Abu [Eps 9]
Ini adalah malam kelulusan Arman. Tujuh tahun lamanya ia habiskan di pesantren ini dan besok ia akan memasuki fase hidup yang baru. Ia berencana untuk melanjutkan pendidikannya ke universitas. Itu juga didorong oleh perasaan ingin meninggalkan Panyabungan. Kuliah di mana pun, yang penting keluar dari Panyabungan. Tak ada lagi yang tersisa baginya di kota ini. Apalagi neneknya sudah meninggal dunia tahun lalu. Dongan? Oh, lelaki itu sudah tak pernah muncul lagi sejak lulus empat tahun lalu. Terlalu banyak yang ingin ia lupakan di kota ini.
Sebagai modal kuliah, uang hasil penjualan dua petak sawah warisan neneknya ia pakai. Rumah neneknya tak ia jual. Selain itu, ia juga masih punya tanah dan rumah peninggalan orang tuanya. Ia tetap mempertahankan ketiga warisan itu agar kelak ia tetap punya tempat untuk pulang. Kalau-kalau ia gagal di rantau.
Sejak tadi siang, gosip yang mengatakan bahwa semua santri lulus sudah tersebar. Ada juga kabar lain yang mengatakan bahwa tahun itu adalah rekor baru untuk penerimaan santri pesantren itu di kampus-kampus Arab teluk. Mulai dari Lebanon, Arab Saudi hingga Mesir. Jamal, mantan teman sekamar Arman di tahun-tahun pertamanya di pesantren ini, bahkan diterima di Al Azhar dengan beasiswa penuh. Jamal menyambung tradisi senior-seniornya yang tak pernah putus untuk kuliah di sana, tiap tahun.
Sejak awal Arman tak berminat untuk kuliah ke sana. Ia tak mengisi formulir yang diberikan uztaz. Ia ingin kuliah di Indonesia saja. Mungkin di Bandung, Jakarta atau Medan. Jamal menyarankannya untuk kuliah di Medan saja. Selain dekat, juga karena tiap tahun ia akan berkesempatan untuk bertemu dengan Jamal kalau lagi mudik.
Pengumuman kelulusan malam itu semarak dengan penampilan dari anak-anak nasyid dan drama. Kepala pesantren dengan semangat menaruh bangga pada angkatan tahun ini. Nada bicaranya keras dan lantang, hingga kau tak akan percaya kalau suara sebising itu datang dari uztaz yang amat uzur. Semua orang menghormatinya. Itu yang mungkin membuat tak ada yang berani menertawai gaya bicaranya yang lucu.
Setelah acara selesai, Jamal mengajak Arman untuk pulang ke pondok. Arman menolak karena ia sedang menunggu salah satu uztaz untuk meminta arahan soal pilihan kampus dan jurusannya. Jamal pun pulang sendirian. Arman dan Jamal memang kembali tinggal bersama setelah Dongan lulus. Dongan juga berbaik hati membayar sewa pondok hingga Arman lulus.
Setelah urusannya selesai, Arman langsung menuju pondok. Dari jauh, Arman melihat Jamal sedang berbincang dengan seseorang. Beberapa langkah kemudian, Arman pun tahu kalau yang tengah berbincang dengan Jamal adalah Dongan.
Langkahnya melambat, napasnya berat. Banyak hal berkecamuk di benak Arman. Mulai rasa tak percaya, kaget, amarah, kesal, lega, rindu. Arman menarik napas dalam-dalam untuk menguasai diri dan menutupi keterkejutan di wajahnya. Dongan belum menyadari kedatangannya.
"Hai, bang." Sapa Arman.
Dongan menoleh dan tersenyum. Senyuman itu sesungguhnya amat Arman rindukan. Ratusan malam ia habiskan untuk melupakan senyum itu. Sejak Dongan lulus dan tak kunjung pulang ke Panyabungan lagi. Tapi, malam itu, lelakinya pulang.
"Walaikum salam." Balas Dongan.
"Ya. Seharusnya tadi aku bilang." Lanjut Arman.
Penampilan Dongan kini berbeda. Ia kini mengenakan jubah hingga di atas mata kaki dan sorban melilit kepalanya. Sebetulnya ia tak kaget karena banyak juga santri di pesantrennya yang berpenampilan serupa. Tapi, kebanyakan dari mereka setelah lulus akan kembali berpakaian biasa. Dagu Dongan kini hilang dibalik bulu-bulu jenggot.
Jamal berbicara.
"Tadi bang Dongan nonton acara kita, loh. Cuma kita enggak lihat aja. Soalnya bang Dongan duduk di depan dan tampilannya sudah beda." Ya, sepertinya Jamal juga menangkap hal yang sama dengan Arman. Namun, bagi Arman, Jamal tak menangkap intinya yaitu Dongan terlihat berbeda bukan sekadar pada penampilannya saja. Perubahan itu jauh lebih dalam. Sesuatu yang tentu saja tak dimengeti olehn Jamal dan hanya dimengerti olehnya.
"Jamal bilang dia mau lanjut ke Al Azhar juga. Nanti samalah kita di sana." Timpal Dongan kepada Jamal. Dan Jamal mengangguk dengan antusias sebelum akhirnya pamit untuk mengepak beberapa barangnya yang tersisa.
Tinggallah Arman dan Dongan berdua saja. Mereka memilih untuk berbincang di sebuah bangku panjang di pojok depan pondok.
Dari cerita Dongan, Arman tahu kalau abangnya itu pulang menjemput kedua orang tuanya untuk menghadiri wisudanya di Mesir. Setelah acara wisuda selesai, ketiganya akan umroh.
"Jamal bilang, kamu bakal kuliah di Medan. Benar?" Tanya Jamal.
"Iya, bang. Cuma belum tahu ngambil apa dan di kampus mana."
"Usahakan negeri biar lebih murah."
Arman mengangguk pelan. Sesungguhnya hati Arman menggerutu. Ini bukanlah cara bertemuan kembali yang ia harapkan. Setidaknya bukan dengan sosom Dongan yang terasa berjarak ini. Bahkan tak sekalipun Dongan menyinggung ke arah hubungan di antara keduanya. Sementara Arman merasa itu perlu dibahas. Tak usah banyak, sedikit pun jadi. Apa yang terjadi di antara mereka, berdua bertahun-tahun silam, bukanlah sesuatu yang bisa begitu saja dilupakan. Apalagi mereka berpisah hanya karena Dongan lulus dan tak ada kata berpisah untum hubungan mereka.
Di sisi lain, Arman juga bimbang karena tak ada ikrar untum hubungan mereka juga. Semuanya berjalan sesuai kehendak semesta. Mengalir tanpa bisa disetir semau jidat. Ia hanya berharap apabila bertemu kembali dengan Dongan, sosok itu tetaplah sama. Sosok yang berbicara ceplas-ceplos dan punya naluri melindungi. Walau pada akhirnya yang Arman temui sekarang bukanlah demikian. Dongan berubah. Mungkin hanya naluri melindunginya saja yang tertinggal. Mungkin. Arman pun tak terlalu yakin lagi.
Banyak orang bilang waktulah tempat sampah dan obat segala rasa. Dalam waktu semuanya bisa dilupakan. Lewat waktu rasa pedih menemukan penawarnya. Waktu ditambah jarak mungkin bisa mengubah seseorang. Ya, bisa jadi. Begitu benak Arman. Bukankah orang-orang berubah?
Sosok Dongan kini di mata Arman tetaplah mempesona. Kalaulah Dongan melihat lebih dalam ke mata Arman, di balik kecewa itu ada lega sebab harapan berujung temu. Namun, Arman ragu Dongan bisa melihat sejauh itu. Ia juga ragu Dongan melihat kecewa di permukaannya. Dongan kini adalah tipikal orang yang ingin kau ajak makan malam berdurasi satu-dua jam, bukan untuk nongkrong semalam suntuk.
Sebelum pulang, Dongan meminta Arman mengantarnya hingga ke parkiran mobil. Mereka kembali berbincang. Suasana kikuk itu masih amat terasa.
"Kamu sehat, kan?" Tanya Dongan. Dari semua pertanyaan di dunia ini, Dongan hanya bisa muncul dengan itu?
"Sehat, bang." Jawab Dongan tanpa sedikitpun mencairkan kekikukan di antara keduanya.
"Aku tahu dari Jamal, nenekmu sudah meninggal. Abang turut berduka."
"Terima kasih, bang." Arman hanya menjawab singkat.
"Abang enggak lama di sini. Besok kita sekeluarga akan ke Bandung. Ada acara syukuran kecil-kecilan di rumah kakak. Dari sana kita bertolak ke Mesir." Lanjut Dongan.
Arman mengangguk pelan. Gelagatnya mengatakan ia paham dan mengerti. Bagi Arman, jarak dari pondok ke tempat parkir ini rasanya berubah jauh sekali. Sebelah hatinya ingi semua kekikukan ini cepat berlalu, walau sebelah hatinya juga ingin Dongan tetap di sini. Lebih-lebih Dongan yang dulu bisa muncul.
Dongan kembali memecah sunyi yang dalam di antara keduanya.
"Kamu harus belajar sungguh-sungguh saat kuliah nanti. Abang saja rencananha lanjut S2 ke Inggris. Alhamdulillah abang dapat beasiswa."
Arman kembali mengangguk.
"Kalau abang pulang nanti, abang boleh, kan, cari kamu?" Telisik Dongan.
Itu dia. Inilah yang ditunggu Arman dari tadi. Celah kepada masa lalu mereka.
"Abang kapan pulang lagi?" Arman akhirnya buka suara.
"Belum tahu." Jawab Dongan.
Begitu saja. Lalu mereka pun berpisah. Tak ada lagi Dongan di hidup Arman. Arman tahu betul itu. Ia sudah terbiasa dengan perpisahan yang menyedihkan. Ia terlatih karena ditinggal kedua orang tuanya, juga terakhir oleh neneknya. Ia juga sudah pernah merasa ditinggal Dongan empat tahun lalu. Dan setelah ia bertanya tadi, harapan untuk bersatu kembali seperti dulu itu akan kecil. Walau bertemu kembali sekalipun.
Arman hanya menyisakan sedikit harapan untuk Dongan. Ia menunggu.
Dan menunggu.
Terus menunggu.
Namun, Dongan tak pernah muncul atau menyapanya dalam bentuk dan lewat apapun. Bahkan sudah lama Dongan tak muncul di mimpi tidurnya.
Arman kemudian membuka hati pada junior di kampusnya. Kepada perempuan bernama Dewi itu ia sematkan harapan. Perempuan itu memberinya cinta. Arman sangat butuh cinta.
Semesta menyatukan cinta keduanya dalam persekutuan suci: pernikahan.
Semuanya berjalan mulus dan lancar hingga akhirnya Dongan muncul kembali lima belas tahun kemudian. Lelaki iti muncul begitu saja dan Arman tak siap dengan itu. Bibir Arman boleh berkata ia sudah selesai dengan Dongan. Tubuh Arman boleh bersikap tak ada lagi yang kuharapkan dari Dongan. Otak Arman boleh memaksakan semua hal di masa lalu itu tinggal kenangan.
Namun, pada pertemuan kembali itu, ia luluh. Sesuatu yang tak selesai di anatara keduanya menyeruak ke permukaan. Muncul seperti tunas yang timbul dari dalam tanah. Mencari cahaya, mencari hidup. Mencari makna dari sesuatu yang tak selasai itu.
Arman lega Dongan pulang. Walaupun sudah bertemu Dewi, rupanya harapan kecil yang ia sisakan untuk Dongan tetap hidup jauh di dalam hatinya. Ia bahkan tak menyadari itu. Hanya butuh sebuah sapa dari Dongan dan harapan itu menyala lagi. Arman larut dalam sukacita. Arman larut dalam romansa nostalgia sosok Dongan yang dulu dan muncul serupa kembali. Ia lebur di dalam Dongan. Dongan lebur di dalam Arman.
Tetapi, euforia itu tak berlangsung lama. Arman tahu ia lega dan gembira dengan Dongan. Namun, ia tak merasa dilengkapi. Arman merasa justru kedatangan Dongan membuat lubang besar nan hampa di hatinya. Dongan yang pulang bukanlah tempatnya untuk berpulang. Ia punya Dewi.
Dan Arman sadar, pada perempuan yang menjadi istrinya itulah tempatnya berpulang.
Arman mencintai Dongan, hanya saja sekarang ia tak seyakin dulu. Hatinya dipenuhi cintanya Dewi. Dan itu ternyata cukup.
Pada pelukan terakhirnya kepada Dongan, ia uraikan semua rasanya. Dongan menangkap getaran itu dan menatap mata Arman. Donga tahu, di mata itu tak ada lagi dirinya.
Dongan menyudahi pelukannya. Ia tahu detik itu ia telah kehilangan Arman untuk selamanya.
Arman tahu, detik itu ia sudah menyelesaikan semua yang tak selesai di masa lalu antara ia dan Dongan.
Tapi, Arman terlambat. Ia juga sudah kehilangan Dewi.
***
Jelita dan Talu menemani Mia ke Bali untuk mengurus galeri dan menengok kedai kopi Doli. Ini adalah balasan atas pertolongan Mia karena sudah mengasuh Talu ketika di Jakarta kemarin.
"Mengapa kamu yakin menikahi bang Gogo?" Tanya Mia kepada Jelita ketika mereka menikmati matahari terbenam di pantai Kuta.
"Aku yakin saja." Jawab Jelita pendek. Mia jelas tak mengharapkan jawaban sependek itu. Ia butuh penjabaran.
"Aku cuma merasa dengan semua drama keluarga mereka, sempat terpintas di benakku untuk, kamu tahu, untuk berhenti dan melihat semua ini kembali." Lanjut Mia.
Jelita bangkit dari rebahnya. Ia menatap Mia.
"You love Doli, don't you?" Tanya Jelita.
"Of course, I love him." Jawab Mia.
"Apa dia pernah menyakitimu?" Tanya Mia lagi.
"No. Dia enggak pernah menyakitiku. Dia pernah enggak berkabar dulu, tapi itu enggak masuk kategori sakit, sih. Itu cuma bumbu-bumbu lah." Jawab Mia lagi.
"Do you believe him? Are you happy to be with him? Apakah kamu tetap bisa jadi dirimu sendiri saat bersamanya? Kalau jawabannya adalah iya. Maka Doli pantas untuk kamu jadikan belahan jiwamu."
Mia tersentak. Ia merapal iya pada setiap pertanyaan Jelita.
Setelah menyelesaikan segala urusan di Bali, ketiganya kembali ke Panyabungan. Doli sudah menunggu di Bandara Aek Godang. Dua jam perjalanan dari bandara menuju Panyabungan mereka habiskan dalan tawa dan nyanyian. Talu bercerita soal Bali dan menaruh kekaguman khusus pada Leak dan Tari Kecak. Mereka tertawa mendengar ulasan bocah ingusan itu.
Sesampainya di Panyabungan, mereka tak beristirahat lama di rumah mendiang Arman. Gogo sudah mempersiapkan banyak benda dan makanan untuk dimasukkan ke dalam mobil. Sebelum siang, mereka berkendara ke rumah pantai milik mendiang Arman di Batahan. Ishak sudah menunggu di sana.
Perjalanan yang seharusnya memakan waktu empat jam itu harus ditempuh selama tujuh jam. Mobil itu mogok di pertigaan antara Natal dan Batahan. Mau tak mau Ishak harus menunggu mereka di Sinunukan, ia khawatir rombongan itu akan kesulitan menemukan rumah pantai itu saat gelap tiba.
Sepanjang perjalanan dari Sinunukan, kiri-kanan jalan terbentang hutan sawit. Jalan itu seolah membelah belantaranya. Sesuatu yang sebetulnya tak jamak dilihat Gogo dan Doli saat mereka bertumbuh di Panyabugan. Wilayah itu tak seperti di Mandailing.
Belantara sawit itu kini menipis seiring mereka memasuki Batahan. Dari Kota kecamatan itu, mereka berbelok ke arah kiri dan melewati hunian suku pesisir. Angin yang kering beraroma garam memenuhi udara. Aroma itu berganti bau laut dan debur ombak seiring rimbun cemara mengambil alih pemandangan kiri dan kanan. Jalanan juga sudah berubah pasir dan bebatuan dan kian menyempit. Sesekali pantai yang menghadap Samudera Hindia menyembul di balik vegetasi cemara. Sepotong senja menggantung di ujungnya.
Dari jalanan di pinggir pantai, iring-iringan dua mobil itu berbelok ke arah bukit. Gogo penasaran mengapa ayahnya memilih tempat ini untuk lokasi rumah pantainya. Tak tertulis alasan itu di buku harian ayahnya. Mereka tiba hampir pukul delapan malam. Jelita membangunkan Talu yang bolak-balik tidur entah untuk kali keberapa. Gogo menggendong anaknya itu untuk turun dari mobil.
"Holly molly... This is great!" Celetuk Doli saat mengamati penampakan rumah pantai mendiang Arman dengan jelas.
Tak ada yang merespon celetukan Doli. Tapi, semua setuju kalau rumah bergaya tropikal modern ini keren. Sesuatu yang tak terduga dari Arman sekali, sebetulnya.
Rumah pantai itu bergaya tropis modern dengan dinding-dinding beton berwarna putih menjulang dan bukaan-bukaan yang membuat lega. Gogo dapat membayangkan, siang hari akan sangat keren dan tak perlu banyak cahaya lampu karena sinar matahari akan masuk dengan leluasa.
Pada beberapa titik, aksen kayu membuat kontras dari dinding yang pucat. Senada dengan parket solid di lantainya. Gogo yakin parket itu dari kayu jati. Di lantai satu, dinding kaca transparan mendominasi satu sudut yang mengarah ke halaman di samping. Dinding kaca serupa juga ditemukan di lantai dua dan di kamar utama. Bahkan di kamar utama, dari dinding kaca itu bisa melihat dasar kolam renang di areal balkon. Kolam renang yang seolah tanpa sekat itu menyatu sempurna dengan lautan nun di latar belakang.
"Aku enggak tahu ayah sekaya ini." Ujar Doli.
Gogo tersenyum.
Malam itu, setelah menyantap makanan, mereka pun beristirahat.
Pada pagi harinya, Jelita langsung sibuk menyiapkan sarapan. Talu membantu atau lebih tepatnya mengganggu Ishak yang tengah membersihkan dasar kolam renang. Mia mempersiapkan meja makan. Sedangkan Gogo juga sibuk membersihkan banyak sudut di rumah itu. Doli? Batang hidungnya tak kelihatan.
"Aku pikir kamu lebih cocok jadi perangkai bunga," ucap Gogo kepada Mia saat ia bergabung dengan Jelita dan kekasih Doli itu di dapur. Ruang makan tempat Mia menata meja dan dapur tempat Jelita mengolah bahan mentah itu hanya dibatasi partisi kayu sehingga memberi kesan tersekat. "This is beautiful." Lanjut Gogo. Mia menata peralatan makan dan menambahkan bunga dan dedaunan yang ia petik dari halaman.
"Hmm. Kamu belum lihat baju rancangannya. One word: memukau." Timpal Jelita dari stasiun masaknya. "Kopi?" Tanya Jelita kepada Gogo.
"That would be great!" Jawab Gogo.
"Bagaimana kalian bertemu?" Tanya Mia kemudian.
Jelita yang menjawab setelah prosesi tatap-menatap antara dia dan Gogo.
"Kayaknya aku sudah cerita, deh. Kita ketemu pertama kali saat aku jadi dosen dia." Ucap Jelita.
"Maksudnya pacaran kalian bagaimana?" Lanjut Mia.
"Well, kita ngobrol di perpustakaan kampus..." Jelita mulai bercerita.
"Boring!" Ejek Mia.
"I told you. Kisah kita enggak romantis." Ujar Jelita lebih kepada menyalahkan Gogo. "Not even mention that I was the ons sho crossed the line first."
"You did?" Tanya Mia. Matanya terbelalak dan mengejek Gogo.
"Iya. Padahal Gogo anak hukum. Harusnya pandai ngoceh, dong." Jelita menambahkan.
"Okay, tapi aku duluan yang nembak kamu." Gogo merasa cukup dibombardir istrinya. Ia perlu membela diri dan menaikkan martabatnya.
"Itu sesudah aku kasih kode, like a thousand times!" Balas Jelita.
Dan martabat itu makin runtuh.
"Paling tidak aku tahu kalau kamu ngejar-ngejar aku." Kilah Gogo.
"Oh my God!" Respon Jelita sambil melempar lap tangan ke arah Gogo. Mia tertawa terpingkal-pingkal.
Doli masuk, ia rupanya baru selesai lari pagi.
"You look so... hot." Ucap Jelita kepada Doli. Gogo memutar kedua bola matanya.
"Finally somebody notice!" Ucap Doli sambil terus berpose.
"Kamu mau bilang kalau aku selama ini enggak notice kamu hot." Respon Mia sambil menekankan kata hot.
Doli senyam-senyum.
"It's okay Doli. Jelita saja baru bilang aku hot setelah Talu lahir." Gogo mencari teman dan berharap Doli di pihaknya setelah ia dibombarbir dua perempuan itu.
"Talu, Om Ishak. Yuk sarapan!" Teriak Jelita kemudian.
Tak berapa lama kemudian, mereka semua sudah berkumpul di meja makan.
"Gimana, Doli. Kamu sudah memikirkan soal mengurus bisnis kopi bapak?" Ishak merasa perlu mengonfirmasi itu.
"Belum, om." Jawab Doli singkat.
"I think it's good. Karena kamu tahu banyak juga soal kopi." Timpal Jelita.
"Aku masih mau stay di Bali." Lanjut Doli.
"Ya, enggak masalah." Kata Ishak. "Kamu gimana, Go?"
"Aku pasti bantu, lah. Cuma Doli harusnya yang lebih paham." Jawab Gogo.
Doli hanya mengangguk pelan.
"Kayaknya lagi pada malas bahas bisnis kopi bapak, deh, om." Ucap Mia meredam kekikukan.
"Iya. Tapi harus tetap kalian pikirkan. Satu lagi," ucap Ishak. Semua orang menanti apa yang akan Ishak katakan. "Om nemu catatan di sini kemarin. Dari bapak untuk ibu." Lanjutnya.
Semua orang saling tatap. Dan tentu, tak ada yang lebih penasaran dibanding Gogo dan Doli. Terlebih Doli.
[Lanjut membaca episode terakhir]

Comments