Abu [Eps 8]



Hari-hari berjalan dengan menyenangkan bagi Arman sejak ia pindah ke pondok Dongan. Apalagi Dongan juga suka menghabiskan waktunya di pondok dan tak lagi sering berkumpul semalam suntuk dengan teman atau geng anehnya. Dongan juga tak melulu pulang ke rumah orang tuanya setiap menjelang libur di penghujung pekan.

Seperti malam ini, Dongan memutuskan untuk tidak pulang ke rumah orang tuanya dan memilih untuk pulang pekan depan. Sama dengan Arman. Mereka mengadakan acara masak dan makan bersama teman-teman pondokan satu gang. Banyak juga santri yang tak pulang ke rumah tiap akhir pekan karena berasal dari tempat-tempat yang jauh. Ada dari Medan, Sidempuan, Aceh, Pekanbaru, Padang, Jawa, Natal, bahkan dari Kalimantan.

Bagi Arman, ia hanya pulang sekali sebulan ke rumah neneknya. Sejak kedua odang tuanya meninggal, remaja lelaki itu memang diasuh nenek yang tidak terlalu menyukainya pula. Arman hanya pulang untuk meminta uang, untuk biaya sekolah dan biaya keperluan sehari-hari yang teramat pas-pasan. Sementara untuk uang jajan, amat jarang diberi oleh neneknya. Arman harus bekerja dengan memberi bimbingan belajar tiga kali seminggu di salah satu rumah penduduk di dekat pesantrennya.

Arman baru saja selesai memunguti sampah sisa acara mereka malam itu ketika Dongan muncul bersama beberapa santri lain. Tangan mereka masing-masing membawa piring, wajan, gelas, atau sendok yang baru mereka cuci di sungai tepat di belakang area pondokan.

Setelah mengembalikan beberapa barang pinjaman dan santri lain membubarkan diri, Dongan segera mengajak Arman masuk ke dalam pondok. Dongan tahu kalau hari yang dilalui Arman cukup melelahkan karena adik sekamarnya itu dihukum ustaz untuk mengangkat pasir dari pinggir jalan raya ke atas bukit tempat gedung baru pesantren tengah dibangun.

Setelah menanggalkan kain sarung yang selalu mereka kenakan dan menggantinya dengan celana pendek selutut, Arman tak kuasa menahan kantuk dan rebah di dekat jendela yang masih dibuka. Pondokan berbentuk rumah panggung seluas dua belas meter persegi itu selalu terasa panas, walau di musim hujan sekalipun. Sementara itu Dongan memilih hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan dan duduk di dekat jendela. Ia merokok.

Ia paham kalau Arman kelelahan dan melewatkan ritual sebelum tidur mereka, yaitu saling bertukar cerita apa saja yang dilalui seharian itu. Walau satu pesantren, mereka tak selalu bertemu seharian karena kesibukan masing-masing. Entah itu belajar, bergaul bersama teman seangkatan atau mendapat hukuman dari ustaz. Malam hari menjelang tidur adalah waktu yang tersisa bagi mereka untuk berbincang dengan tenang.

Setelah menghisap dua batang rokok, Dongan bangkit dan menggelar tikar, kemudian membentangkan kasur lipat pemberian kakaknya yang menetap di Bandung saat pulang kampung, lebaran tahun lalu. Ia bersiap membangunkan Arman untuk memintanya pindah ke atas kasur, namun urung dilakukan saat melihat wajah adik kelasnya itu. Wajah itu begitu polos dan tenang. Mulutnya sedikit membuka dan terdengar deru napas yang cukup pelan. Arman tak mendengkur saat tidur, berbeda dengannya. Ia kerap diejek Arman karena dengkurannya cukup keras. Apalagi setelah melewatai hari yang berat.

Dongan mendekat ke arah Arman dan duduk di sebelahnya. Ia kembali menyalakan sebatang rokok dan memandangi bulan yang lesu ditutup awan. Dari sudut kamar, tepat di bawah jejeran buku dan aneka kitab yang ditata di atas rak, lampu minyak terseok-seok menyemburkan sinarnya.

Di benaknya, Dongan kembali mengenang saat-saat ia dan Arman mendaki Sorik Marapi. Ia mengingat-ingat raut muka Arman sesaat setelah mencapai puncak gunung itu. Dongan merekam semuanya dengan jelas di ingatannya, bagaimana adik kelasnya itu berlari-lari di dataran puncak Sorik Marapi, memetik banyak sekali buah aramenting hingga mulutnya berubah ungu, atau saat adik kelasnya itu berulang kali mengucap terima kasih kepadanya. Sebuah ucapan yang menentramkan hatinya. Walau tanpa ia tahu sebetulnya apa sebabnya.

Dongan paham, ia memang senang membuat orang lain senang, ia suka dipuji. Narsistik yang ia amini. Tetapi kepada Arman, itu berbeda. Ia selalu ingin melakukan lebih kepada junior yang dari dulu kerap ia rundung itu. Ia ingin tampil mengesankan di mata adiknya itu. Terlebih lagi, Dongan ingin dekat-dekat dengannya. Sebuah perasaan yang ia tak tahu datangnya dari mana, juga ia tak paham untuk menyebutnya apa.

Dongan hanya menjalaninya saja. Ia tak terlalu peduli untuk menerjemahkan rasa yang menjalar di seluruh tubuhnya kepada Arman. Ia juga tak berencana untuk membicarakan itu saat obrolan jelang tidur mereka. Satu hal yang Dongan tahu, ia senang saat bersama Arman dan bebas menjadi dirinya sendiri. Seorang Dongan yang tak melulu keras. Sosok Dongan yang lembut dan tak meluap-luap. Dongan yang merasakan bahagia. Sebuah ilusi yang ia anggap layak untuk dijalani.

Malam sudah teramat larut saat Dongan menutup bilah jendela pondoknya dan menyudahi isapan rokoknya. Ia berencana untuk tidur. Alih-alih membuat Arman bangun dari tidurnya yang pulas, Dongan justru mengangkat badan anak itu dan membopongnya ke atas kasur.

Saat Dongan hendak membaringkan tubuh Arman di atas kasur, adik kelasnya itu terjaga. Mata keduanya bersitatap. Tak ada kata-kata yang terlontar dari bibir keduanya. Dongan hanya merasakan jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Dongan tidak tahu kalau Arman juga merasakan hal yang sama. Tiba-tiba saja realitas yang mereka junjung berubah dan memberi mereka ruang untuk berdua. Tanpa ada apapun dan siapapun di realitas itu, hanya benar-benar mereka berdua. Realitas itu tak mengenal dosa atau kewajiban, pahala atau neraka, kutukan atau rasa bersalah. Realitas itu hanya menyediakan ruang untuk penerimaan dan untuk larut di dalamnya.

Separuh tubuh Arman sudah rebah di atas kasur, kepalanya masih dalam dekapan Dongan. Ia merasakan hal yang tak pernah ia rasakan selama ini. Sebuah desiran adrenalin yang terasa janggal sekaligus tak ingin ia abaikan. Arman masih menatap mata kakak kelasnya itu dan tak sadar jika jarak di antara keduanya kian terpangkas. Jarak yang terpangkas itu membuat bibir keduanya bertemu.

Arman melingkarkan kedua tangannya ke leher Dongan. Ia tak tahu dari mana ia bisa tahu cara seperti itu. Arman hanya merasa ia mengikuti nalurinya dan akhirnya keduanya rebah di atas kasur lipat dan saling melipat. Katup-katup di antara keduanya membuka dan lebur dalam ledakan rasa yang tak mereka pahami seutuhnya dan memilih untuk hanyut dalam iramanya yang memabukkan.

                       ***

Lantunan dari ayat-ayat Alquran yang sudah direkam dalam kaset terdengar dari pengeras suara mesjid nun di tengah perkampungan. Lantunan ayat Tuhan itu menguasai udara subuh. Letak rumah mendiang ayahnya ini memang terasing di pinggir kampung. Jarak yang jauh dari kampung ini membuat Doli kecil dulu susah untuk bertemu teman atau jajan. Doli biasanya memuaskan hasrat jajannya saat dijemput Ishak atau menunggu Gogo pulang dari sekolah untuk menemaninya.

Malam itu, bagi Doli, keterasingan rumah di pinggir kampung ini rasanya tak sebanding dengan keterasingan yang ia rasakan setelah membaca buku harian ibunya.

Dari arah belakang rumah, terdengar bunyi guyuran air di kamar mandi. Doli tahu kalau itu adalah Ishak yang tengah mandi dan bersiap untuk salat. Dari dulu Ishak selalu begitu, menjadi orang pertama yang bangun dan keluar dari kamar.

Doli lalu mengalihkan perhatiannya ke arah jenazah ayahnya yang dibaringkan di atas ranjang. Tubuh jenazah Arman seluruhnya ditutupi kain. Jenazah itu dipakaikan celana jins panjang berwarna akua dan kemeja putih berkantong satu di dadanya. Pada pinggangnya dibelitkan sabuk berbahan kain berwarna hitam dan tas pinggang coklat yang selalu mendiang Arman kenakan saat bekerja dulu. Doli kecil menganggap dari dalam tas itulah munculnya uang ayahnya yang tak pernah habis dan berkhayal untuk mengenakan tas itu suatu hari nanti. Kaki jenazah ayahnya dibalut sepatu olahraga berwarna hitam dan putih. Kesan berpakaian yang mungkin santai di mata orang lain, namun tak pernah santai di mata anak-anaknya.

Ia menggeser kursi di sudut kamar yang ia duduki sejak berjam-jam lalu ke arah ranjang tempat ayahnya dibaringkan. Tangannya masih menggenggam buku harian ibunya. Dari buku itu ia mengetahui sisi lain ibunya. Sosok yang ia harap akan ia temukan di buku itu tak ia temukan seluruhnya. Sosok ibu yang penyayang dan penyabar. Ibunya memang penyayang. Mendiang ibunya menyayanginya dan abangnya, Gogo. Ibunya juga menyayangi ayahnya. Mencintai ketiganya tanpa syarat. Mencintai ia dan Gogo tanpa syarat dan mencintai Arman juga tanpa ayarat. Setidaknya dari percintaan mereka. Namun, ibunya bukan sosok yang penyabar. Benar-benar di luar ekspektasinya.

Namun, Doli juga tahu kalau cinta ibunya kepada ayahnya tak benar-benar tanpa syarat. Cinta itu menuntut syarat yang amat fundamental: sebuah kejujuran. Kenyataan bahwa cinta yang ibunya telan bulat-bulat dari ayahnya tak seutuhnya jujur, menghancurkan  ibunya. Kenyataan itu juga menghancurkan Doli.

Untuk ibunya, kenyataan itu  merenggut sedikit demi sedikit semangatnya untuk hidup. Dan membuatnya mati dalam nelangsa yang menyedihkan. Ibunya mati karena cinta yang tak sanggup ia dekap dan. Cinta yang ingin ibunya kuasai.

Tak berapa lama, Gogo juga memasuki kamar ayahnya dan bergabung dengan Doli di dekat jenazah. Kedua kakak beradik itu memandangi jenazah ayahnya dalam diam. Gogo membuka perbincangan lebih dahulu.

"Ayah mencintai orang lain selain ibu." Ucap Gogo.

"Ya. Dan ibu sangat menderita karenanya. Ibu tidak menyangka bahwa laki-laki yang ia cintai bukan miliknya seorang." Balas Doli.

"Aku tak bisa menyalahkan ibu." Lanjut Gogo.

"Aku juga." Balas Doli, "tetapi, ibu tak pernah benar-benar memperjuangkan ayah sebetulnya. Maksudku setelah ia tahu ayah punya kekasih lain. Ibu memilih untuk meratap."

"No, mom was a fighter. Dia memilih ayah dibanding keluarganya di Ambon."

"Tetapi ibu menyerah. Ibu hanya punya ayah dan cintanya kepada ayah membunuhnya. Dulu, aku bersimpati kepada ibu. Sekarang aku tak tahu harus bersimpati kepada ayah atau ibu." Ucap Doli.

"Mereka berdua memang egois. Aku mencoba untuk memakluminya saja."

"Aku belum bisa. Ibu harusnya kuat dan tak lemah. Hidupnya memang hanya tahu ayah, tetapi ada kita. Bukankah kita bisa jadi alasan ibu untuk kuat. Dengan atau tanpa ayah. Ibu membuang kita dari hidupnya."

"Doli," ucap Gogo dan memegang bahu adiknya. "Ibu tak pernah melakukan itu. Ibu hanya tak tahu bagaimana caranya menyelesaikan persoalan hidupnya. Terkadang cinta mematikan akal dan menumpulkan logika. Ibu tak punya kesempatan berdamai dengan cintanya."

"I don't know." Kata Doli. "Hanya saja aku berharap ibu bertahan."

"Aku juga maunya begitu. Apalagi kalau tahu ayah rupanya memilih ibu."

"Bukan lelaki itu?" Tanya Doli heran.

"Bukan. Ayah memang mencintai lelaki itu dan itu cinta pertamanya. Tetapi, pada akhirnya ayah tahu kalau cinta sejatinya adalah ibu. Hanya saja ayah tak bisa meyakinkan ibu lagi dan..."

"Dan ibu tidak mau bertahan." Doli menghela napas panjang.

"Ya, lelaki itu datang lagi di hidup ayah. Aku masih ingat, Li." Kenang Gogo. "Waktu itu ayah selalu pulang malam. Lampu mobilnya yang menembus kaca jendela kamarku akan membangunkanku jam berapa pun itu."

Gogo memandangi tubuh ayahnya yang ditutupi kain di atas ranjang di depan mereka.

"Ayah hidup di zaman hal-hal seperti itu bukanlah sebuah pilihan." Lanjut Gogo.

"Di bukunya, ibu menulis mungkin saja ayah tak benar-benar mencintainya saat ayah menikahinya." Lanjut Doli.

"Bisa jadi."

"Tetapi akhirnya ayah memilih ibu. Sayang sekali ibu tidak melihat itu." Ucap Doli. "Aku muak sebetulnya dengan masalah komunikasi di keluarga kita. Kalau saja dibicarakan. Kalau saja mereka berdua mau duduk dengan kepala dingin, bersabar dan saling menguatkan, mungkin ini semua tak akan terjadi. Mungkin aku tak akan tumbuh dengan anggapan kalau ayah tak mencintaiku atau ibu mati gara-gara aku." Ucap Doli.

"Doli..." potong Gogo.

"Itu yang ada di benakku selama ini, bang. Interaksi keluarga kita yang ganjil ini kuanggap salahku. Ibu dengan ayah, ayah denganku, abang dengan ayah. Tak ada yang normal dengan keluarga kita."

"That was not your fault. I love you, mom loved you. Dan itu cukup. None of these are your fault." 

"Really?" Tanya Doli.

Gogo mengangguk dan memeluk adiknya itu.

                       ***

Setelah mendapat kepastian dari dr. Ilham, dua hari kemudian, iring-iringan dua mobil membelah jalanan kampung. Di depan, Ishak mengendari mobil bak tertutup, di dalamnya ada Gogo dan Doli. Di mobil kedua, Jelita duduk di belakang kemudi. Di mobil itu ada Mia dan juga Talu. Tak satu orang pun di kampung itu yang tahu kalau di dalam mobil bak itu terdapat jenazah mendiang Arman. Orang-orang hanya tahu kalau Arman sudah dikebumikan. Bukannya digali kembali beberapa jam kemudian. Iring-iringan itu menuju rumah sakit di mana dr. Ilham sudah menunggu.

Iring-iringan mobil itu langsung menuju ruang mayat di bagian belakang rumah sakit. Sudah ada dr. Ilham di sana. Dari raut wajahnya, sudah jelas dokter itu tidak menyukai apa yang sedang ia lakukan. Dokter itu kemudian memerintahkan dua perawat untuk membantu Gogo dan Doli memindahkan jenazah Arman ke dalam peti mati yang sudah ia sediakan.

"Ini salinan dokumennya. Yang asli dipegang oleh perawat dan supir ambulan." Ucap dr. Ilham kepada Gogo.

"Sekali lagi terima kasih, dok." Balas Gogo.

"Ya, sama-sama."



Pukul lima sore, iring-iringan mobil ambulan yang membawa jenazah Arman, juga mobil yang membawa Gogo, Doli, Jelita, Mia dan Talu bergerak menuju Medan. Ishak tak ikut. Ia memilih untuk tetap di Panyabungan.

Tengah malam, iring-iringan mobil itu berhenti di Parapat. Mereka beristirahat dan mengisi tenaga dengan makan di salah satu warung makan yang berjejer di sepanjang jalanan Parapat, menghadap langsung ke danau Toba.

Dari warung makan itu, permukaan danau Toba memantulkan cahaya bulan. Di ujungnya, tepat di horizon, aneka lampu dari bangunan di Samosir juga gemerlapan di latar belakang.

"Pa, Talu boleh mandi di danau?" Tanya Talu kepada ayahnya, Gogo.

"Boleh. Tapi, enggak sekarang, dong." Jawab Gogo.

"Itu lampu rumah, pa?" Tanya Talu lagi menunjuk ke kejauhan.

"Iya. Itu lampu rumah-rumah orang Samosir. Samosir itu pulau tepat di tengah danau Toba. Talu tahu, kalau kakek dan nenek dulu naik ke satu gunung di pulau itu. Namanya Pusuk Buhit." Jelas Gogo.

"Tapi, kakek sudah meninggal. Jadi, kakek enggak bisa bawa Talu ke sana." Balas Talu.

"Kalau Talu sudah besar, Talu bisa juga ke sana. Jadi, makan yang banyak biar lekas besar seperti om Doli." Kali ini Jelita yang menimpali.

Gogo termenung. Pandangannya jauh terarah ke Samosir. Pandangan itu menerawang.

Doli yang  dan Mia sudah selesai makan dan memilih untuk duduk berduaan di kursi yang menghadap ke arah jurang. Keduanya saling berpelukan. Asap rokok Doli bergulung-gulung ditiup angin.

                       ***

Gogo dan Doli melepas kepergian Jelita, Mia dan Talu di bandara Kualanamu. Jelita harus pulang untuk urusan pendidikannya. Mia bersedia menjaga Talu sementara di Jakarta. Sebagai balasannya, Jelita dan Talu akan ikut ke Bali saat Mia mengurusi beberapa hal di butiknya dan kedai kopi Doli.

Setelah berpisah, Gogo dan Doli memutuskan untuk langsung kembali ke Panyabungan. Di tangan Doli, ia menggenggam guci yang menampung abu ayahnya.

Belasan jam berkendara mereka habiskan dalam diam. Masing-masing dengan pikirannya.

                       ***

"Sini! Kita makan." Ajak Ishak kepada Doli. Gogo sudah terlebih dahulu mengambil posisi di meja makan.

"Om ini gila," kata Doli. "Kapanlah om masak semua ini." Kata Doli sambil duduk.

"Berkat bantuan Gogo juga." Balas Ishak.

"Om nikah sajalah. Kalau kami sudah pergi, bakal sendirian di sini." Lanjut Doli.

"Kau ngomong nikah macam mudah saja." Timpal Gogo.

"Om memang enggak mau nikah?" Desak Doli lagi. Ia tak menghiraukan omelan Gogo.

"Dulu sempat ada keinginan. Tapi, om juga sibuk ngurusin kopi dan rumah ini. Lagian, om juga betah sendirian." Jawab Ishak.

"Ya, beda, kan, bang?" Ucap Doli ke arah Gogo. Mungkin karena Gogo adalah satu-satunya yang sudah menikah di ruangan itu dan Doli ingin mendapat dukungan serta perspektif Gogo. "Kita juga makin tenang kalau om sudah menikah."

Ishak hanya mengangguk dan tertawa pelan.

"Kalian enggak ada yang mau melanjutkan bisnis kopi atau ngurusin kebun kopi bapak?" Lanjut Ishak mengalihkan pembicaraan ke topik yang menurutnya lebih penting. "Apalagi kamu, Doli, punya kedai kopi di Bali. Kalian harus memikirkan kebun itu juga. Soalnya banyak yang menggantungkan hidupnya dari bisnis mendiang bapak."

Doli diam saja. Ia tak merespon.

"This is not my thing." Ungkap Gogo. Ia melirik ke arah Doli.

"Buset, aku masih mau di Bali. Lagian aku terlalu muda untuk jadi uwak-uwak yang ngurus kebun kopi." Balas Doli. "Lagian ada om. Biasanya juga om bantu ngurus kebun."

"Kalian masih bisa mikirin ini. Om tentu saja mau bantu. Tapi, om berharap kalian juga ikut ngurus kebun. Soal rumah di Batahan," lanjut Ishak. Gogo dan Doli menyimak dengan antusias. Rumah pantai yang ditulis ayahnya dalam buku harian itu masih menjadi misteri bagi mereka. "Memang benar ada. Om nemu surat tanah dan bangunannya."

"Oke. Thank's, om." Jawab Doli. "Kapan lah kita cek ke sana?"

"Aku mau bertemu Dongan." Kata Gogo tiba-tiba.

Doli mendongak. Ia tak menduga nama lelaki itu akan terlontar saat itu dari mulut abangnya. Ia meletakkan sendoknya.

"Buat apa, sih?" Tanya Doli. Ia tak menyembunyikan nada jengkel di suaranya.

"I don't know. Aku cuma merasa ia perlu tahu kalau ayah sudah meninggal." Lanjut Gogo.

"Dia pasti udah tahu. Panyabungan ini kecil. Orang dengan nama sebesar ayah di sini kalau meninggal pasti beritanya nyebar." Ucap Doli.

"Iya, sih. Tapi, aku mau melihat orangnya seperti apa." Ungkap Gogo.

"Om kenal, enggak, sama Dongan ini?" Tanya Doli kepada Ishak.

Yang ditanya menggeleng.

"Kita bisa cari ke kampungnya." Usul Gogo.

"Terus?" Tanya Doli.

"Entahlah, aku juga belum kepikiran bakal ngapain selain bilang kalau ayah meninggal." Lanjut Gogo.

"He was the one that made this family like this. Kacau, whatever it is." Kata Doli menentang rencana Gogo.

"Aku cuma memposisikan diriku sebagai ayah. Orang yang ia cintai selain ibu dan kita adalah Dongan. Dan apa salahnya kita kasih tahu lelaki itu?" Lanjut Gogo membeberkan argumentasinya.

"Those words are coming from you? A son who never exist for dad. What a funtastic line to hear!" Ucap Doli. Ia bangkit dan meninggalkan meja makan. Doli keluar ke halaman belakang.

"Hei, sudah! Biarkan saja! Nanti om yang bicara dengan Doli. Dia tak benar-benar bermaksud berkata seperti itu." Ishak menengahi.

"I know." Ucap Gogo. "Aku cuma ingin melakukan sesuatu yang benar."

"Om tahu. Hubunganmu dengan bapak, bukan salahmu. Beliau yang terlalu keras menghukum dirinya sendiri. Itu saja." Kata Ishak.

Gogo menyimak. Matanya merah.

"Di malam sebelum bapak meninggal, beliau sempat berkata bahwa kalian adalah hal terbaik yang terjadi padanya." Lanjut Ishak.

Air mata Gogo jatuh untuk kali pertama kalinya sejak ayahnya meninggal. Ia tak pernah menangisi ayahnya. Juga saat ia melepas tubuh ayahnya untuk dikremasi kemarin. Air mata yang jatuh itu juga menjadi air matanya untuk Arman sejak waktu yang teramat lama.

"Dan om pikir, tak masalah kalau kamu mau bertemu lelaki itu." Kata Ishak.

Begitulah Ishak. Ia selalu hadir untuk menenangkan segalanya.



"I am sorry." Kata Doli kepada Gogo pada malam harinya.

Gogo mengangguk. Ia sesungguhnya iri kepada adiknya itu. Doli selalu pandai mengutarakan isi hatinya dan cenderung lebih mudah untuk berdamai dengan keadaan. Sebuah bakat yang ia rasa tak mungkin diturunkan dari ibu atau ayahnya yang amat suka memendam segalanya.

"Aku mau nemenin kau bertemu dengan Dongan." Ucap Doli kemudian.

"Serius?" Tanya Gogo.

Doli mengangguk.

                       ***

"Selamat sore, istriku." Ucap Arman saat memasuki galeri bunga istrinya, Dewi. Perempuan yang tengah menggunting tangkai bungai itu lalu tersipu melihat kedatangan suaminya.

"Sore, pa." Jawab Dewi.

"Suamiku dong. Jangan panggil papa! Gogo, kan, lagi enggak ada." Bantah Arman.

"Tapi ada kita, pak!" Ucap Rita, karyawan Dewi. Disusul tawa renyah dari Nona, juga karyawan di galeri itu.

"Serem, ya? Ada suara, tapi enggak ada orangnya." Ejek Gogo ke arah Dewi.

Rita memonyong-monyongkan mulutnya dan melambai-lambai sebagai penanda dan bukti kalau ia ada. Bukan sosok tak kasat mata.

Semua orang tertawa.

"Gogo enggak ada. Tapi, adiknya ini pasti dengar." Dewi menunjuk ke arah perutnya.

Mata Arman terbelalak.

Mata Rita dan Nona juga terbelalak.

"Kamu hamil?" Ucap Gogo dengan antusias. Matanya berbinar-binar.

"Yap." Balas Dewi.

"Yes! Wah, ini kejutan yang luar biasa. Harusnya aku yang mau kasih kejutan sama kamu." Lanjut Arman. Ia mendekat memeluk Dewi.

Kening Dewi mengerut.

"I bought this for you." Arman mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya.

Dewi membuka kotak itu dan mendapati seuntai kalung berbentuk hati dari batu mulia berwarna merah. Ada berlian mengelilingi batu itu.

"Aku buat khusus biar senada dengan anting yang aku kasih dulu." Lanjut Arman

"Thank you." Ucap Dewi. Ia memeluk suaminya itu kembali.

"Anting itu diberi waktu ibu hamil Gogo, kan? Sekarang dapat kalung. Wah, selamat, bu. Untuk kalung dan kehamilannya." Ucap Rita tak kuasa menahan diri untuk tak ikut dalam keharuan.

Dewi mengangguk.

"Tolonglah, Rita. Jangan mengganggu." Ledek Arman.

"Bapak yang ganggu. Orang kita lagi kerja bapak datang." Balas Rita.

"Itu namanya rezeki anak." Tambah Nona.

"Kamu juga, Nona." Kata Arman.

"Ibu enggak salah pilih suami?" Kata Nona dengan nada canda kepada Dewi.

"No. Aku enggak salah." Jawab Dewi.

Semua orang kembali tertawa.



Keesokan harinya, setelah memeriksakan kandungan Dewi ke dokter, Arman mengajak istri dan Gogo kecil untuk makan malam. Gogo juga turut senang ketika tahu kalau ia akan punya adik. Karena dalam sepuluh tahun hidupnya, ia hanya bermain sendiri. Ia juga ingin seperti teman-temannya yang punya adik untuk diajak bermain dan dibuat menangis.

Setelah pulang ke rumah dan mengantarkan Gogo tidur, Arman meminta Dewi untuk kembali naik ke mobil. Dewi menurut saja dan penasaran apa yang sedang Arman siapkan lagi.

Di dalam mobil, Arman menutup mata Dewi dengan sapu tangan. Lalu mengendarai mobil itu. Arman tahu, Dewi sudah hafal seluk-beluk jalanan dari rumah mereka. Maka, ia sengaja melajukan mobilnya ke sembarang arah, lalu berputar-putar dengan harapan Dewi tak mengenali lagi sedang berada di mana.

Setelah sampai, Arman menuntun Dewi memasuki sebuah tempat. Dari aroma yang ia hirup, Dewi sepertinya tahu mereka sedang berada di mana. Ia menahan diri untuk tak berkomentar dan hanya tertawa sambil terus-terusan bertanya apa yang sedang direncanakan Arman.

Setelah Arman membuka penutup matanya, Dewi dibuat terbelalak. Ia tahu kalau ini memang galerinya, dari aroma bunga yang ia hirup tadi saja, ia sudah tahu. Namun, tidak dengan dekorasi dari lampu dan meja kecil di tengah galeri.

Meja itu lengkap dengan lilin, hidangan yang setelah dilihat dari dekat adalah makanan kesukaan Dewi, gado-gado, sebotol anggur, dan bouquet mawar merah. Jangan lupakan aneka bunga lain di dalam galeri yang sengaja ditata sedemikian rupa hingga membuat galeri itu seperti sebuah taman di dalam gedung.

Suasana romantis itu disulap Arman dengan bantuan Rita dan Nona. Atau lebih tepatnya, Rita dan Nona yang menawarkan konsep itu kepada Arman. Dan sukses membuat Dewi terkesan.

Arman menarik bangku dan meminta Dewi untuk duduk.

"Anggur?" Tanya Dewi, heran.

"Oh, itu untuk aku. Untuk kamu, air putih saja." Kata Arman menjawab keheranan Dewi karena tentu istrinya itu tak mau minum anggur saat sedang hamil. Dewi pun tertawa.

"Aku mencintaimu." Kata Arman saat menatap mata Dewi lekat-lekat. Satu tangannya menggenggam tangan kiri istrinya itu. "Aku merasa beruntung memilikimu di hidupku."

"Aku juga mencintaimu, bang." Balas Dewi.

"Aku bersyukur Tuhan memberi kamu, Gogo dan calon adiknya."

Dewi terharu. Air matanya jatuh perlahan.

Keduanya menikmati momen romantis itu. Mereka saling menyampaikan cinta dan menyerap energi masing-masing lewat obrolan, sentuhan, dan tatapan yang kian menghangat.

Pada satu momen, Arman bangkit dan berjalan ke arah Dewi. Arman menciumi bahu Dewi dari belakang. Dewi terhanyut oleh sentuhan cinta Arman. Dewi tak bisa lama-lama diam dan tak bereaksi apapun. Ia berbalik dan bangkit, lalu memeluk Arman dari depan.

Tangannya melingkari leher Arman dan membuat lelakinya itu duduk di atas kursinya. Dewi duduk di pangkuan Arman dan berhadap-hadapan. Keduanya pagut-memagut.

Hal terakhir yang ia sadari adalah mereka berdua telah rebah di lantai galeri, tepat di bawah jejeran bunga baby breath dan berpot-pot anggrek.

Arman dan Dewi menyatu dalam ritual cinta yang paling memabukkan. Sebuah perayaan atas kebebasan menjadi manusia dan wujud syukur pada semesta yang memberi celah untuk dua insan bercinta.

Dewi kaget dan tertawa saat satu pot anggrek jatuh karena tersenggol tangannya.

"Tampaknya, besok Rita dan Nona juga harus membereskan ini." Kata Arman di sela-sela pagutannya.

"Ya, juga dekorasi tadi. Abang bayar mereka untuk ngeberesin dekorasinya juga, kan?" Tanya Dewi.

"Forgot and I don't care." Lanjut Arman dengan napas yang kian berat.

"God, tampaknya aku harus menaikkan gaji mereka bulan ini." Timpal Dewi.

"Ssst..." kata Arman. Bibirnya menutup bibir Dewi. Pertanda semesta saat itu adalah mereka dan yang lain tak dipedulikan lagi.

[Lanjut membaca episode 9]

Comments