Bokek [Eps 3]


Daniella membukakan pintu salon. Aku tahu dia bakal kaget melihatku sepagi ini sudah nongol di salonnya.

"I am sorry, I don't know where to go." Kubilang.

"It's okay, I was about to wake up. Come in."
Ucapnya. Wajahnya kacau sekali, dan ada bekas bantal di pipinya. "Aku cuci muka dulu. Tumben jam segini udah main kemari." Lanjut Daniella saat kami sudah di dalam salonnya.

"Ya..." aku tak yakin harus merespon seperti apa. Daniella hilang di balik dinding pembatas salon dan bagian tengah ruko yang ia jadikan rumah juga.

Tak berapa lama dia muncul lagi.
Daniella berdiri diam menatapku. Aku tahu dia sedang menilai apa gerangan yang terjadi padaku. Aku yakin dia pasti akan tahu tanpa perlu kubilang. Daniella amat sensitif, ia bisa melihat perubahan suasana hatiku atau Boy sehalus apapun itu.

"Oh God." Lihat! sudah kubilang, Daniella pasti tahu. "Berantem sama Mom lagi?" Tanyanya.

Kupikir dia tahu.

Aku menggeleng.

"Come on, you can tell me everything." Lalu wajah Daniella berubah dari ekspresi I-listen-to-you menjadi eskpresi what-the-fuck-tell-me-more-about-it yang super ngeselin. "Kau mimpi basa sama Mom?"

"Shut up!" Kubilang. What? Aku terlalu tinggi menilai anak ini.

"Well, I know it's kinda weird. But, it happens to people. Dulu aku pernah juga. Tapi pamanku. Itu karena, you know, hormone, stress, wildest dream coz I adore him, excitement for a lil adventure. What I am about to say is, it is that normal, kayak kau mimpi basah dengan musuh dunia nyatamu."

Oh God. I need to tell her the truth before it's getting worse and worse.

"Aku dipecat."

Daniella tentu kaget. Ekspresi super umum yang akan diberi oleh siapapun kepada temannya yang baru kehilangan pekerjaan. Biar kutebak. Setelah ini dia akan menguasai diri lalu akan melakukan gestur, ini bukan akhir dunia dan akan bilang ini akan baik-baik saja.

Apa yang kurasakan ini tidak akan baik-baik saja.

"Gimana kau mau bayar cicilan parfummu? Ahh nomboklah aku ini." Ucap Daniella.

Well, I didn't expect that.

"Ella!"

"Just kidding. Of course you still have to pay your debt. But I'm so sorry to hear that. It must be awful."

"Ya. That's all I have."

"Tapi kok bisa, ada anak honor yang gantiin kau?" Tanya Daniella.

"Mereka nutup perpus."

"Holly shit! Sekarang mereka menutup satu-satunya peradaban modern di Natal?"

"Modern kepala kau." Jawabku. "I don't know what to do." Lanjutku.

"Do you need a hug?" Tawar Daniella.

"Not from you, thank you."

"Nyet. Well, you can stay here as long as you want and we'll figure it out later. I mean we are in this, bad and good."

"Thank you. Now I am going to hug you." Kubilang.

"No, your shit is contagious. I don't wanna hug you." Ejek Daniella.

"You hear that?" Tanyaku.

"What?" Jawab Daniella. Ia terlihat bingung.

"Your asshole is jealous since your mouth come up with a better shit."

"Look at you! You're back in the game."

Kami berdua tertawa. Daniella selalu bisa diandalkan.



"Selamat pagi makhluk-makhluk minoritas!"

Aku dan Daniella melongok ke arah pintu salon dan melihat Boy nongol dengan termos esnya.

"Oh iya, kau," ucap Boy kepadaku, "sudah resmi keluar dari kelompok minoritas, congratulation, karena kau jadi pengangguran."

"Kok, kau tahu?" Responku.

"Dude, this is tiny town. And people have been waiting for this day like a whole life. Most of them do not give a fuck about your shitty library. Well, I do care, but mojority always wins." Ucap Boy tanpa ba-bi-bu sambil menyusun es lolinya yang konyol ke freezer milik Daniella untuk dijual di salon itu.

"Aku harap Mom-mu belum dengar ini." Tambah Daniella.

"Bang!" Kami bertiga menoleh ke pintu salon. "Mom nungguin abang di rumah."

That kid!

"Bukannya kau sudah berangkat?" Tanyaku kepada Ali.

"Harusnya. Tapi aku mampir bentar ke mari. Hp kau enggak aktif pula. Mom minta abang pulang."

"You told Mom?"

"Good bye! Bang Boy, Miss Daniella!" Ucap Ali tanpa menghiraukan pertanyaanku sedikitpun.

"Be safe handsome!" Jawab Daniella.

"Uhh, Perang Dunia ke III lah ini di rumahmu." Ejek Boy.

"You're a dead body!" Timpal Daniella.

"Thank's, guys." Ucapku terus langsung pergi.

                               ***

Masalah lain dengan Mom. Dua kali di Senin yang menakjubkan ini. Spektakuler.

Aku enggak terlalu takut sebetulnya untuk menghadapi Mom. Hanya saja aku benci dengan kenyataan harus berurusan dengan Mom soal pekerjaan, terlebih soal urusan kehilangan pekerjaan. Dapat kubayangkan kata-kata, ceramah, atau arahan untuk-masa-depan-yang-lebih-baik tentu saja dengan serangkaian kalimat menyudutkan yang bikin hati panas dan ciut sekaligus. Aku benci ketika Mom betul menilai kelemahanku atau nasib buruk yang tengah menimpaku.

Mom dulu habis-habisan menentangku bekerja di perpustakaan dan memintaku untuk membantunya di warung makan. Aku bisa bayangkan nanti Mom pasti akan mengungkit itu. Membuatku makin merasa buruk. Aku mau meyakinkan diriku kalau hidupku baik-baik saja, tapi kenyataanya hidupku sedang tidak baik-baik saja. Ditambah semua orang di Natal pasti menertawakanku sekarang. Yang lebih buruk lagi, mereka merasa sedih akan penderitaanku.

Luar biasa, Mom sedang duduk di teras waktu aku tiba di rumah. Dia pasti semangat sekali untuk mengomeliku.

Mom mengisyaratkan untuk masuk ke dalam rumah. Aku turut tanpa membantah. Mom pun menyusul di belakangku.

"Mom sudah tahu kau dipecat." Ucap Mom langsung.

"Ali yang ngasih tahu?"

Mom menggeleng.

Ya, pasti dari para tetangga. This is a tiny town, again, again, and again.

"Kali ini kau harus dengarkan Mom. I don't wanna hear a shit."

Okay, ini mulai terdengar aneh, tapi masih terasa Mom banget.

"Ikut Mom ke rumah Wak Kaya."

"Mom mau minta aku kerja di grosir dia? Thank you very much." Aku jelas harus membantah ini. Mengemis pekerjaan kepada Wak Kaya sama saja dengan memberi tahu satu Natal kalau aku adalah orang paling menyedihkan di kota ini. Hampir semua pemilik warung-warung kecil di Natal ini belanja di grosir Wak Kaya dan aku yakin betul kalau Wak Kaya akan bilang ke pelanggannya, oh lihat itu Damar mantan pegawai perpustakaan dan dia kupekerjakan setelah Mom-nya memohon-memohon kepadaku. Hell no!

"Mom enggak bakal minta kau kerja di gosirnya. Kita bakal minta kontak anaknya, Yudi." Lanjut Mom.

Even worse. Yudi? No way, dia itu orang paling munafik dan songong yang pernah kukenal. Lagian Mom mau minta apa ke Yudi. Anak songong itu bahkan sedang tidak di Natal.

"Mom, aku lagi pusing. I need to... I don't know, accept this, enjoy this, looking for the silver lining. Please!" Kubilang.

Mom menghela napas.

"Mom enggak mau bertengkar sama kau." Ucap Mom. "Kita kontak Yudi untuk mendesain warung makan Mom, sudah saatnya kau bantu Mom di warung dengan, buat warung lebih kekinian. You know, I can't do that. And we need a professional help."

Baiklah, ini bukan Mom. Sesuatu pasti merasukinya. Aku tidak suka bekerja di warung Mom. Tapi aku enggak punya pilihan lain. Dan mendengar warung mau dibuat lebih keren kayak kekinian. Well, may be, just may be it is a good start for me.

"Kita enggak butuh bantuan Yudi untuk mendesain warung. I can do that." Ya aku yakin.

Mom terlihat tak yakin.

"All I need to know is what is your plan?" Lanjutku.

Mom terlihat menimbang-nimbang perkataanku. Bibir Mom mengerucut. Lalu Mom mendekat ke arahku. Sebelah tangannya merapikan rambutnya dengan menyelipkannya ke belakang telinga.

"I can not believe I'm telling you this. Do whatever you want. I give that now to you." Ucap Mom.

Holly shit.

"You gotta be kidding me!"

Mom tal bergeming. Berarti Mom serius. Aku tak peduli mengapa Mom tiba-tiba berubah jadi suportif begini yang jelas aku tak perlu khawatir soal pekerjaan lagi. Aku akam memulai bisnisku sendiri! Apa yang lebih baik dari ini?

"Thank you, Mom."

Mom mengangguk. Ia mendekat dan memelukku. Well, Seninku tak seburuk yang kukira.

"I just realize, may be I need to take a day off atau mungkin pensiun." Ucap Mom.

"Hmmm. It's not like you." Kubilang.

"Mom juga masih pikir-pikir. But I will help you with the money."

"Thank you, Bunda Ratu." Aku memeluk Mom seolah dua pertengkaran kami pagi tadi telah sirna.

"You better come up with something good!" Ucap Mom dan dia pamit hendak menggosip dengan tetangga. Sesuatu yang Mom sangat ingin lalukan dari dulu. Tak sempat karena ia selalu sibuk dengan pekerjaan di warung.

"It's gonna be awesome!"

"Mar," ucap Mom di depan pintu, "You understand what's going on here, right?" Lanjut Mom.

"Ya." Kubilang, sedikit ragu. "I must do the best." Karena aku tak punya pekerjaan lain. Walau warung bukan impianku, tapi ini bisa jadi awal yang baik. Apalagi aku diberi kebebasan mengelolanya. Ditambah modal yang sudah tersedia.

"Ya, itu artinya kau juga harus siap mencari uang kuliah adikmu. Of course it comes with a rider." Mom tahu aku tak punya pilihan dan sadar betul akan hal itu.

"Come on!"

"What? I'm too old for work!" Dalih Mom.

"You're not that old!"

"I am."

"Oh, Mom. You are a jerk!"

"Mom anggap itu pujian sekaligus penyanggupan. Bye, son!"

                               ***

Aku kembali ke salon milik Daniella. Kabar sebaik ini tentu tak boleh mereka lewatkan. Apalagi aku yakin kalau sebenarnya mereka khawatir dengan keadaanku.

"Satu: ini mengejutkan. Mom dari dulu memang minta kau untuk bantu ngurus warung makannya, tapi ini dia menyerahkannya ke kau. Itu membuat dugaan keduaku lebih masuk akal. Mencurigakan. I don't know it feels wrong like reading Indonesia'a independence history." Ucap Daniella.

"Aku pikir kau bakal senang kalau akhirnya aku tak perlu lama-lama menganggur. Lagian apa hubungannya sama sejarah kemerdekaan Indonesia?" Kubilang.

"Kau tahulah, kemerdekaan tahun 45. Di buku-buku, kan, dibilang kita merebut kemerdekaan. Padahal kalau melihat konteks Perang Dunia saat itu, kemerdekaan kita dikasih sama Jepang sebagai imbas dari kekalahan mereka setelah dibom atom. Tapi, aku percaya kalau pahlawan kita memang benar-benar memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan memanfaatkan momentum jatuhnya Jepang buat merdeka."

"Kenapa kau enggak bilang it was the time. The right time. Like what I'm feel now. May be it is the time. My time. Enggak perlu curiga-curiga." I think I have to stand for my mom.

"What do you want? I mean what is your dream job?" Lanjut Daniella.

Daniella menyebalkan. Aku hanya ingin bilang kalau aku sudah punya pekerjaan dan tidak menganggur. Ini adalah pekerjaan yang bisa, well, membayar tagihan atau biaya hidup. I mean dream job? Berapa banyak orang yang bisa bekerja sesuai dengan maunya? Atau apa Daniella benar-benar akan kerja di salon kalau dia dulu menyelesaikan sekolahnya. I mean, what is the point?

"Apapun asal dapat duit." Aku realistis.

"Bagaimana dengan rencana galeri perhiasanmu? Dulu itu, loh, impianmu. Mengapa kau enggak buat usaha itu dibanding kau buka warung makan kekinianmu?

"What about you? Is this your dream job?" Aku balik menanyai Daniella.

"Well, I do what I like."

"Mungkin karena itu salonmu enggak maju-maju!" Kasar enggak, sih? Mungkin sedikit kasar. Tapi, enggak juga. Sudah bertahun-tahun salonnya masih begini saja. Walaupun Daniella sudah bisa beli ruko ini. Tapi, tetap saja dia masih di sini-sini saja. "Dream job? Bullshit! This.. what you are doing, what have been you achieved.. itu bukan karena dream job. Itu karena karena kau mujur dan kerja keras."

"At least, I had gut to be what I want. And you don't have it. Don't get me wrong, I need to say it this way simply because you have to wake up before it's too late."

Kali ini Daniella sudah kelewatan. Aku kagum dengan cara dia hidup dan berjuang sendirian, tapi mengatakan aku tak berani mengambil keputusan membuat kekagumanku padanya luntur.

"I just wanted to share it with you, may be celebrate it, but... I gotta go and... good luck with your dream job." 

"Jangan lupa cari tahu soal alasan Mom ngasih warung ke kau. Is it real love or is she hiding something?"

"You know what, aku sedih melihat kau. Hanya karena kau tak punya keluarga yang mencintai kau, bukan berarti kau bisa seenaknya bilang keluargaku, my mom does not love me. It's not fair." Aku pun pergi meninggalkan Daniella. Dan aku tak merasa perkataanku itu terlalu kasar.

Dia boleh bilang pendapatnya, begitupun aku.

Comments