalah perahunya, menyicip rasa odol milik Gogo yang di bungkusnya ada foto laki-laki dan perempuan tersenyum lebar, atau duduk selonjoran di lantai kamar mandi. Hanya duduk dan menunggu sampai ayahnya berteriak karena tak kunjung mendengar suara guyuran air. Lalu Doli akan cepat-cepat mandi dan keluar sambik berjinjit dan tersenyum ketika melewati ayahnya. Doli akan lari terbirit-birit saat mendapati ayahnya melihat ke arahnya dan masuk ke kamar Gogo untuk melapor kalau ia sudah selesai mandi.

"Masih jauh?" Tanya Mia yang baru selesai menerima panggilan telepon dari rekannya di galeri.
"Sebentar lagi. Paling sepuluh menit." Jawab Doli.


[Lanjut membaca eps 4]

Comments